<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Taman Belajar</title>
	<atom:link href="http://pendidikankritis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pendidikankritis.wordpress.com</link>
	<description>Ruang untuk belajar bersama, menjadi seutuhnya manusia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 09:48:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pendidikankritis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/a1b1ae8ab8426533ec7335fda8d22a75?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Taman Belajar</title>
		<link>http://pendidikankritis.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pendidikankritis.wordpress.com/osd.xml" title="Taman Belajar" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pendidikankritis.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ikan Kaleng (Cerpen Pendidikan)</title>
		<link>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/15/ikan-kaleng-cerpen-pendidikan/</link>
		<comments>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/15/ikan-kaleng-cerpen-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 12:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edi subkhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Perkuliahan (Unnes)]]></category>
		<category><![CDATA[Pedagogi Kritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikankritis.wordpress.com/?p=532</guid>
		<description><![CDATA[Di bawah ini adalah satu contoh cerita pendek tentang pendidikan yang bagus, silakan dinikmati dan dipahami makna kritik pendidikan yang terkandung di dalamnya. Cerpen berjudul &#8220;Ikan Kaleng&#8221; ini ditulis oleh Eko Triono (Kompas, 15 Mei 2011). Terima kasih untuk Mas Rahmat Petuguran atas informasi dan sarannya. /1/ SAM tiga hari di Jayapura; dia guru ikatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=532&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di bawah ini adalah satu contoh cerita pendek tentang pendidikan yang bagus, silakan dinikmati dan dipahami makna kritik pendidikan yang terkandung di dalamnya. Cerpen berjudul &#8220;Ikan Kaleng&#8221; ini ditulis oleh Eko Triono (<em>Kompas</em>, 15 Mei 2011). Terima kasih untuk Mas Rahmat Petuguran atas informasi dan sarannya.</p>
<div class="mceTemp"></div>
<div class="mceTemp"></div>
<div class="mceTemp"></div>
<p><strong>/1/</strong></p>
<p><strong>SAM</strong> tiga hari di Jayapura; dia guru ikatan dinas dari Jawa. Dan, tak mengira, saat pembukaan penerimaan siswa baru buat SD Batu Tua 1 yang terletak sejurus aspal hitam dengan taksi (sebenarnya minibus), ada yang menggelikan sekaligus, mungkin, menyadarkannya diam-diam. Ia tersenyum mengingat ini.</p>
<p>Ketika seorang lelaki bertubuh besar, dengan tubuh legam dan rambut bergelung seperti ujung-ujung pakis lembut teratur menenteng dua anak lelakinya, sambil bertanya, “Ko pu ilmu buat ajar torang (kami) pu anak pandai melaut? Torang trada pu waktu. Ini anak lagi semua nakal. Sa pusing.”<strong> </strong></p>
<p>Sam memahami penggal dua penggal. Dia, seperti yang diajarkan saat <em>micro</em> <em>teachin</em>g, mulai mengulai senyum lalu berkata, “Bapak yang baik, kurikulum untuk pendidikan dasar itu keterampilan dasar, matematika, bahasa, olahraga, dan beberapa kerajinan….”</p>
<p>“Ah, omong ko sama dengan dong (dia) di bukit atas! Ayo pulang!”</p>
<p>Kaget. Sam tersentak, belum lagi dia selesai. Dan ini tak pernah diajarkan di pengajaran mikro. Juga dibuku di tum bab penerimaan siswa baru. Dia pucat; diraihnya segelas air putih.</p>
<p><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/15/ikan-kaleng-cerpen-pendidikan/siswa-papua/" rel="attachment wp-att-533"><img class=" wp-image-533 alignleft" title="Sekolah di Papua" src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/siswa-papua.jpg?w=360&#038;h=270" alt="Sekolah di Papua" width="360" height="270" /></a>Pendaftar pertama memantik rasa sabar dan sesuatu yang asing dalam dirinya. Ia bersabar menunggu detik berikutnya dari lepas pukul sembilan. Ia mengelap lagi wajahnya. Di meja pendaftaran samping, kosong, Tati belum datang. Cuma ada Markus, Waenuri, dan Tirto—teman sekelasnya yang sedang betugas masing-masing di ruang lain; mulai dari siap berkas, mencatat kebutuhan anggaran, dan menyiapkan papan tulis. Bismillah, ia mengharap, tepat ketika sebarisan orang-orang legam bertelanjang kaki menjejaki halaman setengah becek bertanah merah, dilatari sisa-sisa alat berat dan bekas pengadukan material bangunan itu.</p>
<p>Dan syukurlah, meski dengan penjelasan yang tak kalah berat; setidaknya, tak ada yang seperti orang pertama. Begitu seterusnya sampai Tati tiba membantu. Tapi ia masih penasaran, siapa sebenarnya orang itu. Ia coba mencari tahu, hasilnya, ternyata lelaki pertama tadi adalah kepala suku Lat, berada di sekitar pantai sebelah kanan, menembus seratusan rengkuh dayung untuk sampai di kampungnya yang ada di laut. Kira-kira begitu kata orang-orang yang juga ada berasal dari sana.</p>
<p>“Trada perlu risau, dong itu memang keras kepala,” kata si penjelas itu sambil berbisik bisik, takut ada yang melaporkan omongannya.</p>
<p><strong>/2/</strong></p>
<p>Hari tadi tercatat dua puluh satu siswa mendaftar jadi angkatan baru, sekaligus kelas baru buat sekolah itu. Usia mereka beragam. Hari berjalan, minggu silih berganti, dan bulan menumpang tindih. Tepat memasuki bulan Agustus, keganjilan itu muncul kembali. Meski sebelumnya pernah terjadi, tapi kali ini semakin sering.</p>
<p>Dua anak itu sering muncul di halaman. Mereka nampak memandangi sesuatu yang mungkin aneh baginya. Teman-teman lain menhadapi sebuah tiang dengan bendera dua warna. Berbaris lalu menyanyi-nyanyi. Dari sini, Sam merasa iba. Ia dekati. Dan tahu betul, mereka itu yang tempo hari dibawa oleh kepala suku Lat.</p>
<p>“Kenapa kalian, ingin seperti mereka?”</p>
<p>“He-eh….” yang satu mengangguk. Ia menatap teman-temannya yang menyanyi-nyayi bersama itu, dari sana terbalas, dua tiga melambai ke mereka yang ada di dekat jalan depan sekolah itu.</p>
<p>“Apa ko ini Do! Trada boleh!! Bapa ade bisa marah.”</p>
<p>Mereka kemudian menjauh, menurun di bukit-bukit kecil bercadas, berkelok, samar dan hilang bersama suara angin dan pemandangan hijau hutan juga beberapa rumah penduduk dan sekali dua waktu minibus berlalu dengan muatan penuh.</p>
<p>Sam memutuskan sore nanti ia akan mengunjungi rumah anak-anak itu dan memberikan semacam penjelasan.</p>
<p>Dengan dibantu salah seorang wali murid, sampailah dia di rumah lelaki itu. Sam kemudian menyampaikan maksud dan sejumlah penjelasan, terutama perihal anak-anak mereka yang sering datang ke sekolah.</p>
<p>“Ko trada perlu ajari torang. Torang dah pu sekolah sendiri. Lihat mari! Justru murid ko yang mari.”</p>
<p>Sam, dengan setengah tak percaya mengikuti lelaki itu. Ia turun dari rumah besar, lalu menuju perahu di antara barisan rumah-rumah, aroma laut menebar, hidungnya disesaki asin dan matanya dipenuhi tatapan aneh dari penduduk sekitar. Dia menuju sebuah rumah yang sama di atas laut, dan di sana nampak sudah dua anak lelaki yang menyambanginya siang tadi. Dan, beberapa muridnya yang ia kira sakit, ternyata mereka ada di sana.</p>
<p>Di tempat ini, terlihat: barisan dayung-dayung yang digantung, tombak bermata tajam, sebuah perahu di tengah ruangan, jala, pisau, sebuah titik-titik dengan cangkang karang, yang kemudian Sam tau itu rasi bintang di langit. Lelaki Lat menjelaskan lagi dengan bahasa alihkode semi kacau, bahwa di sinilah sekolah yang ia dirikan. Sekolah yang diberinama Lat: sesuai nama suku.</p>
<p>Sebenarnya lelaki tadi tidaklah bodoh terlalu. Ayahnya dulu pernah menyekolahkanya ke “sekolah pemerintah” meski hanya di kelas satu—demikian mereka menyebutnya, namun suatu hal mengganjal.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/15/ikan-kaleng-cerpen-pendidikan/59454_kapal_nelayan_300_225/" rel="attachment wp-att-537"><img class="size-full wp-image-537 " title="Kapal-kapal para Nelayan" src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/59454_kapal_nelayan_300_225.jpg?w=594" alt="Kapal-kapal para Nelayan"   /></a><p class="wp-caption-text">Kapal-kapal para Nelayan</p></div>
<p>Ketika kakaknya yang sudah kelas enam di SD Jayapura 2 tak bisa apa-apa ketika harus menemani kakak mereka yang lebih tua pergi melaut menggantikan ayahnya yang sakit keras. Dia, kakaknya yang SD tersebut, hanya bisa omong dan menyanyi-nyayi, lalu pamer angka-angka tak jelas dalam kertas, tapi ia tak becus membaca rasi bintang, arah angin, membelah ombak, mengarah tombak, apalagi mencecap asin air dan jernih gelombang untuk menerka di mana ikan-ikan berkumpul. Dari situ ia benci sekolah—ia benci menghabiskan waktu dengan menyayi dan menggambar tidak jelas. Dan, pelak, ketika ada pembukaan sekolah baru, ia selalu mencari sekolah yang mengajarkan anaknya melaut, membelah ombak, mendayung, membaca rasi bintang, menombak ikan paus, dan seterusnya. Dan itu tak ada, atau mungkin tak akan pernah ada!</p>
<p>Sam terdiam. Ia paku bagi kelana: semua diktum terkulum gelombang di kaki pancang: berpias-pias.</p>
<p>Dan juga sorenya, Sam melihat di bawah cahaya senja yang senantiasa keemasan sebelum muram jadi gelap, lelaki itu mengajar dua anaknya dan tiga dari muridnya yang belakangan absen. Dia mengajari cara memegang dayung, menggerakkannya kanan kiri di atas perahu di tengah kelas itu. Dan, tak sekalipun lelaki itu membentak atau bahkan memukul bila salah. Dia selalu berkata,</p>
<p>“Ko pasti bisa! Ko dilahir atas laut, makan ikan laut, garam laut, ko anak laut! Laut ibu torang. Kitorang cintai, dayungi, dan ciumi angin asin ini. Laut tempat ko makan, laut tempat ko besar nanti, ko paham sa pu nasehat? Ini tujuan ko sekolah di Lat, ko belajar hidup. Bukan cuma omong kosong dan menggambar. Ko dititipi laut Bapa Kitorang.”</p>
<p><strong>/3/</strong></p>
<p>Peristiwa dua tahun silam terngiang makin dalam, di meja kelas, ketika kini dia mengadapi pesan pendek berisi keluh dari sejumlah kawan di Jogja yang belum juga mendapat kerja. Dia menarik nafas. Untung dia dapat ikatan dinas; meski jauh seperti ini, terpisah dari keluarga.</p>
<p>Dia sedang mengabsen, saat tiba-tiba lelaki kepala suku Lat itu datang mengetuk pintu kelas. Dia izin bentar pada murid- muridnya yang kini tinggal setengah—sisanya “sekolah” di Lat: memilih belajar membelah ombak dengan benar, membaca rasi bintang dengan sket cangkang kerang, dan seterusnya.</p>
<p>“Maaf, ada yang bisa saya bantu, Pak?” Sam bertanya, dalam hati ia mengira lelaki itu, yang kini membawa kedua anaknya beserta sejumlah anak lain, ingin menyekolahkan di tahun ajaran baru yang sebentar lagi tiba.</p>
<p>“Ko orang Jawa, bisa ajar torang buat ini?”</p>
<p>Sam mundur sedikit. Ia kaget. Lelaki itu menunjukkan kalengan bermerek sarden.</p>
<p>Usut punya usut, setelah bercakap kemudian, sekolah Lat tengah mengalami masalah. Murid-muridnya bertambah banyak, orang-orang Batu Tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di sana, yang dalam waktu tak lebih dari setahun dapat membantu menangkap ikan. Yang mengajar juga dari orang mereka sendiri yang berpengalaman. Nah dari sana penghasilan menangkap ikan naik deras. Ketika kepala suku Lat itu pergi ke Jayapura untuk memasar ikan, ia melihat ikan kaleng yang ternyata harga sebuahnya setara dengan harga satu kilogram ikan mentah. Dia terkejut. Padahal, menurut kepala suku Lat itu, satu kaleng hanya berisi dua tiga potong. Dari sini dia ingin menemui sekolah yang bisa mengajarkan “murid”-nya membuat ikan kaleng.</p>
<p>Dan, sekali lagi Sam menggeleng. Ia menejelaskan kembali tentang standar pengajaran di sekolah, kurikulum, evaluasi, ijazah, dan keterampilan, menghitung, bahasa, menghafal nama menteri, Pancasila, Undang-Undang Dasar….</p>
<p>“Ah, baik. Ko tau tempat buat ini?” kepala suku Lat menegas. Matanya resah. Anak-anak di belakangnya tengah membaur bersama anak-anak dalam kelas. Sam membaca pabrik produksinya yang ternyata itu di Banyuwangi Jawa Timur.</p>
<p>“Sa mau ke sana! Ko kasih tau….”</p>
<p>Sam terbengong. Dan ia akan makin kaget, jika tahu bahwa lima hari mendatang akan ada rombongan kecil dengan perahu berlayar sedang, berbekal peta yang ia berikan sewaktu bertanya, beduyun mengarungi Samudra Hindia, menuju Jawa Timur buat belajar cara mengalengkan ikan agar tidak rugi dalam menangkap demikian banyak ikan, agar anak-anak kelak sejahtera, agar listrik penuh, televisi seperti di kota, mobil, motor…. Tidak ada yang ragu; mereka anak-anak sekolah Lat; terlatih membelah ombak dengan dayung, membaca angin, gemintang, dan asin air laut dan jejak-jejak ikan di antara buih dan gelombang. Jiah! Khiaak! (*)</p>
<br />Filed under: <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/bahan-perkuliahan-unnes/'>Bahan Perkuliahan (Unnes)</a>, <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/pedagogi-kritis/'>Pedagogi Kritis</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendidikankritis.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendidikankritis.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendidikankritis.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendidikankritis.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendidikankritis.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendidikankritis.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendidikankritis.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendidikankritis.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendidikankritis.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendidikankritis.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendidikankritis.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendidikankritis.wordpress.com/532/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendidikankritis.wordpress.com/532/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendidikankritis.wordpress.com/532/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=532&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/15/ikan-kaleng-cerpen-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/59454_kapal_nelayan_300_225.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/59454_kapal_nelayan_300_225.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Kapal-kapal para Nelayan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c604c22050f0a0ec64e1a9801580bb86?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisubkhan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/siswa-papua.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sekolah di Papua</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/59454_kapal_nelayan_300_225.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kapal-kapal para Nelayan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengembangkan Model Penilaian Demokratis, Otentik, Kritis dan Bermakna</title>
		<link>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/14/mengembangkan-model-penilaian-demokratis-otentik-kritis-dan-bermakna/</link>
		<comments>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/14/mengembangkan-model-penilaian-demokratis-otentik-kritis-dan-bermakna/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 13:25:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edi subkhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Perkuliahan (Unnes)]]></category>
		<category><![CDATA[Pedagogi Kritis]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikankritis.wordpress.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[(ongoing project) Dari masa ke masa model penilaian terhadap perkuliahan tidak banyak berubah. Padahal perkembangan perspektif paradigmatik dalam melihat pendidikan dan pembelajaran telah berkembang ke arah yang lebih “memanusiakan manusia” (humanis), juga ke arah yang lebih demokratis, kontekstual, menyenangkan, tapi juga tidak kehilangan dimensi kritisnya. Pada diktat-diktat penilaian pembelajaran dikenal beberapa jenis evaluasi dan tes, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=519&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><span style="color:#ff6600;"><strong>(<em>ongoing project</em>)</strong></span></p>
<p>Dari masa ke masa model penilaian terhadap perkuliahan tidak banyak berubah. Padahal perkembangan perspektif paradigmatik dalam melihat pendidikan dan pembelajaran telah berkembang ke arah yang lebih “memanusiakan manusia” (humanis), juga ke arah yang lebih demokratis, kontekstual, menyenangkan, tapi juga tidak kehilangan dimensi kritisnya.</p>
<p>Pada diktat-diktat penilaian pembelajaran dikenal beberapa jenis evaluasi dan tes, mulai dari (1) mode <em>multiple choice</em>; (2) soal essei pendek; (3) membuat karangan essei; (4) portofolio; (5) tes lisan; dan lainnya. Karakteristik dan tujuan masing-masing jenis evaluasi dan test tersebut tentu berbeda, termasuk juga “keunggulan” dan “kekurangannya”.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/14/mengembangkan-model-penilaian-demokratis-otentik-kritis-dan-bermakna/test/" rel="attachment wp-att-526"><img class="size-medium wp-image-526" title="Testing" src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/test.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Testing" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Testing</p></div>
<p><em>Multiple choice</em> tentu mudah diukur, standarnya jelas dan tentu satu standar untuk semua, namun jelas tidak banyak mengasah nalar kreativitas dan daya kritis. Essei pendek juga relatif sama karena jawaban dari soal yang diberikan harus ditulis secara “singkat dan jelas”. Membuat karangan essei tidak ada satu standar tunggal namun dapat lebih memberi ruang kreativitas dan analisis kritis dalam membuatnya. Dokumen portofolio banyak yang menyatakan mudah dimanipulasi, tapi di sisi lain ia memuat “catatan historis” perkembangan kemampuan tertentu. Sementara itu tes lisan lebih memberi ruang untuk beradu argumentasi hingga daya kritis terlatih lebih baik.</p>
<p>Bagi mahasiswa dalam perkuliahan ilmu-ilmu sosio-humaniora tentu soal-soal <em>multiple choice</em> amat sangat tidak dianjurkan, soal essei pendek juga demikian, yang harus dihadirkan adalah model penilaian yang dapat membangun nalar kritis, kreativitas, sensitivitas sosial dan sejenisnya. Di sinilah membuat karangan essei, diskusi kritis, dan sejenisnya adalah prioritas utama. Kalau tetap berkutat pada model tes dan evaluasi menggunakan <em><span style="text-decoration:underline;">soal-soal essei pendek</span></em>, maka kemampuan ‘argumentasi’ dan ‘bahasa’ mahasiswa akan tetap stagnan, tidak berkembang.</p>
<p>Ironisnya hampir sebagian besar mahasiswa lebih suka diberi model evaluasi yang gampang dan mudah. Kita bisa memperkirakan hal itu disebabkan oleh orientasi untuk mendapat nilai yang bagus, dan argumentasi sejenis. Terlepas dari diskursus yang lebih mendalam soal budaya instan mahasiswa, tidak suka tantangan, “tidak suka berkembang”, lebih suka yang <em>fun-fun</em> saja, tujuan yang masih absurd, pegangan ideologis yang rapuh dan lainnya, di sisi lain evaluasi sejatinya bukanlah untuk memvonis seseorang itu cerdas atau bodoh, melainkan sebagai <em><span style="text-decoration:underline;">metode dalam melihat sejauh mana level perkembangan penguasaan dari pengetahuan, nilai-nilai, budaya dan ideologi yang telah dipelajari</span></em>. Dari situ mahasiswa dapat bercermin lebih lanjut tentang kemampuan dirinya sendiri.</p>
<p>Dengan pemahaman tersebut, maka sejatinya evaluasi tetap perlu dilakukan, yang perlu dikaji dan kembangkan sekarang adalah soal formulasi dari evaluasi tersebut.</p>
<p>Di sini, dalam perkuliahan yang saya ampu—untuk mahasiswa semester 1 (satu) matakuliah Kawasan Teknologi Pendidikan (KTP) dan Sistem Pendidikan Nasional (SPN) pada program studi Teknologi Pendidikan (TP), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Semarang (Unnes)—saya berupaya untuk mengembangkan formula evaluasi yang lebih <em><span style="text-decoration:underline;">demokratis</span></em>, <em><span style="text-decoration:underline;">otentik</span></em>, <em><span style="text-decoration:underline;">kritis</span></em> dan <em><span style="text-decoration:underline;">bermakna</span></em>. Disebut:</p>
<ol>
<li><em>demokratis</em> karena memberikan kebebasan pada mahasiswa untuk memilih jenis penilaian atau evaluasi yang akan mereka ambil atau kerjakan, termasuk bebas memilih tema, asalkan tidak keluar dari pengetahuan yang dipelajari di perkuliahan, juga terbuka kesempatan untuk beradu argumen dalam penilaian tersebut;</li>
<li><em>otentik</em> karena pemilihan jenis penilaian tersebut disesuaikan dengan potensi serta kemampuan utama mahasiswa, tiap mahasiswa berbeda potensinya dalam mengungkapkan gagasan, ada yang jago tulis, ada yang lisan dan lainnya, semuanya diakomodasi;</li>
<li><em>kritis</em> karena diajak untuk melihat realitas sosio-kultural secara kritis berkaitan dengan isu keadilan, kesetaraan, kemanusiaan, kerakyatan, diskriminasi, eksploitasi, neo-kolonialisme dan sejenisnya;</li>
<li><em>bermakna </em>karena diharapkan proses dan hasil penilaian tersebut betul-betul bermanfaat, berguna dalam mengembangkan kemampuan intelektual, sosial, emosional mahasiswa, termasuk juga bagi konteks riil masyarakat, jadi bukan evaluasi “tekstual” yang hasilnya tidak signifikan dalam membangun pengetahuan diri pribadi dan juga tidak berguna bagi konteks riil masyarakat. Di sinilah proses dan hasil evaluasi tersebut betul-betul bermakna bagi diri pribadi mahasiswa dan juga konteks sosial riil masyarakat. Semoga!</li>
</ol>
<p>Berikut beberapa jenis evaluasi yang ditawarkan pada mahasiswa, selain itu silakan mahasiswa mengusulkan jenis evaluasi lainnya.</p>
<p><strong><em>Pertama, membuat essei</em></strong>. Karangan essei berupaya untuk mengulas secara kritis topik bahasan tertentu tanpa disertai sistematika yang kaku seperti dalam membuat makalah dan paper ilmiah. Karangan essei ulasannya bersifat deskriptif (menjelaskan) secara kritis dengan memadukan antara gagasan-gagasan atau pandangan konseptual dan realitas yang terjadi. Selain itu ulasannya juga lebih fleksibel. Dilihat dari panjang karangan, maka essei lebih panjang ketimbang artikel untuk media massa, namun tata bahasanya lebih kurang sama, yakni bahasa populer yang menarik dan enak dibaca oleh pembaca awam/umum. Tidak menggunakan bahasa ilmiah akademik yang lebih ditujukan untuk lingkungan pembaca dari kalangan akademisi saja.</p>
<p>Pada perkuliahan Kawasan Teknologi Pendidikan, tema-tema yang dapat diangkat dalam membuat essei antara lain tentang: (1) problem praktik pembelajaran di kelas dengan menggunakan metode dan media tertentu; (2) problem dalam pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia; (3) ulasan kritis pergeseran paradigma pembelajaran dari mengendalikan (<em>controling</em>) menuju memfasilitasi (<em>facilitating</em>); (4) ulasan kritis dimensi etika (<em>ethical practice</em>) dan ketepatan (<em>appropriate</em>) dalam praktik pembelajaran di kelas, sekolah dan masyarakat. Tiga bagian utama karangan essei adalah: (1) pendahuluan; (2) ulasan inti; dan (3) simpulan. Contoh draft essei sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Judul: <strong><em>Facebook dalam Praktik Pembelajaran</em></strong>.</li>
<li><strong><em>Demam facebook di kalangan anak-anak muda</em></strong>. Menceritakan tentang demam facebook di kalangan anak-anak muda, termasuk usia sekolah dan mahasiswa. Diulas mengenai apa yang dilakukan melalui facebook tersebut, tujuan menggunakan facebook, budaya yang berkembang di kalangan anak muda berkaitan dengan hadirnya facebook.</li>
<li><strong><em>Karakteristik facebook</em></strong>. Mengulas karakteristik facebook yang berjejaring, sosial, saling terhubung, selain itu juga muncul kultur berbagi (<em>sharing</em>) informasi dan berkomunitas (<em>coomunity</em>), hal-hal yang bersifat privat bisa menjadi milik publik dan tersebar luas, dan lainnya.</li>
<li><strong><em>Masalah yang timbul di sekitar penggunaan facebook</em></strong>. Dalam banyak kasus, facebook justru menjadikan seseorang kecanduan menggunakannya hingga melupakan tugas utama bekerja—bagi karyawan—dan belajar—bagi siswa dan mahasiswa. Banyak pula kasus kejahatan dan tindak kekerasan terjadi dengan diperantarai oleh komunikasi via facebook.</li>
<li><strong><em>Potensi facebook sebagai media pembelajaran</em></strong>. Mengulas potensi facebook sebagai media pembelajaran dengan menggunakan metode tertentu, misalnya dengan diskusi <em>online</em> baik <em>synchronous</em> (saat itu juga) melalui chating dan <em>asynchronous</em> (tidak saat itu juga) melalui catatan (<em>notes</em>) dan status di facebook.</li>
</ol>
<p>Pada perkuliahan matakuliah Sistem Pendidikan Nasional (SPN) juga sama, yang berbeda hanya tema yang diangkat dalam membuat karangan essei saja. Ketika karangan essei sudah selesai dan diserahkan pada dosen, kalau belum bagus betul maka akan mendapat saran dan koreksi, setelah itu mahasiswa kembali memperbaiki essei yang telah ia buat tersebut. Minimal 5 halaman A4 spasi 1 times new roman, sekitar 2.500 kata atau 17.000 karakter tanpa spasi. <span style="color:#ff0000;"><strong><em><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/14/mengembangkan-model-penilaian-demokratis-otentik-kritis-dan-bermakna/kritik-sekolah-bertaraf-internasional/" rel="attachment wp-att-521">Silakan Klik di sini untuk mengunduh satu contoh essei pendidikan.</a></em></strong></span></p>
<p><strong><em>Kedua, membuat cerita pendek</em></strong>. Karangan cerita pendek (cerpen) merupakan jenis tulisan fiksi yang menceritakan tentang peristiwa tertentu. Sebagai sebuah cerita tentu gaya bahasanya adalah gaya bertutur yang mengalir (naratif), imajinatif, penuh nilai, sarat makna. Dengan demikian, karena membuat karangan essei di sini ditujukan untuk menyampaikan pesan pengetahuan, nilai-nilai dan ideologi tertentu, maka gaya (<em>genre</em>) cerita yang dibuat hendaklah yang bersifat realis, bukan yang abstrak, absurd dan terlalu filosofis. Hal tersebut dilakukan agar mudah dipahami oleh pembaca awam dan juga agar dapat dilihat secara jelas tema pendidikan yang diangkat.</p>
<p>Beberapa tema yang secara lebih spesifik dapat diangkat antara lain untuk matakuliah Sistem Pendidikan Nasional (SPN) adalah: (1) problem pendidikan yang menimpa rakyat kecil; (2) mahalnya biaya pendidikan; (3) cerita mengenai pendidikan alternatif dan non-formal dan lainnya. Sebenarnya banyak sekali cerpen yang mengandung nilai-nilai dan pengetahuan tentang pendidikan walaupun cerpen tersebut tidak secara langsung berkisah tentang pendidikan dan dapat diacu sebagai contoh cerpen yang baik.  Minimal 2 halaman A4 spasi 1 times new roman, sekitar 1000 kata atau 7000 karakter tanpa spasi <em><strong><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/14/mengembangkan-model-penilaian-demokratis-otentik-kritis-dan-bermakna/ikan-kaleng_cerpen-pendidikan_contoh-2/" rel="attachment wp-att-548">(Silakan Klik di sini untuk mengunduh contoh cerpen bertema pendidikan, Ikan Kaleng, Eko Triono, 15 Mei 2011)</a></strong></em>.</p>
<p><strong><em>Ketiga, membuat analisis buku</em></strong>. Analisis buku dibuat dengan terlebih dulu membaca tuntas minimal 3 (tiga) buah buku dan kemudian mengulasnya secara kritis. Formatnya hampir sama dengan membuat karya essei dan resensi buku, hanya saja kalau resensi hanya untuk satu buku, tapi kalau analisis buku di sini minimal tiga buku. Minimal 5 halaman A4 spasi 1 times new roman, sekitar 2.500 kata atau 17.000 karakter tanpa spasi.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.budayamukti.com/perpustakaan.html"><img class="size-medium wp-image-527" title="Perpustakaan" src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/in-bibliotheek1.jpg?w=300&#038;h=199" alt="Perpustakaan" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Perpustakaan</p></div>
<p>Substansi yang diulas dalam analisis buku antara lain adalah: (1) isi buku tentang apa; (2) kelebihan dan kekurangan buku; (3) gaya penulisan dan bahasanya; (4) relevansi buku dengan kehidupan dan praktik sosial riil; (5) tentang penulis dan jejak intelektualnya.</p>
<p><strong><em>Keempat, mendesain proses pembelajaran dengan metode dan media</em></strong>. Tugas ini berupa mendesain proses pembelajaran dengan menggunakan metode dan media tertentu. Logika dasar yang dapat digunakan dalam desain tersebut dapat dari ADDIE atau yang lainnya. Konteks proses pembelajarannya harus jelas, yakni: (1) untuk matapelajaran apa, kelas berapa, semester berapa; (2) kira-kira di sekolah daerah mana (kota, desa atau lainnya); dan (3) latar psiko-sosial siswa.</p>
<p>Kalau mengikuti logika dasar ADDIE, maka prosesnya dimulai dari:</p>
<ol>
<li><strong><em>analysis</em></strong> (analisis tujuan pembelajaran, target pembelajaran (kognitif, afektif, psikomotorik, konatif), keunikan siswa, level intelektual siswa, konteks dan sumber belajar yang tersedia);</li>
<li><strong><em>design</em></strong> (menerjemahkan tujuan pembelajaran dalam unit-unit materi yang akan dipelajari [silabus], menentukan waktu pembelajaran sesuai dengan materi yang akan dipelajari, membagi proses pembelajaran dalam tahap-tahap tertentu, merumuskan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan, mendesain konsep evaluasi yang akan dilakukan;</li>
<li><strong><em>development</em></strong> (mengembangkan metode pembelajaran dan memproduksi media pembelajaran sesuai dengan hasil ‘analisis’ dan ‘desain’ sebelumnya serta melengkapinya dengan sarana pendukung tertentu), kalau metode dan media tersebut ditujukan untuk lingkup yang lebih luas, maka pada proses ‘<em>development</em>’ ini termasuk melakukan <em>try out</em> yang nantinya akan direvisi, diperbaiki dan diproduksi dalam jumlah dan lingkup yang lebih luas);</li>
<li><strong><em>implementation</em></strong> (mengimplementasikan dalam praksis pembelajaran); dan</li>
<li><strong><em>evaluation</em></strong> (mengevaluasi media, metode dan implementasinya).</li>
</ol>
<p>Kalau menggunakan logika yang terbalik dari ADDIE dalam mendesain metode dan media, dan juga berkebalikan dari logika dasar ASSURE (<em>Analyze learners, State objectives, Select media and materials, Utilize media and materials, Require learner participation</em> dan <em>Evaluate and revise</em>) dalam menentukan/memilih dan menggunakan media yang sudah ada (<em>by utilization</em>), yakni yang dimulai dari media yang sudah ada, maka dapat dimulai dengan:</p>
<p><strong>1)      </strong><strong>Membawa media. </strong>Membawa sebuah media, bisa berupa (a) berita di koran; (b) cerita pendek; (c) novel; (d) klip lagu; (e) film; (f) gambar dan/atau foto; (g) puisi/sajak dan lainnya. <strong> </strong></p>
<p><strong>2)      </strong><strong>Menganalisis dan menentukan. </strong>Dianalisis media tersebut tepat digunakan untuk praktik pembelajaran apa, caranya adalah dengan melihat (a) nilai-nilai; (b) budaya; (c) pengetahuan yang secara eksplisit dan implisit terkandung dalam media tersebut. Setelah diketahui kandungan nilai-nilai, budaya dan pengetahuannya, kemudian dikontekstualisasikan dengan kurikulum yang dibelajarkan di sekolah-sekolah, sehingga akan dapat diketahui media tersebut tepat untuk siswa kelas berapa, matapelajaran apa dan seterusnya. <strong> </strong></p>
<p><strong>3)      </strong><strong>Merumuskan konsep dan praksis pembelajarannya. </strong>Di sini dirumuskan konsep dan rencana praksis pembelajaran nya, yakni mulai dari (<strong><em><span style="text-decoration:underline;">misal contohnya adalah media klip lagu sebagai berikut</span></em></strong>): <strong></strong></p>
<ul>
<li>Membawa klip lagu ke dalam kelas, kemudian memutarnya. Setelah itu siswa diminta untuk bersama-sama menyanyikan lagu terebut, dan memberi kesempatan pada siswa yang paling bagus suaranya atau kemampuannya menyanyi untuk menyanyikan lagu tersebut di depan kelas.</li>
<li>Guru <em>bertanya</em> pada siswa: bagaimana pendapatmu tentang lagu tersebut? Bagus tidak lagu tersebut? Bagian mana yang paling berkesan menurutmu? Apa alasannya?</li>
<li>Guru <em>mengajak</em> siswa untuk memahami teks dan konteks lagu tersebut dengan bertanya: Apa pesan dari lagu tersebut menurutmu? Kemudian dianalisis syair lagunya, siapa penciptanya, penyanyinya, dan menafsirkan kira-kira maksud dan tujuannya apa? Siswa diajak untuk memahami apakah kondisi sekarang masih mencerminkan seperti yang terdapat dalam lagu tersebut? Apa alasannya? Lalu apa yang dapat dan harus dilakukan?</li>
<li>Guru meminta siswa menceritakan pengalaman personalnya berkaitan dengan nilai-nilai dan pengetahuan yang disampaikan lewat lagu tersebut? Lalu refleksi apa kira-kira yang dapat dilakukan.</li>
<li>Guru memberi tugas bagi siswa untuk mencari lagu serupa yang memuat nilai-nilai tertentu tadi, kemudian lagu tersebut dianalisis singkat dalam bentuk essei pendek dan dinyanyikan di depan kelas. Tugas dilaksanakan secara berkelompok.</li>
</ul>
<p><strong>4)      </strong><strong>Mengimplementasikannya. </strong>Implementasi di kelas. <strong></strong></p>
<p><strong>5)      </strong><strong>Mengevaluasinya. </strong>Evaluasi<strong> </strong>mengenai ketepatan media tersebut digunakan dalam pembelajaran dilihat dari ketertarikan siswa, keterlibatan dan partisipasi ssiwa dalam praktik pembelajaran, juga dilihat dari keberanian mengungkapkan pendapat dan analisis terhadap lagu yang ditugaskan pada mereka dalam bentuk essei pendek.<strong> </strong></p>
<p><strong><em>Kelima, membuat lagu</em></strong>. Dalam membuat lagu silakan untuk menciptakan lirik dan syair tentang pendidikan yang bagus dan enak untuk dinikmati bersama. Pilihan membuat lagu ini hanya untuk matakuliah Sistem Pendidikan Nasional (SPN), sedangkan untuk Kawasan Teknologi Pendidikan tidak, karena memang relatif agak susah untuk berkreasi lagu dengan tema tentang TP. Lebih lanjut tema-tema yang bisa diangkat dalam mengarang sebuah lagu dapat mengambil tema sebagaimana pada karangan essei dan cerpen, sedangkan contoh-contoh lagu yang bertemakan pendidikan dapat disimak pada lagu-lagunya Iwan Fals misalnya. Karena tema yang diambil adalah pendidikan, maka selayaknya yang diangkat adalah tentang permasalahan pendidikan yang terjadi di masyarakat. Durasi lagu lebih kurang 5 (lima) menit.</p>
<p>Penilaiannya dilakukan dalam bentuk perkembangan yang berkelanjutan. Jadi mahasiswa yang memilih untuk mencipta lagu akan menyanyikan lagu ciptaannya di depan kelas, tentu dengan diiringi oleh musik yang ia bawakan sendiri. Kemudian semua mahasiswa memberikan apresiasi dan penilaian serta saran-saran lebih lanjut.</p>
<p><strong><em>Keenam, evaluasi lisan (verbal). </em></strong>Mahasiswa silakan mendaftar bagi yang ingin ujian lisan. Pada tanggal yang telah ditentukan oleh panitian UAS nanti akan dipanggil secara bergiliran tiga-tiga ke dalam ruangan. Kemudian seorang mahasiswa mempresentasikan sebuah materi sesuai dengan yang telah dipelajari selama kuliah kira-kira 5 (lima) menit, kemudian dosen akan memberi pertanyaan berdasarkan pada apa yang telah disampaikan tadi. Begitu juga dengan mahasiswa lain selanjutnya. Penilaiannya dinegosiasikan antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa ditanya: kira-kira dengan kemampuan menjawab pertanyaan dan kualitas presentasi tersebut ia layak diberi nilai berapa? Dosen dengan pertimbangan kualitas jawaban dan presentasi juga memberikan nilai tersendiri. Kalau mahasiswa merasa berhak mendapat nilai lebih, maka ia harus berargumen apa alasannya, kalau merasa jawabannya tepat maka ia harus berargumen lebih lanjut, kalau alasan tidak tepat, maka ia tidak berhak mendapat nilai lebih.</p>
<p><strong><em>Ketujuh</em></strong><strong>, beberapa mahasiswa usul membuat poster, komik, dan lainnya. </strong>Silakan membuat lagu, poster, komik dan sejenisnya. Bentuk komik atau poster lebih ditekankan pada substansi nilai-nilai dan pengetahuan yang dikandung di dalamnya, juga kemenarikan visualnya. Sebagai sebuah penugasan akhir perkuliahan, maka hasil jadi dalam bentuk poster tersebut dibawa ke kelas kemudian dipresentasikan secara singkat, mahasiswa yang lain lain menanggapi dan kemudian mengapresiasinya dengan memberikan nilai yang layak dan tepat. Kalau mahasiswa yang membuat poster atau komik terlalu banyak, maka proses penilaian dilakukan dengan berhadap-hadapan langsung dengan dosen, termasuk presentasi singkat, pertanyaan, dan “negosiasi” penilaian.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Panduan penulisan essei</strong>.</p>
<p>Berikut panduan penulisan ilmiah yang digunakan dalam perkuliahan yang saya ampu. Di sini karena penugasannya hanya berupa essei yang berkaitan dengan keterampilan menulis ilmiah, maka panduan ini hanya secara ringkas saja tentang dasar-dasar menulis.<strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>1.    </em></strong><strong><em>Ketika menulis pendapat atau informasi yang berasal dari sumber tertentu (mengutip) maka harus ditulis secara jelas sumbernya tersebut. </em></strong></p>
<p>a)      Kutipan langsung, misal: Yusufhadi Miarso (2007: 34) menyatakan, “Penelitian dalam bidang teknologi pendidikan sudah seharusnya banyak menggunakan paradigma dan pendekatan kualitatif ketimbang kuantitatif”.</p>
<p>b)      Kutipan tidak langsung, misal: Penelitian dalam bidang teknologi pendidikan sudah seharusnya banyak menggunakan paradigma dan pendekatan kualitatif ketimbang kuantitatif (Yusufhadi Miarso, 2007: 34).</p>
<p>c)       Kutipan dari buku atau jurnal yang ditulis oleh dua orang, misal dalam kutipan langsung: Menanggapi masalah tersebut, Darmaningtyas dan Edi Subkhan (2009: 134) menyatakan, “konsep dan pelaksanaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) tidak adil dan tidak pro-rakyat”.</p>
<p>d)      Kutipan dari buku atau jurnal yang ditulis oleh dua orang, misal dalam kutipan tidak langsung: Konsep dan pelaksanaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) tidak adil dan tidak pro-rakyat (Darmaningtyas dan Edi Subkhan, 2009: 134).</p>
<p>e)      Kutipan dari buku atau jurnal yang ditulis oleh tiga orang atau lebih, misal dalam kutipan tidak langsung: Pendidikan di Amerika menurut Joe Kinchelo <em>et al</em>. (2009) sampai sekarang tidak hanya masih diskriminatif terhadap kulit berwarna, tetapi juga terhadap pemeluk agama Islam yang mendapat stigma negatif akibat aksi 9/11.</p>
<p>f)       Kutipan dari buku atau jurnal yang ditulis oleh tiga orang atau lebih, misal dalam kutipan langsung: “Pendidikan di Amerika sampai sekarang tidak hanya masih diskriminatif terhadap kulit berwarna, tetapi juga terhadap pemeluk agama Islam yang mendapat stigma negatif akibat aksi 9/11” (Joe Kincheloe <em>et al</em>. 2009).</p>
<p>g)      Kutipan berita dari koran cukup ditulis nama koran lengkap dengan tanggal, bulan dan tahun terbitnya, nama koran dicetak miring, misal: Sejak reformasi bergulir, kesadaran terhadap sejarah dan budaya yang melandasari keberadaan bangsa ini kian meluntur. Lebih-lebih di kalangan pelajar dna anak muda pada umumnya (<em>Kompas</em>, 14/12/2011).</p>
<p>h)      Kutipan dari internet dalam paragraf ditulis alamat website dan tahun diunggahnya informasi yang dikutip tersebut, misal: Berkat kerja keras yang telah dirintis oleh Universitas Terbuka (UT) akhirnya meraih 21 sertifikat ISO 9001:2000 (<a href="http://www.tempointeraktif.com/">http://www.tempointeraktif.com/</a>, 2008).<strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>2.    </em></strong><strong><em>Daftar pustaka ditulis lengkap dari nama penulis, tahun, judul, kota terbit dan penerbit. </em></strong></p>
<p>a)    Dari buku, contoh: Miarso, Yusufhadi. (2007). <em>Menyemai Benih Teknologi Pendidikan</em>. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.</p>
<p>b)   Dari buku dengan penulis dua orang, contoh: Loveless, Avril &amp; Viv Ellis (eds.). (2000). <em>ICT, Pedagogy and the Curriculum: Subject to Change</em>. London &amp; New York: RoutledgeFalmer.</p>
<p>c)    Dari buku dengan penulis tiga orang atau lebih, contoh: Darmaningtyas, <em>et al</em>. (2009). <em>Tirani Kapital dalam Pendidikan: Menolak Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan</em>. Jakarta: Yashiba.</p>
<p>d)   Dari jurnal dengan penulis hanya satu orang, contoh: Apple, Michael. “Creating Difference: Neo-Liberalism, Neo-Concervatism and the Politics of Educational Reform” <em>Educational Policy</em>, Vol. 18, No. 1, January-March, 2004, pp. 12-44.</p>
<p>e)   Dari artikel di koran, contoh: Joesoef, Daoed. (2011). “Pendidikan di Zaman Edan” <em>Kompas</em>. Jakarta: 18 Agustus.</p>
<p>f)     Dari berita di koran, contoh: Kompas. (2011). “Kesadaran Sejarah dan Budaya Meluntur” <em>Kompas</em>. Jakarta: 14 Desember.</p>
<p>g)    Tempo Interaktif. (2008). “Universitas Terbuka Raih 21 ISO 9001:2000” diunduh pada 17 Januari 2011 dari (<a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/09/26/brk,20080926-137606,id.html">http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/09/26/brk,20080926-137606,id.html</a>).</p>
<p>Selain untuk pemahaman yang mendalam terhadap pengetahuan dan nilai-nilai yang dibelajarkan dalam perkuliahan, tujuan lain yang dituju adalah terasahnya kemampuan berbahasa, berpikir kritis, analitis, logis, sistematis, juga terasah nalar apresiasi seni dan budaya mereka, dan seterusnya.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/14/mengembangkan-model-penilaian-demokratis-otentik-kritis-dan-bermakna/belajar/" rel="attachment wp-att-523"><img class="size-medium wp-image-523 " style="margin:3px;" title="Belajar, belajar dan belajar...." src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/belajar.jpg?w=225&#038;h=300" alt="Belajar, belajar dan belajar...." width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Belajar, belajar dan belajar....</p></div>
<p>Dari beberapa jenis tugas tersebut orientasi dan tujuannya dapat diidentifikasi sebagai berikut; (1) pilihan tugas karangan essei adalah untuk mewadahi mahasiswa yang ingin memperdalam dan mempertajam analisis dan pemahaman teorinya melalui tulisan populer; (2) pilihan tugas desain metode dan media dalam matakuliah Kawasan Teknologi Pendidikan untuk mewadahi mahasiswa yang memang cenderung ingin melihat hasil praktis dari pengetahuan teoretik yang telah ia pelajari di kelas; (3) pilihan tugas membuat cerita fiksi untuk mewadahi kreasi mahasiswa yang kuat imajinasinya dan juga membelajarkan tentang kemampuan berbahasa, yakni dalam olah bahasa tulis yang menarik; (4) pilihan tugas membuat  analisis buku juga untuk mewadahi mahasiswa yang ingin memperkuat analisis dan daya baca terhadap bacaan ilmiah akademik dengan sekaligus meningkatkan kemampuan menulis kiritis; (5) pilihan tugas membuat lagu untuk mengakomodasi mahasiswa yang memang kuat daya imajinasi dan estetika melalui musik (<em>musical</em>) dan juga berkeinginan untuk mengasah ranah imajinasi dan estetika musikal mereka; (6) pilihan tugas ujian lisan ditujukan untuk mewadahi mahasiswa yang kuat kemampuan berbahasa verbalnya (lisan); dan (7) pilihan tugas membuat poster dan komik untuk mewadahi mahasiswa yang kuat imajinasi kreatifnya dalam seni visual, khusus dalam komik tentu ditambah dengan imajinasi mengarang cerita yang menarik.</p>
<p>Ini adalah bentuk eksperimen awal dalam melakukan evaluasi dan penilaian di kelas agar menjadikan praktik pembelajaran dan pendidikan bermakna, berguna, bermanfaat, tidak sekadar formalitas mengikuti perkuliahan yang ditujukan untuk mendapat selembar ijazah saja. Dengan mahasiswa keseluruhan berjumlah 100 orang lebih, satu kelas 50-an mahasiswa (kelas besar) mari kita lihat bagaimana hasilnya.</p>
<p>Edi Subkhan, &#8230;..</p>
<br />Filed under: <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/bahan-perkuliahan-unnes/'>Bahan Perkuliahan (Unnes)</a>, <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/pedagogi-kritis/'>Pedagogi Kritis</a>, <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/teknologi-pendidikan/'>Teknologi Pendidikan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendidikankritis.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendidikankritis.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendidikankritis.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendidikankritis.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendidikankritis.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendidikankritis.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendidikankritis.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendidikankritis.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendidikankritis.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendidikankritis.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendidikankritis.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendidikankritis.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendidikankritis.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendidikankritis.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=519&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/12/14/mengembangkan-model-penilaian-demokratis-otentik-kritis-dan-bermakna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/belajar.jpg?w=112" />
		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/belajar.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">Belajar, belajar dan belajar....</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c604c22050f0a0ec64e1a9801580bb86?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisubkhan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/test.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Testing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/in-bibliotheek1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Perpustakaan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/12/belajar.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Belajar, belajar dan belajar....</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kritik atas Pendidikan Profesi Guru dan Solusinya (hasil dialog)</title>
		<link>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/11/17/kritik-atas-pendidikan-profesi-guru-dan-solusinya-hasil-dialog/</link>
		<comments>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/11/17/kritik-atas-pendidikan-profesi-guru-dan-solusinya-hasil-dialog/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 02:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edi subkhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pedagogi Kritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikankritis.wordpress.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Terkait rencana penerbitan majalah LPM EDUKASI IAIN Walisongo Semarang Edisi 43 yang mengangkat tema utama &#8220;Pendidikan Profesi Guru (PPG)&#8221;, kru majalah mahasiswa tersebut kemarin mengirimkan email pada saya dengan niat agar saya bersedia sharing pendapat seputar masalah tersebut. Di sinilah saya sampaikan jawaban saya atas pertanyaan yang diberikan oleh mereka. Jawaban di bawah ini sekaligus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=497&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terkait rencana penerbitan majalah LPM EDUKASI IAIN Walisongo Semarang Edisi 43 yang mengangkat tema utama<strong> &#8220;Pendidikan Profesi Guru (PPG)&#8221;</strong>, kru majalah mahasiswa tersebut kemarin mengirimkan email pada saya dengan niat agar saya bersedia sharing pendapat seputar masalah tersebut. Di sinilah saya sampaikan jawaban saya atas pertanyaan yang diberikan oleh mereka. Jawaban di bawah ini sekaligus menegaskan sikap dan posisi saya dalam soal PPG tersebut.</p>
<p>1. Menurut Anda apakah peningkatan mutu guru lewat sertifikasi (lewat portofolio &amp; PLPG) yang telah berjalan saat ini cukup efektif sebagai alat peningkatan profesionalisme guru?</p>
<p><strong>Jawab:</strong> <em>Pertama</em>, pertanyaan Anda ambigu, karena dengan menggunakan kata “peningkatan” tersebut seolah-olah menyatakan bahwa program sertifikasi memang telah meningkatkan mutu guru. <em>Kedua</em>, perlu diperjelas konsep “efektif” yang Anda maksud, apa maksud efektif tersebut? Apakah efektif dalam arti pragmatis, yakni meminimalkan aktivitas untuk dapat menghasilkan target, capaian dan tujuan maksimal, atau apa? <em>Ketiga</em>, perlu diperjelas juga arti “profesionalisme” guru tersebut, apakah seperti yang sering dilakukan oleh khalayak ramai, yakni menyamakan profesionalisme dengan kualitas, kemampuan, dan kondisi yang baik, atau bagaimana? <em>Keempat</em>, saya secara personal belum pernah melakukan penelitian secara khusus mengenai “efektivitas” ini (satu hal yang saya ketahui: tema penelitian efektivitas ini banyak dilakukan di kampus-kampus pendidikan dalam bentuk skripsi, tesis maupun disertasi yang akhirnya hanya akan menghasilkan kesimpulan efektif atau tidak sebuah program tertentu dari nalar positivistic), pun saya tidak tertarik untuk melakukannya karena tidak akan menghasilkan riset yang mendalam untuk memahami dan mengidentifikasi praksis pendidikan. Oleh karenanya, saya tidak dapat menjawab secara tepat apa yang dimaksud sebagai efektif atau tidaknya dari program PLPG tersebut. Namun saya akan coba artikulasikan dalam istilah yang berbeda.</p>
<p>Kita mesti paham dulu apa itu PLPG dan kemudian melihatnya dari sisi dasar konseptual, operasional dan imbasnya terhadap guru dan sekolah. Sekali lagi saya tidak punya dokumen PLPG, namun saya dapat memberikan acuan teoretisnya, bahwa kalau yang dituju adalah profesionalisme guru, maka konsep PLPG juga harus dapat memenuhi tujuan profesionalisme guru tersebut. Kalau rujukan PLPG adalah standar kompetensi guru, ada standar pedagogi, standar kepribadian dan sejenisnya itu, maka bisa jadi PLPG cukup dapat membekali guru untuk menjadi professional. Namun pertanyaan besarnya adalah: apakah cukup guru menjadi professional? Tepat atau tidak guru menjadi professional? Kalau Anda menjawab “iya”, maka Anda berada pada posisi yang bersebarangan dengan saya yang mengatakan “tidak”.</p>
<p>Mengapa? Karena bagi saya yang lebih penting dari profesionalitas dan profesionalisme adalah kualitas guru itu sendiri, kualitas tentu di sini dalam arti kualitas yang bagus berupa penguasaan pengetahuan, pemahaman dan pengamalan nilai, konstruksi kultural yang ia bawa dan sejenisnya. Kualitas tidak ada hubungannya dengan professional, itu sudah beda bahasan. “Professional” adalah kata sifat dari “profesi” yang artinya secara ringkas adalah “pekerjaan” (kalau dikaji dari akar katanya, “<em>profession</em>” dari kata “<em>profess</em>” yang artinya “menunjukkan pada publik”), jadi: professional adalah bersifat pekerjaan. Pekerjaan itu apa? Pekerjaan adalah aktivitas yang tujuannya untuk menghasilkan produk atau mencapai tujuan tertentu, dan dari aktivitas itulah seseorang yang melakukannya mendapatkan bayaran. Dengan demikian, kerja professional adalah kerja untuk mendapatkan untung profit (<em>profitable</em>), contoh sederhana: petinju professional bertinju untuk mendapat upah yang sepadan dari apa yang ia lakukan, petinju amatir bertinju untuk mengharumkan nama bangsa.</p>
<p>Jadi, kalau guru disebut professional, maka artinya guru tersebut bekerja untuk mendapatkan upah atau bayaran, sah-sah saja anggapan seperti itu, terlebih dalam alam pikir neoliberal, namun sekali lagi dengan demikian professional tidak ada hubungannya dengan kualitas dan kemampuan diri seseorang guru tersebut. Orang yang bekerja untuk mendapatkan upah (yang disebut sebagai professional) bisa jadi kemampuannya bagus atau tidak, becus atau tidak becus, pintar atau bodoh. Nah, pemahaman awam yang digunakan dan bahkan menjadi rezim baru kebenaran sekarang menyamakan professional dengan kualitas yang bagus. Apa sebenarnya yang terjadi? Tiada lain ini adalah membangun makna dan nilai baru dengan dasar ideologi kapitalisme, bahwa cukup dengan memenuhi indicator sebagai pekerja (baca: professional), maka seseorang tersbut dapat dikatakan sebagai berkualitas. Cukup dengan memenuhi tugas-tugas yang diemban oleh seorang pekerja berdasarkan spesialisasi kerjanya maka ia dapat disebut sebagai berkualitas, padahal lebih tepat disebut sebagai professional saja—yang tidak otomatis disebut sebagai berkualitas dan berkemampuan bagus.</p>
<p>Edward Said dalam bukunya <em>Representations of the Intellectual</em> menegaskan bahwa para intelektual (termasuk guru dalam hal ini) haruslah menjadi amatir, bukan professional. Amatir (<em>amateurs</em>) dari kata “amor” yang artinya cinta. Walau sama-sama dilekatkan pada aktivitas kerja, namun jika seseorang bekerja secara amatir maka ia mendasarkan aktivitas kerjanya pada rasa cinta, pengabdian dan ketulusan, jika mendasarkan pada profesionalisme maka ia mendasarkan pada spesialisasi kerja ala modernitas dan kapitalisme serta hasrat untuk mendapat upah yang layak.</p>
<p>Oleh karena itu, ketika ditanyakan apakah PLPG cukup memberikan bekal profesionalisme, ya saya kira cukup walau saya tidak punya datanya, namun jika ditanyakan apakah PLPG cukup memberikan bekal untuk menjadi guru yang berkualitas bagus, saya bisa jawab: tidak cukup! Guru yang berkualitas bagus menurut Henry Giroux adalah seorang intelektual transformatif, mereka ini beraktivitas kerja tidak didasari hasrat spesialisasi kerja dan profit, melainkan didasari oleh kesadaran kritis untuk perubahan sosial, kecintaan pada manusia dan aktivitas pedagogi dan seterusnya dan seterusnya.</p>
<p>2. Bagaimana Anda melihat <em>flowup</em> pemerintah terhadap guru yang telah lulus sertifikasi?</p>
<p><strong>Jawab: </strong>Sejauh yang dapat kita lihat secara umum, tindak lanjut dari program sertifikasi ya guru mendapat tunjangan profesi, itu saja. Klo bicara soal kualitas guru tentu itu soal lain, program sertifikasi itu jelas tidak dapat meningkatkan kualitas guru menjadi lebih baik dalam pemahaman dan praksis pedagogi mereka di kelas. Karena sertifikasi khan sekadar bentuk pengakuan secara formal bahwa guru bersangkutan telah memenuhi indicator-indikator tertentu yang dibuktikan dengan dokumen portofolio dan sejenisnya, ya sudah cukup di situ saja. Kalau mau meningkatkan kualitas ya guru diberi pelatihan, pendalaman materi pelajaran, <em>up date</em> pengetahuan baru berkaitan dengan subjek pelajaran yang ia ampu dan pengetahuan pendidikan kontemporer serta pendampingan intensif dari para intelektual kepada para guru. Tampaknya pemerintah melalui Kemdiknas, dinas pendidikan di daerah, LPMP dan LPTK belum mengarah pada upaya-upaya tersebut. Sekarang yang ada ya MGMP, tapi juga agaknya tidak terdapat proses yang mengarah pada pemberdayaan MGMP untuk meningkatkan intelektualitas guru berkaitan dengan program sertifikasi mereka.</p>
<p>3. Apa asumsi Anda terkait alasan mendasar pemerintah mencanangakan PPG (upaya mempercepat sertifikasi atau peningkatan profesionalisme)?</p>
<p><strong>Jawab: </strong>PPG ada dua, dalam jabatan dan prajabatan. Semuanya agaknya dimotivasi oleh hasrat untuk meningkatkan kemampuan guru sebagai pekerja yang dapat memenuhi indicator-indikator kinerja (<em>performance</em>) tertentu. Kalau dikaitkan dengan sertifikasi rasanya kok tidak ada hubungannya, karena sertifikasi tidak ada hubungannya dengan peningkatan kualitas guru, sedangkan PPG ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme guru yang disamakan dengan peningkatan kualitas guru.</p>
<p>Nah, dari dua program PPG tersebut saya menganggap bermasalah, atau kalaupun diterima ya dengan catatan kritis. Pertama adalah PPG Prajabatan, tujuannya untuk meningkatkan kualitas calon guru. Apa kampus LPTK selama ini kurang membekali mahasiswanya untuk jadi guru berkualitas? Kalau iya jawabannya dan itu yang jadi alasan digagasnya PPG Prajabatan, maka yang harus diperbaiki adalah desain konseptual dan praksis perkuliahan di kampus, bukannya membuat program baru. Dengan adanya PPG Prajabatan mahasiswa program S1 kependidikan harus keluar duit lagi untuk ikut program tersebut, ini artinya PPG tidak efisien dari segi waktu dan finansial. Selain itu apa yang diberikan di PPG Prajabatan juga tidak beda dengan apa yang diberikan di kampus kependidikan. Pertanyaan saya, loh buat apa mengulang kuliah lagi? Ini jelas mubazir—untuk tidak mengatakan “tidak efektif”. Kalau mereka para konseptor PPG Prajabatan menyatakan “ada bedanya”, saya sampai sekarang belum tahu apa bedanya, tapi dari draft panduan PPG Prajabatan jelas tidak ada bedanya. Kalaupun dicari-cari “kebaikan” adari PPG, ya kampus penyelenggara akan mendapatkan untung profit, karena mereka akan menerima mahasiswa PPG Prajabatan selama satu tahun berkuliah di situ. Inilah proyek besar pendidikan di Indonesia hehe…</p>
<p>Sementara itu ada PPG dalam jabatan, yakni yang ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme guru yang sudah bekerja sebagai guru. Secara pribadi saya mengatakan ya memang perlu tapi bentuknya bukan dalam bentuk kuliah satu tahun seperti PPG Prajabatan, melainkan pelatihan dan pendampingan intensif dan sejenisnya, itu saja. Tapi sebagaimana saya katakan di depan bahwa tidak cukup guru menjadi professional, yang harus dilakukan adalah guru harus menjadi intelektual, berkualitas bagus dan seterusnya. Jadi, PPG dalam jabatan tidak cukup untuk program meningkatkan kualitas dan intelektualitas guru sekarang.</p>
<p>4. Perlu atau tidak kah pendidikan profesi untuk pendidik (guru dan dosen)? Apa alasannya?</p>
<div id="attachment_502" class="wp-caption alignleft" style="width: 398px"><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/11/17/kritik-atas-pendidikan-profesi-guru-dan-solusinya-hasil-dialog/gtt-demo/" rel="attachment wp-att-502"><img class="size-full wp-image-502  " style="margin:3px;" title="Guru GTT Demo" src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/gtt-demo.gif?w=594" alt="Guru GTT Demo"   /></a><p class="wp-caption-text">Guru GTT Demo</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Jawab: </strong>tidak perlu, karena guru dan dosen sudah bekerja, dengan kata lain sudah memiliki profesi, untuk apa dididik lagi untuk menjadi pekerja atau profesional? Kalau yang dimaksud pendidikan profesi untuk menjadikan guru dan dosen menjadi profesi, loh bukankah sekarang guru dan dosen juga sudah sebuah profesi? Kalaupun yang dimaksud pendidikan profesi tersebut adalah cara untuk meningkatkan profesionalitas dan kualitas guru dan dosen, maka seperti argument saya di depan, bentuknya mesti jelas, yakni pendampingan dan pelatihan intensif untuk guru, pemberdayaan MGMP dan sejenisnya (untuk PPG dalam jabatan), sedangkan yang PPG Prajabatan sama sekali tidak relevan, tidak efektif dan efisien dari sisi biaya, dan dasar epistemology dan empirisnya gak kuat (lihat argument saya di depan).</p>
<p>Untuk dosen lebih-lebih lagi buat apa? Dosen untuk menjadi berkualitas ya cukup mengaktifkan diskusi intelektual, melakukan penelitian, banyak membaca, melakukan pengadian masyarakat, dan studi lanjut. Mereka yang masih S1 harus studi S2, yang S2 studi lagi untuk S3, yang S3 bisa berupaya jadi professor atau mengambil post-doctoral di banyak kampus di luar (untuk di Indonesia aktivitas belajar post-doctoral agaknya belum familiar). Saya pikir pemerintah jangan lebay deh membuat gagasan yang maunya biar jadi trend, jadi brand, sebuah penanda keberhasilan ide dan program pendidikan di bawah periode menteri tertentu, tapi jelas mubazir dan konyol idenya.<strong> </strong></p>
<p>5. <strong>(Jika Perlu)</strong> Bagaimana konsep itu (PPG) yang harus disusun? <strong>(Jika tidak) </strong>Bagaimana alternatif peningkatan mutu pendidikan yang tepat -dipandang dari segi gurunya- mengingat dalam tataran global pendidikan kita tertinggal dari bangsa-bangsa lainnya?</p>
<p><strong>Jawab: </strong>Masalahnya tidak sesimpel dijawab perlu atau tidak PPG. Tentu tidak adil juga kalau memang di masyarakat kita, misal ada mahasiswa yang non-kependidikan mendadak di tengah atau akhr perkuliahannya dia menjadi sadar dan terbentuk niatnya bahwa menjadi guru adalah tugas mulia, dan dorongan itu menjadikan ia berniat sungguh-sungguh jadi guru. Secara factual banyak juga para pendidik yang bagus di masyarakat latar belakangnya justru bukan berasal dari kampus-kampus kependidikan, namun karena mereka serius secara mandiri membaca dan terjun dalam aktivitas pendidikan, maka mereka justru membangun pengtahuan pedagoginya sendiri menjadi lebih baik berbasis pada pengalaman riil. Oleh karena itu PPG Prajabatan boleh ada namun dengan catatan: bahwa mahasiswa S1 kependidkan tidak ikut dalam program tersebut.</p>
<p>Pihak yang boleh ikut PPG Prajabatan adalah mereka yang lulusan kampus non-kependidikan, catatan kritisnya adalah: harus diseleksi ketat, mulai dari niat tulusnya, apakah hanya untuk asal bekerja dapat duit (niat profesi), atau niatnya untuk mengabdikan diri dalam aktivitas pendidikan (niat amatir)? Kalau niatnya adalah yang pertama, maka harus ditolak untuk masuk PPG Prajabatan. Soal niat ini pun sebenarnya juga masalah tersendiri di kampus kependidikan, karena faktanya di kampus kependidikan juga banyak mahasiswanya yang tidak berniat jadi guru, jadi ia kuliah asal mendapat aktivitas pasca SMA/SMK/MA saja, asal mendapat ijazah untuk bekerja. Jadi, niatnya adalah adalah sekadar bekerja dapat duit, selesai. Bagi saya pribadi mereka yang sperti itu tidak layak menjadi guru yang berkualitas. Mereka mestinya bekerja di sector yang memang tujuannya untuk mendapat profit langsung, misal di dunia industri, wirausaha, pertanian dan sejenisnya.</p>
<p>Nah, dengan adanya seleksi ketat tersebut, maka mereka para mahasiswa lulusan program non-kependidikan yang bisa diterima adalah para pilihan calon guru, kualitasnya juga pasti diharapkan menjadi lebih baik. Di sinilah PPG Prajabatan desainnya mestinya tidak hanya satu tahun, itu khan seperti kursus singkat saja. Idealnya dengan tujuan untuk membekali dasar teoretik pedagogi, metodologi pembelajaran, manajemen sekolah, teori kurikulum, pengembangan kurikulum, sosiologi pendidikan, filosofi pendidikan dan lainnya butuh waktu 2 sampai 3 tahun termasuk praktik pembelajaran di lapangan (PPL). Jadi tidak sebagaimana desain PPG Prajabatan yang ada dalam draft sekarang, cuma 1 tahun, jadi sperti kursus singkat menjadi tukang ngajar.</p>
<p>Nah, untuk PPG dalam jabatan sebagaimana saya kemukakan di depan, selain dengan pelatihan dan pendampingan intensif, para guru juga dapat melakukan studi lanjut ke jenjang S2 dan S3. Kenapa tidak? Jadi mereka jelas tidak hanya dapat <em>up date</em> pengetahuan, tapi juga dapat gelar, artinya: secara pragmatis tunjangan kesejahteraan mereka akan naik. Selain itu, kalau program S2 dan S3nya bagus, maka tidak hanya keuntungan pragmatis saja yang didapat guru, melainkan memang betul-betul guru dapat meningkatkan kualitas intelektual dirinya. Tentu kendalanya adalah soal biaya. Namun sejauh yang saya ketahui pemerintah punya alokasi beasiswa untuk keperluan studi lanjut guru tersebut. Justru yang paling rawan adalah seringkali di lapangan, para guru progresif yang berniat studi lanjut sering dihalang-halangi oleh para guru senior namun berpandangan konservatif. Perasaan senioritas (<em>age-ism</em>) dan rasa tidak mau disaingi dan dilangkahi karirnya membuat upaya studi lanjut guru-guru berkualitas jadi terhambat.</p>
<p>Selanjutnya, dari pertanyaan poin ke-5 (lima) tersebut, saya rasa acuan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak selayaknya menurut pada apa yang ada di negara-negara Barat dengan mengatakan “untuk mengejar ketertinggalan kita” dari mereka. Kalau kita mengatakan hal itu, artinya sama saja kita menyatakan bahwa tujuan dan orientasi pendidikan kita sama dengan negara-negara Barat yang ingin kita kejar tersebut, artinya juga: kita ada pada satu <em>track</em> lomba lari yang sama dengan tujuan finish yang sama. Ini artinya kita terjebak pada pola pikir ideologi kompetisi dan juga praktik kompetisi pendidikan dalam konteks kapitalisme global. Mestinya Indonesia—dalam tujuan peningkatan kualitas guru misalnya—punya tujuan sendiri, dalam arti kualitas guru Indonesia konsep idealnya tentu berbeda dengan konsep guru berkualitas di Amerika, Jepang dan lainnya. Memang ada anasir universal yang bisa diambil, tetapi tetap ada anasir lokal, nasional, yang hanya dapat dibangun berdasrkan pada konteks Indonesia. Dengan kata lain, jalur upaya peningkatan kualitas guru kita berbeda dengan negara seperti Amerika dan kawan-kawannya.</p>
<p>Kalau ada pertanyaan: loh kalau acuannya tidak ke negara-negara Barat yang sudah maju lalu apa? Kita akan jalan di tempat dong! Bagi saya itu ketakutan yang berlebihan yang didasari oleh logika kompetisi dan inferioritas diri warisan kolonialisme. Ada logika lain yang harus dibangun, yakni logika solidaritas, kebersamaan, gotong royong, dan membuat target-target personal. Analoginya adalah: kita cukup membuat target-target capaian sendiri, misalnya kita ingin fasih berbahasa Inggris dengan skor TOEFL 550, ya itu target kita sendiri yang kita upayakan untuk kita capai. Tidak ada urusannya harus berkompetisi dengan orang lain yang juga punya target sama atau lebih ari skor TOEFL 550. Kalau pendidikan kita dikatakan tertinggal dalam tataran global, maka perlu dipertanyakan, siapa yang mengatakan hal itu? Apakah pernyataan tersebut mendasarkan pada penilaian PISA, TIMMS, THE, QS, Webometric, OECD dan lainnya? Mengapa tidak membuat target sendiri berdasarkan pada acuan nilai dan ideologi kita sendiri? Memangnya para pakar pendidikan, aktivitas dan praktisi pendidikan yang ada di Indonesia bodoh-bodoh hingga harus membebek pada konsep dan standar penilaian institusi-institusi tersebut? Ataukah sebenarnya kita bisa membuat konsep penilaian sendiri berdasrkan pada acuan nilai dan ideologi kita, hanya saja ternyata pemerintah tidak melihat itu, pemerintah dengan rasa inferioritas warisan nalar dan kultur kolonial tidak percaya diri dan kemudian ngikut arus untuk sukarela didikte, dijajah, dikolonialisasi institusi-institusi tersebut.</p>
<div id="attachment_501" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/11/17/kritik-atas-pendidikan-profesi-guru-dan-solusinya-hasil-dialog/seorang-guru-sedang-mengajar-di-kelas-ilustrasi-_111101120757-230/" rel="attachment wp-att-501"><img class="size-full wp-image-501  " style="margin:4px;" title="Hanya dipisahkan dinding " src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/seorang-guru-sedang-mengajar-di-kelas-ilustrasi-_111101120757-230.jpg?w=594" alt="Hanya dipisahkan dinding "   /></a><p class="wp-caption-text">Hanya dipisahkan dinding</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan begitu, artinya sekali lagi Anda terjebak pada pendiktean penilaian oleh institusi tertentu, yang mereka juga punya standar penilaian sendiri, berdasarkan pada basis ideologi dan nilai tertentu. Standar penilaian PISA dan Ujian Nasional (UN) aja beda, standar THE, QS dan Webometric untuk menilai “ranking” kampus-kampus juga berbeda. Masuk dan mengiyakan penilaian mereka artinya mengiyakan desain tata dunia global yang mereka idealkan untuk diwujudkan, artinya juga mengiyakan konsep nilai dan ideologi yang mendasari penilaian mereka. Di sisi lain dengan demikian imbasnya dari menunduk di bawah penilaian THE dan QS untuk menjadi world class university misalnya artinya semua energy akan dilakukan oleh kampus-kampus untuk mengikuti kompetisi tersebut yang boros duit tapi hasilnya nol untuk rakyat riil. Orientasi tersebut akan memangkas sensitivitas dan daya baca kritis serta keberpihakan kampus-kampus kita pada tujuan transformasi sosial masyarakat riil. Dari kacamata studi post-kolonial, kita punya konteks sendiri, kita punya konteks sosio-historis sendiri, kita punya kedaulatan sendiri untuk menentukan apa yang penting dan prioritas bagi kita sendiri.</p>
<p>Bagi saya, jangan risau dan terlalu berkiblat pada Barat yang ironisnya sampai sekarang masih meneguhkan kultur-kultur kolonialisme di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Beda cara pandang, paradigm, ideologi, juga akan berimbas pada beda acuan kualitas dan kebermaknaan. Kalau saya menggunakan dasar pro-rakyat dan keadilan sosial dalam membuat pemeringkatan kampus-kampus dunia, atau membuat perankingan dunia untuk pemerintah yang pro-rakyat dan keadilan sosial, pastinya negara-negara Amerika Latin seperti Venezuela, Bolivia, Brazil yang akan menempati peringkat pertama. Tapi dengan basis ideologi “elitism” dan/atau neoliberalisme, maka kampus-kampus yang dinilai oleh THE, QS, dan Webometric akan menempatkan kampus-kampus di Amerika sebagai unggulan berdasarkan kuantitas publikasi dan <em>mutual relationship</em> mereka dengan dunia industri. Saya pikir kita mesti paham betul praktik neo-kolonialisasi yang dilakukan oleh institusi “negara baru” ini…</p>
<p>6. Menurut Anda, tepatkah jika sertifikasi guru juga dimaksudkan untuk mengangkat kedudukan guru yang akhir-akhir ini di pandang &#8220;rendah&#8221; di banding profesi -dokter, arsitek, TNI-  lainnya?</p>
<p><strong>Jawab: </strong>tidak tepat. Sertifikasi ya sekadar untuk syarat naik gaji melalui tunjangan profesi saja. Tidak lebih dari itu. Ini khan soal pemahaman dan paradigm berpikir sebenarnya. Guru dipandang rendah dibanding pekerjaan lain sebenarnya ketika dilihat dari prestisenya, nah prestise tersebut dilihat dari kepemilikan harta, benda, kekayaan, intinya adalah soal kesejahteraan yang berpangkal pada besaran gaji guru yang tidak seberapa. Kalau di Finlandia guru adalah pekerjaan yang prestise, kenapa? Ya karena gajinya tinggi, selain itu mereka dapat membawa kredibilitas diri mereka di sekolah dan masyarakat. Dulu konsep guru di Nusantara khan juga begitu, dihormati di padepokan, perguruan dan juga di masyarakat, tapi kemudian bergeser menjadi tidak prestise lagi karena perannya dipersempit hanya di sekolah dan gajinya rendah, bagi mereka calon mahasiswa yang cerdas tapi berpikiran modern (modern diartikan sebagai yang mencita-citakan kesuksesan dalam bentuk materi) tentu tidak akan memilih pekerjaan sebagai guru yang bergaji rendah, akhirnya mereka yang “cerdas” namun karena sejak kecil dibangun kesadaran bahwa ideal orang sukses dan orang modern adalah sebagai dokter, insyur, pengacara dll yang gajinya tinggi dan dihormati orang, maka mereka tidak masuk kampus keguruan, jadilah input LPTK dan eks-LPTK yang menjadi univesitas sekarang rendah.</p>
<p>Pandangan rendah berdasarkan prestise juga patut dipertanyakan, prestise itu khan gengsi, gengsi itu pengertiannya gak jelas, seperti penilaian yang dilakukan oleh anak-anak muda mendasarkan pada konsep keren, <em>cool, </em>gaul dst. Setidaknya acuan nilai dari gengsi, keren dan cool adalah merujuk pada hal-hal yang bersifat fisik-material, keren dan cool dilihat dari tampilan fisik seseorang, pakaian, dandanan rambut, gaya hidup dll, gengsi juga dilihat dari keberpunyaan materi sejenisnya. Pertanyaan saya: apakah tepat menilai guru berdasarkan pada konsep gengsi yang acuannya adalah fisik-material? Tentu tidak tepat karena bidang kerjanya beda, yang diolah adalah manusia, tentu akan beda kalau menggunakan konsep gengsi pada profesi yang memang tujuannya adalah untuk profit, misalnya pengusaha, dll. Pada alam kapitalisme global memang segala jenis profesi atau pekerjaan dalam upaya untuk dinaikkan gengsinya akan dilihat dari upah, bayaran atau gaji yang diterima, semuanya dimaterialkan dan dikuantitatifkan. Inilah yang disebut oleh Giroux sebagai <em>culture of positivism </em>yang sudah merasuk pada nalar pikir masyarakat kapitalisme akhir (<em>the late of capitalism</em>).</p>
<p>Kalau mau ikut-ikutan alur pikir tersebut juga bisa, yakni caranya adalah dengan menaikkan gaji guru. Saya pun sepakat dengan gaji guru naik, tapi beda dasar ideologisnya. Bagi saya, gaji guru harus naik tidak untuk menaikkan gengsi atau prestisenya dan derajatnya dibandingkan pekerjaan lain. Gaji tersebut hanya efek yang niscaya harus diberikan oleh pemerintah dengan jalan memahami dulu bahwa posisi guru memang sudah semestinya sama dengan jenis pekerjaan lain, atau bahkan lebih tinggi. Kalau TNI menjaga negara maka ia digaji tinggi, dokter menyelamatkan nyawa juga digaji tinggi, pengacara menyelamatkan masa depan seseorang dari jerat hukum juga dikasih imbalan tinggi, maka guru sebagai orang yang mengolah dan membangun potensi anak didik, mengarahkan masa depannya, menyiapkan para pemimpin negara, dan memperbaiki karakternya juga harus digaji tinggi. Menaikkan derajat guru dengan demikian pertama adalah melalui merombak cara pikir modernitas dan kapitalis yang menganggap peran guru di sekolah saja. Peran guru harus dikembalikan sebagai guru di masyarakat juga selain di sekolah, di situlah ia sebagai intelektual organik (Gramsci) dan intelektual transformatif (Giroux) dapat dijalankan dengan baik. Ketika guru perannya sudah menjadi penting di masyarakat—dan dalam konteks yang lebih tinggi adalah negara—maka konsekuensinya adalah penghargaan terhadap guru juga harus tinggi, termasuk kesejahteraan, akses terhadap pengetahuan, jaminan kesehatan, keamanan dan lainnya.</p>
<p>7. Boleh dibilang dengan diberlakukannya PPG bagi lulusan LPTK berarti pemerintah menafikkan mutu LPTK sendiri. Bagaimana tanggapan Anda?</p>
<p><strong>Jawab: </strong>yang Anda maksud tentu adalah PPG Prajabatan. Ya, saya pikir program tersebut memang melecehkan keberadaan LPTK yang ada. Kalau tujuan PPG Prajabatan adalah untuk meningkatkan kualitas guru dalam kemampuan pedagogisnya—terlebih dulu dengan didasari oleh laporan dari “lapangan” bahwa kualitas mahasiswa lulusan LPTK dan universitas eks-IKIP sekarang tidak lebih baik dari lulusan SPG dulu—maka sudah semestinya yang diperbaiki adalah desain dan praksis perkuliahan di LPTK. Bukan malah membuat program baru yang mubazir dan menyalahi konsep pendidikan dan keguruan serta cenderung merunduk di bawah logika kapitalisme (<em>division of labor and professionalism</em>). Jika dilihat pada draft panduan PPG Prajabatan maka mahasiswa lulusan S1 kependidikan juga wajib ikut PPG tersebut, padahal yang dipelajari di PPG Prajabatan tersebut ada PPL, ada materi ilmu pendidikan, ada subjek palajaran tertentu, nah itu khan sudah dipelajari selama mahasiswa tersebut kuliah S1. Lalu untuk apa ikut PPG Prajabatan ketika materinya sama saja? Kalau materinya beda, bedanya di mana? Kalau ada konsep, materi dan desain belajar yang beda yang tujuannya untuk peningkatan kualitas lulusan, kenapa tidak dimasukkan dalam program S1 saja? Alasannya jelas, dengan PPG Prajabatan mahasiswa yang sudah lulus S1 kependidikan harus keluar duit lagi, memeras tenaga, pikiran dan lainnya lain. Dari itung-itungan ekonomi ini jelas tidak efisien. Yang untung secara ekonomi tentu kampus-kampus yang mendapat kesempatan sebagai penyelenggara PPG Prajabatan, karena uang dari mahasiswa akan mengalir ke kas mereka.</p>
<div id="attachment_499" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/11/17/kritik-atas-pendidikan-profesi-guru-dan-solusinya-hasil-dialog/demo-guru-bantu/" rel="attachment wp-att-499"><img class="size-full wp-image-499" title="Demo guru bantu" src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/demo-guru-bantu.jpg?w=594" alt="Demo guru bantu"   /></a><p class="wp-caption-text">Demo guru bantu</p></div>
<p>Saya punya cerita analogi yang serupa: dalam kasus UN sekolah-sekolah mewajibkan siswa-siswinya untuk mengikuti Bimbel agar siswa sekolah tersebut lulus UN 100%. Siswa wajib bayar per kepala sekian puluh ribu rupiah. Nah, sekolah bekerjasama dengan Bimbel tersebut, akhirnya sekolah dapat diskon yang bisa berupa potongan harga atau bonus ke dompet guru-guru di sekolah tersebut. Tapi ternyata lewat jalan lain bisa dilakukan dengan cara dan nalar proyek, yakni: guru-guru mendirikan Bimbel sebagai cara mencari duit, Bimbelnya sendiri berkantor di sekolah tersebut, Bimbel itu berfungsi sebagai tim sukses lulus UN 100%, akhirnya yang dapat untung juga guru-guru di sekolah tersebut yang sekaligus sebagai tenaga tutor Bimbelnya. Kasus PPG Prajabatan di kampus-kampus juga agaknya bisa terjadi dengan logika yang sama, tapi semoga saja tidak.</p>
<p>Dengan demikian apakah ini pelecehan atau tidak, ya tergantung dari sudut pandang siapa? Para dosen dan birokrat kampus LPTK mungkin lebh memandang ini menguntungkan dari sisi pemasukan yang akan didapat oleh kampus, persis ketika kampus membuka program baru, ditambah lagi ketika pihak kampus menganggap bahwa untuk menjadi profesi maka guru atau calon guru harus sekolah profesi dulu. Kalau merujuk pada UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada penjelasan pasal 15 dinyatakan bahwa “pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus.” Pengertian pendidikan profesi tersebut merujuk pada konsep pendidikan profesi yang dilalui oleh dokter, psikolog, akuntan, advokat dan sejenisnya. Karakternya jelas, yakni spesifikasi, spesialisasi, penyiapan tenaga kerja dengan kemampuan tertentu yang jelas untuk menjalankan aktivitas kerja tertentu yang spesifik dan special. Nah, guru jelas berbeda, bidang garapan guru lebih luas dan lintas-bidang aktivitas, tidak spesifik dan spesialisasi. Guru dalam perspektif pedagogi kritis harus terlibat dalam aktivitas politik untuk transformasi sosial, artinya ia melintas batas bidang pedagogi dan politik, di sisi lain guru juga harus paham dimensi psikologis anak didiknya, di sini juga guru melintas batas bidang pedagogi dan psikologi, dan banyak lagi contohnya. Artinya: salah besar menyamakan guru dengan pekerjaan atau profesi seperti dokter! Oleh karenanya, PPG Prajabatan sebagai sekolah untuk menyiapkan tukang ngajar dengan spesifikasi dan kompentensi professional (karena Cuma satu tahun), yang dibuthkan adalah reformulasi pendidikan keguruan di LPTK untuk membangun pribadi guru lulusannya menjadi intelektual transformatif.</p>
<br />Filed under: <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/pedagogi-kritis/'>Pedagogi Kritis</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendidikankritis.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendidikankritis.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendidikankritis.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendidikankritis.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendidikankritis.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendidikankritis.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendidikankritis.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendidikankritis.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendidikankritis.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendidikankritis.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendidikankritis.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendidikankritis.wordpress.com/497/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendidikankritis.wordpress.com/497/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendidikankritis.wordpress.com/497/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=497&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/11/17/kritik-atas-pendidikan-profesi-guru-dan-solusinya-hasil-dialog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/demo-guru-bantu.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/demo-guru-bantu.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Demo guru bantu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c604c22050f0a0ec64e1a9801580bb86?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisubkhan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/gtt-demo.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Guru GTT Demo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/seorang-guru-sedang-mengajar-di-kelas-ilustrasi-_111101120757-230.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hanya dipisahkan dinding </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/demo-guru-bantu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Demo guru bantu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ringkasan Matakuliah Sistem Pendidikan Nasional</title>
		<link>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/11/01/ringkasan-matakuliah-sistem-pendidikan-nasional/</link>
		<comments>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/11/01/ringkasan-matakuliah-sistem-pendidikan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 15:34:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edi subkhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Perkuliahan (Unnes)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikankritis.wordpress.com/?p=429</guid>
		<description><![CDATA[Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang (Unnes) Semester 1 Rombel 1 &#38; 2 (Drs. Hardjono, M.Pd, Drs. Sutomo, M.Pd, Dr. Nugroho, M.Psi, Edi Subkhan) Tujuan dipublikasikannya catatan pendek (ringkasan) bahan perkuliahan ini adalah sebagai dokumentasi dan acuan awal bagi mahasiswa yang membacanya. Agar dapat mencari lebih jauh konsep-konsep dasar yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=429&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Program Studi Teknologi Pendidikan</strong></p>
<p><strong>Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang (Unnes)</strong></p>
<p><strong>Semester 1 Rombel 1 &amp; 2 (Drs. Hardjono, M.Pd, Drs. Sutomo, M.Pd, Dr. Nugroho, M.Psi, Edi Subkhan)</strong></p>
<p>Tujuan dipublikasikannya catatan pendek (ringkasan) bahan perkuliahan ini adalah sebagai dokumentasi dan acuan awal bagi mahasiswa yang membacanya. Agar dapat mencari lebih jauh konsep-konsep dasar yang diulas dalam ringkasan ini di banyak sumber belajar (buku, internet, jurnal dll). Ringkasan ini sekadar sebagai panduan ringkas saja, sekaligus memantik rasa ingin tahu dan semangat belajar bersama di kelas. [<span style="color:#ff0000;">ini ringkasan tentatif</span>]</p>
<p><strong>Substansi yang diberikan sesuai dengan pertemuan: </strong></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>1. Perkenalan dan gambaran perkuliahan sistem pendidikan nasional</strong> (<strong><em><span style="text-decoration:underline;">SPN</span></em></strong>)<strong></strong></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>2. Gambaran dasar dan komponen sistem pendidikan nasional di Indonesia</strong></span></p>
<ul>
<li>Tiga komponen utama yang memengaruhi sistem pendidikan nasional, yakni (1) masyarakat; (2) negara; dan (3) pasar. Ketiganya punya kepentingan masing-masing = (1) Negara &#8211;&gt; penguatan kekuasaan &amp; <em>status quo</em>; (2) pasar (industri, dunia kerja) &#8211;&gt; pasar bebas, akumulasi kapital, <em><span style="text-decoration:underline;">profit</span></em>; dan (3) masyarakat &#8211;&gt; kedaulatan rakyat, transformasi sosial.</li>
<li>Dengan demikian pendidikan tidak netral, penuh kepentingan, dan desain dan sistem pendidikan akan berupaya memenuhinya. Pemenuhannya dapat dilihat dari (1) desain sistem pendidikan; (2) kurikulum; (3) pendekatan metodologis dst.</li>
<li>Selain itu masing-masing komponen sistem sosial tersebut memiliki “desain” sistem pendidikannya sendiri, yaitu: (1) Negara &#8211;&gt; sistem pendidikan formal (akademik, militer, dll); (2) pasar &#8211;&gt; formal dan nonformal (wirausaha, prestasi, skill, vokasional); dan (3) masyarakat &#8211;&gt; advokasi, pemberdayaan masyarakat.</li>
</ul>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>Tugas mahasiswa:</strong></span></p>
<ol>
<li> Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) Paramadina, untuk memenuhi kepentingan siapa? Argumentasiny apa? Siapa yang diuntungkan dan dirugikan? <strong></strong></li>
<li><strong></strong>Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ditujukan atau didasari oleh kepentingan komponen pihak mana? Siapa yang diuntungkan dan dirugikan?<strong></strong></li>
</ol>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong><em>3.   Dasar ideologis pendidikan nasional Indonesia</em></strong></span></p>
<ul>
<li><strong><em> Ideologi</em></strong> = pengetahuan tentang ide-ide (definisi <em>Destut de Tracy, Marx, Gramsci, Foucault</em>) (buku <em>Terry Eagleton</em>, ?; Tilaar, ?)… = dua dan/atau tiga besar ideologi &#8211;&gt; sosialisme &amp; kapitalisme à Islam (?)</li>
</ul>
<ul>
<li>Pancasila sebagai dasar ideologis bangsa &#8211;&gt; penjelasan ideologis sila-sila Pancasia (<em>Negara Paripurna</em>, Yudi Latif, 2011) = <strong>ideologi terbuka</strong></li>
</ul>
<ul>
<li>Jejak historis Pancasila &#8211;&gt; ditafsir Soekarno (Marxisme-sosialisme) dan Orde Baru (developmentalisme dan militerisme) (<strong>terbuka, mixed ideologies, )</strong>…</li>
</ul>
<ul>
<li>Pancasila &#8211;&gt; UUD 1945 &#8211;&gt; UU &#8211;&gt; PP dst…</li>
</ul>
<p>Tujuan: <strong><em>bangsa</em> </strong><strong>&#8211;&gt;</strong> “mencerdaskan kehidupan bangsa”, dst…</p>
<ol>
<li>Pancasila sebagai dasar ideologis pendidikan nasional &#8211;&gt; maka tujuan pendidikan nasional adalah mewujudkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara &#8211;&gt; masuk di (1) kurikulum, (2) kebijakan, (3) sistem manajemen (sistem)</li>
</ol>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>Tugas mahasiswa</strong>:</span> (a) analisis salah satu bentuk/praktik pendidikan di Indonesia, apa kecenderungan ideologisnya? (lihat fenomena pendidikan, kebijakan pendidikan, pertanyakan: tujuannya, siapa yang diuntungkan dan dirugikan, dst).</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em><strong>4.      Dasar sosio-kultural pendidikan nasional Indonesia</strong></em></span></p>
<ul>
<li>Mengapa mesti melihat dasar sosio-kultural? Karena (1) pendidikan tidak lepas dr konteks sosio-kultural (Ki Hadjar: “<em>pendidikan bagian dari kebudayaan</em>”); (2) pendidikan ditujukan untuk mengolah, merubah kondisi sosio-kultural tsb (pedagogi kritis: “<em>pendidikan untuk transformasi sosial</em>”).</li>
<li>Realitas sosio-kultural Indonesia &#8211;&gt; <strong><em>multicultural</em></strong> (isme)</li>
<li>Fenomena multikultural berbuah/dimaknai sebagai = (1) kekayaan khazanah; (2) konflik (kelamahan dan kekuatan sekaligus)</li>
<li>Dijadikan sebagai dasar sistem pendidikan nasional = wujudnya…</li>
</ul>
<ol start="1">
<ul>
<li>Agama = tradisi, budaya beragam &#8211;&gt; tiap agama membuahkan kultur</li>
<li>Etnis = tiap etnis punya kekhasan budaya sendiri-sendiri, &#8211;&gt; bahasa, nilai, tradisi, norma, adat, produk material (bangunan, pakaian dst)</li>
<li><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Kelas sosial</span></em></strong> = punya kekhasan budaya sendiri (kaya, miskin dst)</li>
<li>Ideologis = fundamental, moderate, dst…</li>
</ul>
</ol>
<ul>
<li>Pendidikan berbasis budaya (<em>pendidikan bagian dari kebudayaan</em></li>
<li>Pendidikan multikultural (konservatif, liberal, kritis)</li>
<li>Pendidikan untuk transformasi sosial …</li>
</ul>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>Tugas mahasiswa</strong>:</span></p>
<p><strong>(1)   </strong>Berikan contoh <em><span style="text-decoration:underline;">salah satu</span></em> dari bentuk/praktik pendidikan berbasis budaya dan/atau untuk transformasi sosial, analisis (1) detil programnya, (2) pihak yang terlibat, (3) kendala dan masalah yang terjadi; (4) imbas atau efek sosio-kulturalnya; (5) rumuskan solusi alternatifnya..!</p>
<p><strong>(2)   </strong>Apa aktivitas kebudayaan di sekolah Anda selama ini? Apa makna kebudayaan dan berbudaya?</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em><strong>5.      </strong><strong>Dasar historis sistem pendidikan nasional Indonesia </strong></em></span></p>
<ul>
<li style="text-align:left;">Pendidikan di Indonesia secara historis dibagi menjadi beberapa masa, (1) pra-kolonial (Nusantara); (2) kolonial; (3) Soekarno; (4) Orde Baru; dan (5) reformasi-sekarang.</li>
</ul>
<div id="attachment_435" class="wp-caption aligncenter" style="width: 545px"><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/11/01/ringkasan-matakuliah-sistem-pendidikan-nasional/dasar-historis-spn-indonesia_1-2/" rel="attachment wp-att-435"><img class="size-full wp-image-435 " title="Dasar Historis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia" src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/dasar-historis-spn-indonesia_11.jpg?w=594" alt="Dasar Historis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia"   /></a><p class="wp-caption-text">Dasar Historis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia</p></div>
<ul>
<li>Karakteristik pendidikan bergerak dari yang semula: <strong>(1)</strong> individual, personal, elitis &#8211;&gt; populis, masal dan masif; <strong>(2)</strong> tradisional &#8211;&gt; modern &#8211;&gt; posmodern.</li>
</ul>
<ul>
<li>Tetap terdapat tiga jenis pendidikan pada tiap masa tersebut, yakni: (1) formal; (2) non-formal; dan (3) informal. Rinciannya adalah: (1) formal oleh negara dan swasta; (2) non-formal oleh negara, swasta dan rakyat; (3) informal oleh personal (magang), kolektif (diskusi, advokasi dll). Tapi sebenarnya kategorisasi tersebut <strong><em><span style="text-decoration:underline;">hanya untuk memudahkan analisis</span></em></strong> saja, tidak betul-betul ketat kategorisasinya. (<em><span style="text-decoration:underline;">non-formal</span></em> = selain formal)</li>
</ul>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>Tugas mahasiswa:</strong></span></p>
<p><strong>(1)   </strong>Mengapa muncul praktik pendidikan kolonial? Dasar <strong><em><span style="text-decoration:underline;">ideologisnya</span></em></strong> apa? Siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan? Apakah di masa sekarang masih ada atau tidak? Berikan argumentasi dan data-faktanya?</p>
<p><strong>(2)   </strong>Mengapa muncul praktik pendidikan “perlawanan”, yang posisinya berlawanan dengan penguasa (pemerintah), tidak mau didikte dan diatur oleh pemerintah? Apa dasar argumentasi <strong><em><span style="text-decoration:underline;">ideologisnya</span></em></strong>?</p>
<p><strong>(3)   </strong>Dengan melihat sejarah, kira-kira di masa manakah yang paling tepat untuk membangun pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik?</p>
<p><em><span style="color:#0000ff;"><strong>6.      Globalisasi dalam pertimbangan sistem pendidikan nasional Indonesia</strong></span></em></p>
<ul>
<li>Peta Timur dan Barat. Sekarang yang menghegemoni dunia adalah Barat, terutama Amerika Serikat (A.S.), di sana yang berkuasa adalah rezim neoliberal dan neokonservatif = yakni <em><span style="text-decoration:underline;">menggunakan negara untuk kepentingan pasar bebas</span></em>. Akibatnya = dunia <strong><em>pendidikan diarahkan untuk menyokong pasar bebas</em></strong>, demokrasi liberal, HAM, liberalisme, &#8211;&gt; melalui sistem pendidikan (“MBS”) dan muatan materi (kurikulum) = yang paling halus adalah melalui pengetahuan dan pendekatan pembelajaran (“KBK”).</li>
<li>Peta ekonomi dunia (Utara dan Selatan). Negara-negara maju = OECD. Isu yang muncul, menguat dan digunakan adalah <strong><em><span style="text-decoration:underline;">internasionalisasi pendidikan</span></em></strong>. Misal menggunakan ISO, olimpiade internasional, WCU, dll. Pertanyaan: (1) apa untungnya untuk rakyat &amp; bangsa Indonesia; (2) apakah capaian-capaian tersebut betul-betul bermakna, substansial, esensial, dan berkualitas? “Ukurannya” apa? (piala, hadiah, citra baik kampus); dan (3) itu semua untuk apa?</li>
<li>Isu kemandirian bangsa, kedaulatan pendidikan, rakyat dst&#8230; <strong>Pertanyaan</strong>: (1) sejalan atau tidak antara tujuan A.S. OECD, neoliberalisme, internasionalisasi pendidikan dengan tujuan bangsa Indonesia; (2) dengan sistem dan arah pendidikan yang “diarah-arahkan” oleh pihak “luar” tersebut apakah bangsa dan rakyat Indonesia akan berdaulat atau justru terjajah (<strong><em><span style="text-decoration:underline;">neo-kolonialisme</span></em></strong>), akan jadi apa, untung atau rugi, arah pendidikan akan ke mana dst?</li>
</ul>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>Tugas mahasiswa: </strong></span></p>
<p><strong>(1)   </strong>Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Apa tujuannya? Orientasinya ke mana? Apa untungnya bagi bangsa dan rakyat Indonesia?</p>
<p><strong>(2)   </strong>Vokasionalisasi = masifikasi SMK (kejuruan). Apa tujuannya? Untung ruginya bagi bangsa Indonesia apa &#8211;&gt; bandingkan dengan SMA-PT.</p>
<p><em><span style="color:#0000ff;"><strong>7.      </strong><strong>Tujuan pendidikan nasional Indonesia </strong><strong>&#8211;&gt;</strong> tujuan masing-masing institusi dll, kompromi&#8230;</span></em></p>
<ul>
<li>Tujuan pendidikan nasional dipengaruhi oleh cara pandang terhadap cita-cita ideal sebuah bangsa. Indonesia = “… <em>merdeka, berdaulat, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945</em>”. (<strong><em><span style="text-decoration:underline;">Pancasila</span></em></strong> dan UUD 1945) &#8211;&gt; “<em><span style="text-decoration:underline;">mencerdaskan kehidupan bangsa</span></em>” &#8211;&gt; diturunkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No. 20/2003)</li>
<li>Negara bersifat “<em>hegemonic</em>” = mengatur semua, ingin mengendalikan (<em>controlling</em>) semua praktik pendidikan di bawah pengawasan negara. &#8211;&gt; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (<strong><em>Kemdikbud</em></strong>). Namun faktanya pasti ada elemen yang “kontra” atau “oposisi” atau “di luar” jangkauan kekuasaan pemerintah (<em>counter-hegemonic</em>), misal: pendidikan alternatif, pesantren, dst. Mereka punya dasar dan <strong><em>tujuan pendidikan sendiri</em></strong> yang bisa sama atau tidak dengan tujuan pendidikan nasional, tapi yang jelas tidak “didikte” oleh pemerintah. Walau begitu kekuatan “<em>hegemonic</em>” negara tetap berupaya mengatur mereka melalui <strong><em>PNF</em></strong> dan <strong><em>Depag</em></strong> misalnya.</li>
<li>Desain sistem pendidikan nasional—dengan tujuan yang bermacam-macam—tetap desain pendidikan modern (<strong><em><span style="text-decoration:underline;">formal-modernitas: </span></em></strong><em>ijazah, dunia industry, kerja dll</em>). Pertanyaan: (1) nasib pendidikan yang tidak mau ikut arus modernitas—yang mengarah pada penguatan dunia industri kapitalisme global—bagaimana; (2) keberadaan pend.alternatif salah satunya karena kecewa dengan pendidikan formal, modern, dikatakan terjadi dehumanisasi dst = jadi, membuat desain sistem pendidikan dengan tujuan dan konsep yang berbeda. Bisakah desain lain tersebut berjalan?</li>
</ul>
<p><span style="color:#ff6600;"><strong>Tugas mahasiswa</strong>:</span></p>
<p><strong>(1)   </strong>Contoh masalah masih sama, yakni soal RSBI dan vokasionalisasi (kejuruan). Apakah tujuan pendidikan nasional Indonesia dalam pancasila dan UUD 1945 terwujud dalam program RSBI dan vokasionalisasi? Sebabnya apa? Lalu apa yang mestinya dilakukan?</p>
<p><strong>(2)   </strong>Adakah yang kurang dalam tujuan pendidikan nasional Indonesia? Apakah yang bermasalah di praktik atau konsep dasar tujuannya? Dst…</p>
<br />Filed under: <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/bahan-perkuliahan-unnes/'>Bahan Perkuliahan (Unnes)</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendidikankritis.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendidikankritis.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendidikankritis.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendidikankritis.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendidikankritis.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendidikankritis.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendidikankritis.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendidikankritis.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendidikankritis.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendidikankritis.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendidikankritis.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendidikankritis.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendidikankritis.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendidikankritis.wordpress.com/429/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=429&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/11/01/ringkasan-matakuliah-sistem-pendidikan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/fffffffffffffffffffffffffffff.png?w=150" />
		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/fffffffffffffffffffffffffffff.png?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Ki Hadjar Dewantara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c604c22050f0a0ec64e1a9801580bb86?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisubkhan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/11/dasar-historis-spn-indonesia_11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Dasar Historis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Desain Pembelajaran: Sistem Pendidikan Nasional</title>
		<link>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/10/16/desain-pembelajaran-sistem-pendidikan-nasional/</link>
		<comments>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/10/16/desain-pembelajaran-sistem-pendidikan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 05:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edi subkhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Perkuliahan (Unnes)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikankritis.wordpress.com/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[Matakuliah Sistem Pendidikan Nasional (SPN) Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang (Unnes) Semester gasal (untuk mahasiswa Semester 1, September s.d Desember 2011) Matakuliah ini diampu oleh Drs. Sutomo, M.Pd dan Drs. Hardjono, M.Pd. Saya sekadar sebagai dosen pengganti saja. Perkuliahan ini dilaksanakan 16 kali pertemuan, 2 pertemuan di antaranya adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=375&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_426" class="wp-caption alignleft" style="width: 220px"><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/10/16/desain-pembelajaran-sistem-pendidikan-nasional/winarno-surakhmad/" rel="attachment wp-att-426"><img class="size-full wp-image-426" title="Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi" src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/10/winarno-surakhmad.jpg?w=594" alt="Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi"   /></a><p class="wp-caption-text">Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi</p></div>
<p><strong>Matakuliah Sistem Pendidikan Nasional (SPN)</strong></p>
<p>Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)<br />
Universitas Negeri Semarang (Unnes)<br />
Semester gasal (untuk mahasiswa Semester 1, September s.d Desember 2011)</p>
<p>Matakuliah ini diampu oleh Drs. Sutomo, M.Pd dan Drs. Hardjono, M.Pd. Saya sekadar sebagai dosen pengganti saja. Perkuliahan ini dilaksanakan 16 kali pertemuan, 2 pertemuan di antaranya adalah mid test dan test akhir semester, jadi kuliah aktif 14 kali pertemuan.</p>
<p><strong>Substansi yang diberikan sesuai dengan pertemuan:</strong><br />
1.    Perkenalan, kontrak perkuliahan, dan gambaran perkuliahan sistem pendidikan nasional (SPN)<br />
2.    Gambaran dasar dan komponen sistem pendidikan nasional di Indonesia<br />
3.    Dasar ideologis pendidikan nasional Indonesia<br />
4.    Dasar sosio-kultural pendidikan nasional Indonesia<br />
5.    Dasar historis sistem pendidikan nasional Indonesia<br />
6.    Globalisasi dalam pertimbangan sistem pendidikan nasional Indonesia<br />
7.    Tujuan pendidikan nasional Indonesia à tujuan masing2 institusi dll, kompromi<br />
8.    <span style="color:#ff0000;"><em><strong>Ujian mid semester</strong></em></span><br />
9.    Sistem pendidikan formal di Indonesia<br />
10.    Sistem pendidikan non-formal dan informal di Indonesia<br />
11.    Kebijakan pendidikan nasional<br />
12.    Manajemen pendidikan nasional<br />
13.    Standar pendidikan nasional<br />
14.    Politik pendidikan nasional<br />
15.    Diskusi tema aktual sistem pendidikan nasional<br />
16.    <strong><em><span style="color:#ff0000;">Ujian akhir semester</span></em></strong></p>
<p><strong>Praktik perkuliahan:</strong><br />
Pak Tomo sudah memberikan tugas membuat makalah per kelompok yang akan dipresentasikan tiap masuk perkuliahan. Dasarnya tugas adalah Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPN). Sedangkan saya akan coba memberikan dasaran teoretik konsepsi sistem pendidikan nasional secara lebih komprehensif, agar fondasi pemahaman mahasiswa tentang sistem pendidikan nasional di Indonesia lebih kuat. Dengan demikian, tiap pertemuan kelompok-kelompok mahasiswa yang sudah dibentuk tersebut diskusi membawakan tema yang juga telah ditentukan sebelumnya. Peran saya sekadar mengarahkan diskusi dan mengaitkan bahasan diskusi dengan konsep dasar sistem pendidikan nasional secara komprehensif dan luas. Kemudian setelah diskusi selesai, saya kuatkan lagi dengan pemberian materi yang telah saya susun dalam 14 (empatbelas) pertemuan tersebut.</p>
<p><strong>Pendekatan metodologis perkuliahan:</strong><br />
Perkuliahan ini mencoba menggunakan pendekatan konstruktivisme sosial (<em>socio-constructivism</em>) yang diramu dengan prinsip-prinsip dasar pedagogi kritis (<em>critical pedagogy</em>). Dengan demikian mahasiswa diharapkan lebih banyak aktif, mencari, berbicara, berpendapat, kritis, analitis, sementara dosen lebih sebagai fasilitator yang mendampingi dan menjaga agar diskusi dan praktik belajar di kelas berlangsung terarah, yakni tetap dalam upaya agar mahasiswa mampu membangun pengetahuan sesuai dengan materi yang telah ditentukan sebelumnya. Substansi materinya juga diharapkan dapat dikaitkan dengan realitas sosial yang terjadi di masyarakat maupun diri mahasiswa. <span style="color:#ff6600;"><em>Kelas diharapkan dapat menjadi ruang demokratis dalam belajar dan membangun pengetahuan kritis bersama</em></span>. Bentuk teknisnya adalah: dibentuk kelompok-kelompok untuk melaksanakan tugas tertentu, dialog, lontar masalah (<em>problem posing</em>), dll.</p>
<p><strong>Tugas perkuliahan:</strong><br />
Tugas perkulihan mengikut apa yang sudah ditentukan oleh Pak Tomo. Saya hanya menambahkan agar makalah yang dibuat tersebut mesti menautkannya dengan realitas sosial nyata, disertai data, fakta dan informasi yang akurat, agar mahasiswa dapat berargumen secara meyakinkan ketika presentasi.</p>
<p><strong>Referensi utama:</strong></p>
<ol>
<li>Republik Indonesia. (2003).<em> Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional</em>. Jakarta.</li>
<li>Surakhmad, Winarno. (2009). <em>Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi.</em> Jakarta: Kompas.</li>
<li>Tilaar, H.A.R. (2009). <em>Kekuasaan dan Pendidikan: Manajemen Pendidikan Nasional dalam Pusaran Kekuasaan.</em> Jakarta: Rineka Cipta.</li>
<li>Dan beberapa referensi yang diberikan ketika perkuliahan (mahasiswa silakan mengusulkan referensi yang kiranya penting untuk dirujuk dan diskusikan bersama).</li>
</ol>
<br />Filed under: <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/bahan-perkuliahan-unnes/'>Bahan Perkuliahan (Unnes)</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendidikankritis.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendidikankritis.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendidikankritis.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendidikankritis.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendidikankritis.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendidikankritis.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendidikankritis.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendidikankritis.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendidikankritis.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendidikankritis.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendidikankritis.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendidikankritis.wordpress.com/375/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendidikankritis.wordpress.com/375/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendidikankritis.wordpress.com/375/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=375&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/10/16/desain-pembelajaran-sistem-pendidikan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/10/winarno-surakhmad.jpg?w=105" />
		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/10/winarno-surakhmad.jpg?w=105" medium="image">
			<media:title type="html">Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c604c22050f0a0ec64e1a9801580bb86?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisubkhan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/10/winarno-surakhmad.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Desain Pembelajaran: Kawasan Teknologi Pendidikan</title>
		<link>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/10/16/desain-pembelajaran-kawasan-teknologi-pendidikan/</link>
		<comments>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/10/16/desain-pembelajaran-kawasan-teknologi-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 05:15:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edi subkhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Perkuliahan (Unnes)]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikankritis.wordpress.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Matakuliah Kawasan Teknologi Pendidikan (TP) Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Semarang (Unnes) Semester gasal (untuk mahasiswa Semester 1, September s.d. Desember 2011) Matakuliah ini diampu oleh Prof. Haryono dan saya sendiri (Edi Subkhan). Perkuliahan ini dilaksanakan 16 kali pertemuan, 2 pertemuan di antaranya adalah mid test dan test akhir semester. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=373&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Matakuliah Kawasan Teknologi Pendidikan (TP)</strong></p>
<p>Program Studi Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)<br />
Universitas Negeri Semarang (Unnes)<br />
Semester gasal (untuk mahasiswa Semester 1, September s.d. Desember 2011)</p>
<p>Matakuliah ini diampu oleh Prof. Haryono dan saya sendiri (Edi Subkhan). Perkuliahan ini dilaksanakan 16 kali pertemuan, 2 pertemuan di antaranya adalah mid test dan test akhir semester. Jadi kuliah aktif 14 kali pertemuan. Dasar utama bahasan adalah definisi teknologi pendidikan tahun 2004 dari AECT:</p>
<blockquote><p>Educational technology is the <em><strong>study</strong></em> and <span style="color:#008000;"><strong><em>ethical practice</em></strong></span> of <span style="color:#ff6600;"><strong><em>facilitating learning</em></strong></span> and <span style="color:#800080;"><strong><em>improving performance</em></strong></span> by <strong><em><span style="color:#ff0000;">creating,</span> <span style="color:#333399;">using,</span> and <span style="color:#00ff00;">managing</span></em> <em>aprropriate technological processes</em></strong> and <span style="color:#ff6600;"><strong><em>resources</em></strong></span> (Alan Januszewski &amp; Michael Molenda [ed.], 2008: 1).</p></blockquote>
<p><strong>Substansi yang diberikan sesuai dengan pertemuan:</strong><br />
1.    Perkenalan dan gambaran umum teknologi pendidikan<br />
2.    Filsafat teknologi pendidikan<br />
3.    Definisi teknologi pendidikan 2004 oleh AECT<br />
4.    Komparasi antar-definisi teknologi pendidikan (perkembangan definisi)<br />
5.    Kajian kawasan kreasi (<em>creating</em>)<br />
6.    Kajian kawasan penggunaan (<em>using</em>)<br />
7.    Kajian kawasan pengelolaan (<em>managing</em>)<br />
8.    <span style="color:#ff6600;"><strong><em>Ujian mid semester</em></strong></span><br />
9.    Kajian kawasan proses dan sumber belajar (<em>process and resources</em>)<br />
10.    Kajian kawasan kajian (<em>study</em>, penelitian teknologi pendidikan)<br />
11.    Kajian teori-teori yang mendasari teknologi pendidikan (sosiologi, komunikasi, dan psikologi)<br />
12.    Media yang digunakan dalam praksis teknologi pendidikan<br />
13.    Bidang kerja teknologi pendidikan<br />
14.    Keahlian yang diperlukan sebagai teknolog pendidikan<br />
15.    Diskusi tema kontemporer teknologi pendidikan (ulas balik materi)<br />
16.    <strong><em><span style="color:#ff6600;">Ujian akhir semester</span></em></strong></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Praktik perkuliahan:</strong></span><br />
Tiap pertemuan diawali dengan diskusi yang dibawakan oleh kelompok-kelompok mahasiswa. Tema yang dibawakan telah ditentukan pada pertemuan sebelumnya, yakni tema yang dibahas di akhir tiap pertemuan. Misalnya pada pertemuan ke-10 (sepuluh), maka satu kelompok maju ke depan membawakan tema tentang “Kajian kawasan proses dan sumber belajar (<em>process and resources</em>)”. Dengan demikian, tiap pertemuan terdiri dari 2 (dua) aktivitas pembelajaran, yaitu: (1) diskusi; dan (2) materi perkuliahan.</p>
<p><strong>Pendekatan metodologis perkuliahan:</strong><br />
Perkuliahan ini mencoba menggunakan pendekatan konstruktivisme sosial (<em>socio-constructivism</em>) yang diramu dengan prinsip-prinsip dasar pedagogi kritis (<em>critical pedagogy</em>). Dengan demikian mahasiswa diharapkan lebih banyak aktif, mencari, berbicara, berpendapat, kritis, analitis, sementara dosen lebih sebagai fasilitator yang mendampingi dan menjaga agar diskusi dan praktik belajar di kelas berlangsung terarah, yakni tetap dalam upaya agar mahasiswa mampu membangun pengetahuan sesuai dengan materi yang telah ditentukan sebelumnya. Substansi materinya juga diharapkan dapat dikaitkan dengan realitas sosial yang terjadi di masyarakat maupun diri mahasiswa. Kelas diharapkan dapat menjadi ruang demokratis dalam belajar dan membangun pengetahuan kritis bersama. Bentuk teknisnya adalah: dibentuk kelompok-kelompok untuk melaksanakan tugas tertentu, dialog, lontar masalah (<em>problem posing</em>), dll.</p>
<p><strong>Tugas perkuliahan:</strong><br />
Tiap akhir perkuliahan—setelah penyampaian materi—mahasiswa diberi tugas sesuai dengan materi tersebut. Tugas berupa menjawab pertanyaan dan menuliskannya dalam beberapa paragraf dikerjakan bersama kelompok. Hasil tugas inilah yang dipresentasikan/diskusikan pada pertemuan selanjutnya di kelas.</p>
<p><strong>Referensi utama:</strong></p>
<ol>
<li>Januszewski, Alan &amp; Michael Molenda (eds.). (2008). <em>Educational Technology: A Definition With Commentary.</em> New York &amp; London: Lawrence Erlbaum Associates.</li>
<li>Loveless, Avril &amp; Viv Ellis (eds.). (2000). <em>ICT, Pedagogy and the Curriculum: Subject to Change.</em> London &amp; New York: RoutledgeFalmer.</li>
<li>Miarso, Yusufhadi. (2007). <em>Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.</em> Jakarta: Kencana Prenada Media Group.</li>
<li>Dan beberapa referensi yang diberikan ketika perkuliahan (mahasiswa silakan mengusulkan referensi yang dirasa penting untuk dirujuk dan bahas bersama).</li>
</ol>
<p>Cover Buku Prof. Yusufhadi Miarso, M.Sc</p>
<div id="attachment_423" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/10/16/desain-pembelajaran-kawasan-teknologi-pendidikan/yusufhadi-miarso/" rel="attachment wp-att-423"><img class="size-medium wp-image-423" title="Menyemai Benih Teknologi Pendidikan" src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/10/yusufhadi-miarso.jpg?w=300&#038;h=244" alt="Menyemai Benih Teknologi Pendidikan" width="300" height="244" /></a><p class="wp-caption-text">Menyemai Benih Teknologi Pendidikan</p></div>
<br />Filed under: <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/bahan-perkuliahan-unnes/'>Bahan Perkuliahan (Unnes)</a>, <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/teknologi-pendidikan/'>Teknologi Pendidikan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendidikankritis.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendidikankritis.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendidikankritis.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendidikankritis.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendidikankritis.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendidikankritis.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendidikankritis.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendidikankritis.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendidikankritis.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendidikankritis.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendidikankritis.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendidikankritis.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendidikankritis.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendidikankritis.wordpress.com/373/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=373&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/10/16/desain-pembelajaran-kawasan-teknologi-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/10/yusufhadi-miarso.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/10/yusufhadi-miarso.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Menyemai Benih Teknologi Pendidikan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c604c22050f0a0ec64e1a9801580bb86?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisubkhan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/10/yusufhadi-miarso.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Menyemai Benih Teknologi Pendidikan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komunitas Embun Pagi &#8220;Generasi&#8221; ke Berapa dan Mau Jadi Apa?</title>
		<link>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/08/13/komunitas-embun-pagi-generasi-ke-berapa-dan-mau-jadi-apa/</link>
		<comments>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/08/13/komunitas-embun-pagi-generasi-ke-berapa-dan-mau-jadi-apa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 00:46:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edi subkhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikankritis.wordpress.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Pada mulanya adalah kegelisahan dan harapan yang menjadikan beberapa orang pilihan tersebut bertemu dan diskusi. Pertemuan diadakan tiap malam hari Selasa Kliwon hingga kelompok tersebut familiar disebut sebagai perkumpulan Selasa Kliwon. Pertemuan itu diadakan di rumah Soerjomentaram atau dikenal sebagai Ki Ageng Suryomentaram. Sembilan orang anggotanya selain Ki Ageng Soerjomentaram dan Soetatmo Soeriokoesoemo adalah: Pronowidigdo, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=368&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada mulanya adalah kegelisahan dan harapan yang menjadikan beberapa orang pilihan tersebut bertemu dan diskusi. Pertemuan diadakan tiap malam hari Selasa Kliwon hingga kelompok tersebut familiar disebut sebagai perkumpulan Selasa Kliwon. Pertemuan itu diadakan di rumah Soerjomentaram atau dikenal sebagai Ki Ageng Suryomentaram. Sembilan orang anggotanya selain Ki Ageng Soerjomentaram dan Soetatmo Soeriokoesoemo adalah: Pronowidigdo, Prawirowiworo, R.M. Gondoatmodjo, B.R.M. Soebono, Soerjopoetro, Soerjoadipoetro, R. Soetopo Wonobojo, Soerjodirdjo, dan Soewardi Soerjaningrat.</p>
<p>Disebut orang pilihan karena mereka adalah elite intelektual waktu itu, Soewardi Soerjaningrat baru kembali dari pembuangannya yang sekaligus ia gunakan sebagai cara untuk mempelajari sebanyak-banyaknya pengetahuan—terutama pendidikan—di negeri Belanda, Gondoatmodjo adalah pemimpin Budi Utomo yang bekerja pada komite perkumpulan beasiswa Dharma Wara dan mewakili Paku Alam pada komite nasional dalam membentuk Dewan Rakyat, Soetatmo juga mewakili Paku Alam, Soetopo Wonobojo aktif juga di Budi Utomo dan lain-lainnya yang hampir semuanya terkait dengan Budi Utomo dan Paku Alam.</p>
<p>Dari perkumpulan tersebut yang paling senior adalah Ki Ageng Suryomentaram, ia sekaligus adalah pemimpin kelompok Selasa Kliwon. Ki Ageng Suryomentaram lahir sebagai anak raja Yogyakarta, yakni Hamengku Buwono VII, namun ia lebih memilih keluar istana dan bersatu dengan rakyatnya menjadi petani biasa di desa, ia juga kemudian meletakkan gelar kebangsawanannya dan memakai gelar “Ki”. Senior berikutnya adalah Soetatmo Soeriokoesoemo dan tentu saja Soewardi Soerjaningrat yang sudah tenar ketika pada Juli 1913 protes pada pemerintah Hindia Belanda soal perayaan ulang tahun kemerdekaan Belanda dari Napoleon Bonaparte.</p>
<p>Dari perkumpulan itulah pada 3 Juli 1922 Perguruan Taman Siswa lahir sebagai gagasan dari Soewardi mengenai perlunya pendidikan bagi rakyat, ia merumuskan tujuh butir tujuannya dalam mendirikan Taman Siswa yang kemudian menjadi formulasi yang tidak bisa diubah dan harus dihormati. Pada 31 Desember 1922 Soewardi bermusyawarah dengan Soetatmo untuk menentukan karakter dan aktivitas Taman Siswa ke depan, hingga pada 6 Januari 1923 Soetatmo mengundang para pemimpin Taman Siswa ke kediamannya untuk membentuk Komite Sentral (<em>Instituutraad</em>) dengan Ketua Satu dijabat oleh Soetatmo Soeriokoesoemo, Ketua Dua oleh Soerjopoetro, Sekretaris oleh Soewardi Soerjaningrat. Pada pertemuan itu Taman Siswa ditegaskan sebagai sekolah untuk mendidik rakyat. Begitu Taman Siswa berdiri, kelompok Selasa Kliwon membubarkan diri…[1]</p>
<p>***</p>
<p>Pada pertengahan tahun 2007 segerombolan anak-anak muda berkumpul, ngobrol ngalor-ngidul tak tentu arah, yang jelas satu yang mengemuka: kegelisahan, harapan, pertanyaan-pertanyaan, protes, dan imajinasi tentang masa depan yang tidak jelas. Tiap Selasa malam mereka kumpul di kost saling bergiliran, mendiskusikan hal-hal yang mungkin remeh-temeh, hal yang paling riil sampai yang paling abstrak dan tidak mungkin nyantol dalam benak mahasiswa awam waktu itu: filsafat! Lalu kemudian tiap pertemuan dibuat tema-tema tertentu, tema pertama tentang ideologi, kedua tentang politik, pendidikan dan seterusnya. Tanpa harus disuruh bagi yang berlebih kantongnya akan siap sedia membawa cemilan, mengikhlaskan diri menyeduh kopi susu untuk bekal ngobrol sampai pagi, atau sekadar berkreasi seni membuat bulatan-bulatan kepulan asap dari rokok yang sampai sekarang saya tidak pernah bisa melakukannya hmmm…</p>
<p>Penggagasnya kalau boleh disebut adalah (1) Muhammad Taufiqurrohman (Gus Tauf/Santri Sirun), waktu itu mantan Ketua BEM FBS Unnes, mahasiswa sastra Inggris yang memang sejak dilahirkan sudah ditakdirkan untuk cenderung menjadi pengorganisasi yang hebat; (2) Kang Keristiyan Mulyono, mahasiswa FBS juga yang jagoan nyeduh kopi susunya gak ada saingannya (sayang sekarang saya beralih ke susu jahe dan sejenisnya), beliau inilah sobat setia Gus Tauf yang betul-betul setia mendengarkan curhatan atau—mungkin juga—makiannya hehe, Kang Mul—begitu kami biasa memanggilnya—adalah pekerja keras, ulet, tangguh dengan pedoman nilai Jawa kuno “<em>alon-alon asal kelakon</em>”; (3) Kang Hanafi, mahasiswa FBS juga yang saya ingat waktu itu presentasi soal perdagangan karbon, juga seorang ulet pekerja sampai sekarang; (4) lalu seorang “khidzir” yang saya sering sebut “njeng sunan jogokali”, komentar-komentar sufistik-mistiknya selalu telak menghunjam di balik gegap gempita argumen rasional-kritis teman-temen lain; (5) Kang Riboet, cerpenis, penyair, dan budayawan muda yang tak diragukan lagi; (6) Giyanto, waktu itu mahasiswa adalah aktivitas sambilannya, sedang yang utama adalah wirausahawan muda pemilik rental di Sekaran, juga peminat kajian praxiologi; (7) Awaludin Marwan, ketua DPM Unnes waktu itu (dengan segenap kemampuan lobi dan politiknya yang tidak dimiliki kawan lainnya); (8) Kang Malik Abdul Karim, aktivis mahasiswa Muhammadiyah Unnes; (9) Kang Yoghas, legenda aktivis di FBS…dkk-dkk….</p>
<div id="attachment_369" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/08/13/komunitas-embun-pagi-generasi-ke-berapa-dan-mau-jadi-apa/45845_1448345854750_1416312981_31235757_188560_n/" rel="attachment wp-att-369"><img class="size-medium wp-image-369" title="Diskusi refleksi kecil 17 Agustus 2010 Komunitas Embun Pagi (Semarang)" src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/08/45845_1448345854750_1416312981_31235757_188560_n.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Diskusi refleksi kecil 17 Agustus 2010 Komunitas Embun Pagi (Semarang)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Diskusi refleksi kecil 17 Agustus 2010 Komunitas Embun Pagi (Semarang)</p></div>
<p>Lalu bergabung lagi beberapa kawan lainnya, ada Mas Fahmi Mubarok, mahasiswa Psikologi FIP Unnes waktu itu; Mas Said Muhtar, mahasiswa aktivis jurusan Hukum Unnes, sering datang juga mas Pompi dari HTI, Mas Abdul Haris Fitriyanto (Acong), mahasiswa Psikologi yang juga aktivis BEM FIP, juga akhirnya ikut juga Ucok dan Iqsan, kawan seperjuangan Om Awaludin Marwan di Undip yang sekali dua kali ikut meramaikan diskusi ketika &#8220;markas&#8221; sudah pindah ke Sampangan. Saya waktu itu sampai sekarang hanyalah cantrik setia, yang cita-cita tertinggi saya tidak lebih dari menjadi moderator diskusi, itu saja… (Kalau ada yang merasa kurang silakan ditambahi sendiri orang-orangnya yak..!) Kumpulan anak-anak muda yang betah ngobrol apa saja dari jam 8 malam sampai subuh itu menamakan dirinya Komunitas Embun Pagi, entah bagaimana filsafatnya, semua berhak menafsirkannya sendiri-sendiri (konon begitu kesepakatannya hmm…)</p>
<p>Perioder pertama adalah ketika diskusi tiap Selasa malam dilakukan para penggagasnya masih berdiam di sekitar kampus Unnes, yakni kira-kira pada masa akhir aktivitas kuliah (2007). Diskusi dilakukan secara bergantian dari satu kost ke kost lainnya. Periode kedua adalah ketika Gus Tauf dan saya hijrah ke Jakarta untuk belajar disambi bekerja, pada periode inilah kawan-kawan giat menulis di blog yang beralamatkan di: komunitasembunpagi.blogspot.com. Seperti awal mula, banyak hal ditulis dan diskusikan, Gus Tauf karena lanjut studi pada program pascasarjana di UI (ambil kekhususan <em>Cultural Studies</em>) maka satu dua kali nulis soal budaya dari perspektif <em>cultural studies</em>, Giyanto menulis soal ekonomi dan Praxiologi, Luluk (Awaludin Marwan) menulis soal politik, hukum, filsafat dan lainnya, Fahmi dan Haris menulis psikologi dan aktivisme mahasiswa, Kang Yoghas menulis hal-hal yang seakan remeh tapi ternyata bermakna filosofi mendalam, dan lain-lainnya.</p>
<p>Puncak periode ini ditandai dengan peluncuran buku—atau tepatnya “semacam buku”—yang diberi judul “Embun Pagi Nglindur” di FBS Unnes yang dihadiri tiga Guru Utama komunitas embun pagi, yakni Prof. Abu Su’ud, Pak Saratri Wilonoyudho, dan Kang Puthu. Pada periode kedua itu juga Luluk ikut melanjutkan studinya di Undip, magister hukum, juga yang tadi belum disebut tapi selalu berminat dalam interaksi dengan komunitas embun pagi adalah Mbak Elin (Nur Amri El Insiyati) juga studi lanjut di UI (ambil magister Psikologi).</p>
<p>Periode ketiga ditandai oleh migrasi aktivitas interaksi sosial dan tulis menulis dari blogspot menuju jejaring sosial facebook. Periode ketiga ini blog makin sepi dan akhirnya sama sekali berhenti tidak ada <em>up date</em> tulisan (2009), bukan berarti tidak ada yang menulis lagi dari kawan-kawan embun pagi, namun semuanya ditumpahkan dalam bentuk catatan-catatan di facebook yang memang memungkinkan untuk lebih bisa diakses dan publikasikan luas secara berjejaring ketimbang blogspot. Periode ketiga ini juga banyak yang kemudian studi lanjut, bahkan Luluk kembali memecahkan rekor untuk ambil S2 dua kali, yakni ke Onatie (Spanyol), itu belum lagi Luluk telah menerbitkan buku-buku tentang filsafat hukum yang konon laku keras di kalangan terbatas. Selain itu juga ditandai oleh eksperimen munculnya wujud gerak intelektual yang digagas oleh beberapa kawan, antara lain adalah Sekolah Tan Malaka oleh Muhtar Said, sekolah filsafat oleh Luluk (setelah balik dari Spanyol), eksperimen terakhir bahkan sempat menggandeng Gramedia untuk bedah buku di toko bukunya (jl. Pemuda Semarang), juga diskusi lintas disiplin-lintas generasi yang didukung penuh oleh Prof Tjetjep Rohendi Rohidi di Stonen (Semarang) tiap bulan.</p>
<p>Dan sejarah pun masih berlanjut, masih banyak eksperimen-eksperimen gerakan sosio-kultural-intelektual yang dapat diciptakan oleh teman-teman lainnya sampai sekarang dan nanti….</p>
<p>***</p>
<p>Maksud saya begini: komunitas-komunitas seperti embun pagi adalah komunitas sejenis kelompok diskusi Selasa Kliwon yang didirikan oleh Ki Ageng Suryomentaram, Soetatmo, Soewardi dan lainnya waktu itu, yakni komunitas embrionik yang memang fungsinya adalah untuk melahirkan komunitas-komunitas lain yang lebih spesifik dan jelas gerakannya. Apakah akan bergerak di bidang hukum, politik, pendidikan, budaya atau apa? Kelompok Selasa Kliwon memilih bergerak di bidang pendidikan dengan mendirikan Taman Siswa yang digagas awalnya oleh Soewardi, setelah itu kelompok Selasa Kliwon membubarkan diri, karena ibarat tujuan kelompok tercapai maka secara sukarela “harus” membubarkan diri. Tentu pertimbangan dari kelompok Selasa Kliwon untuk memilih bergerak dalam bidang pendidikan—atau bagi saya dapat disebut juga sebagai gerak politik pendidikan—berdasarkan pada analisis kritis kondisi dan situasi sosial, kultural, politik, dan ideologi waktu itu. Apa yang dilakukan oleh kawan-kawan “jebolan” komunitas embun pagi adalah eksperimen serupa, yakni mencoba untuk melakukan gerak yang lebih spesifik, menjadi “intelektual organik” dan “intelektual spesifik” sekaligus.</p>
<p>Mau bereksperimen apa saja tentu boleh, asalkan dasarnya jelas, paham peta politik dan ideologi, keberpihakannya juga jelas. Misalnya gerak sosial yang mau dibuat—entah komunitas diskusi baru, program kursus, gerakan advokasi, wirausaha, dll—harus jelas sasaran dan tujuannya apa? Secara personal, komunitas embun pagi ibarat kawah candradimuka yang mungkin memang tidak melahirkan orang-orang hebat, gerakan hebat atau sejenisnya, mungkin memang kapasitasnya sekadar sebagai “kawah candradimuka” tempat temu kangen, berbagi gelisah dan harapan, saling memotivasi, saling berdebat, dan hal-hal sejenis. Rasanya memang sejak awal sama sekali tidak ada Renstra dan target obsesif bahwa komunitas embun pagi harus jadi komunitas mapan di Semarang, tidak ada! Yang ada hanyalah mewarnai, menjadi bagian dari jejaring komunitas intelektual di Semarang, turut meramaikan, turut menjadi bandul “penyeimbang” dan sejenisnya.</p>
<p>Justru komunitas macam embun pagi inilah yang mestinya dibutuhkan di tengah hampir semua komunitas ingin memapankan dirinya, membangun karakter uniknya sendiri, namun ya itu saja, paling banter yang bisa dihasilkan adalah perhelatan diskusi, seminar, menerbitkan buku, dst, namun tidak mampu menghasilkan gerak sosial, kultural dan politik yang lebih riil secara meluas dan berjejaring. Sekarang mungkin adalah awal periode keempat dari komunitas embun pagi, saatnya memikirkan kembali bahwa yang perlu dipikirkan lagi secara serius bukanlah komunitas embun pagi itu sendiri, melainkan komunitas embun pagi akan melahirkan komunitas apa, gerakan sosial apa, partai politik apa (kalau perlu hehe…), sekolah alternatif macam apa, koperasi rakyat jenis apa, advokasi hukum berbentuk apa, pusat studi bidang apa, penerbitan buku <em>genre</em> apa dan lainnya.</p>
<p>Gus Tauf setelah usai studi di Jakarta sekarang ngajar di Unsoed, Luluk setelah lulus dari Undip dan Onatie sekarang mengajar di Unisula, Om Andy Volare sekarang sembari kuliah juga jadi dosen, Om Said sekarang mulai studi lanjut di Undip, Om Haris jadi dosen di FIP Unnes, Om Fahmi studi lanjut di UGM, Kang Malik jadi dosen di Pontianak, Om Giyanto dosen di IKIP PGRI di Palembang, dan lainya (mungkin hanya saya yang masih luntang-luntung gak jelas hehe…). Artinya, masing-masing personal punya perkembangan intelektual, psikologis dan bahkan spiritual masing-masing, secara kolektif juga sudah kelihatan pergeseran gerakan dari mana mau ke mana. Inilah sekali lagi saatnya bagi kita untuk merumuskan keadaan, membaca dan memahami kembali peta sosial, kultural, politik, ideologi sekitar kita, kontemplasi diri untuk memahami kembali juga sampai di mana perjalanan diri personal kita masing-masing, membuat sebanyak mungkin eksperimen gerakan-gerakan yang lebih riil dan konkrit. Bagi saya tentu tidak perlu membubarkan diri sebagaimana kelompok diskusi Selasa Kliwon bubar ketika Taman Siswa berdiri, embun pagi sebagai komunitas atau sekadar sebutan untuk sebuah konsep silaturahmi dan ruang berbagi gelisah dan harapan harus tetap ada, karena dari situlah minimal kita belajar satu sama lain, dan maksimal bisa berbagi ide tentang gerak sosial bagaimanakah yang dapat dibangun entah di Semarang, Purwokerto, Palembang, Pontianak dll….</p>
<p>Saya jadi teringat bagaimana kawan-kawan NGO—atau yang diperhalus oleh Orba menjadi LSM—di Jakarta, mulai memikirkan alternatif lain selain NGO, karena sebagaimana pernah diulas oleh Mansour Faqih (alm.) bahwa NGO sebagai satu bentuk gerakan sosial juga bermasalah, terutama soal pendanaan dan ideologinya. Satu yang dapat digagas mungkin adalah adanya komunitas semacam embun pagi ini yang murni dan berupaya tetap murni sejak dari gagasannya. Namun, bagaimanapun kerasnya keinginan saya atas komunitas embun pagi tersebut, tidaklah tangis tidaklah imperatif…</p>
<p>Tabik,</p>
<p>E.S.</p>
<p><strong>Footnote</strong></p>
<p>[1] Empat paragraf penggalan fakta sejarah di atas diambilkan dari buku Kenji Tsuchiya, <em>Demokrasi dan Kepemimpinan: Kebangkitan Gerakan Taman Siswa</em> (Jakarta: Balai Pustaka, 1992), hlm. 103-118.</p>
<br />Filed under: <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/refleksi/'>Refleksi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendidikankritis.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendidikankritis.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendidikankritis.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendidikankritis.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendidikankritis.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendidikankritis.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendidikankritis.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendidikankritis.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendidikankritis.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendidikankritis.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendidikankritis.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendidikankritis.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendidikankritis.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendidikankritis.wordpress.com/368/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=368&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/08/13/komunitas-embun-pagi-generasi-ke-berapa-dan-mau-jadi-apa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/08/45845_1448345854750_1416312981_31235757_188560_n.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/08/45845_1448345854750_1416312981_31235757_188560_n.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Diskusi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c604c22050f0a0ec64e1a9801580bb86?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisubkhan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/08/45845_1448345854750_1416312981_31235757_188560_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Diskusi refleksi kecil 17 Agustus 2010 Komunitas Embun Pagi (Semarang)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ki Hadjar, Juli 1913, dan Pendidikan Anti-Kolonialisme</title>
		<link>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/07/05/ki-hadjar-juli-1913-dan-pendidikan-anti-kolonialisme/</link>
		<comments>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/07/05/ki-hadjar-juli-1913-dan-pendidikan-anti-kolonialisme/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 03:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edi subkhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikankritis.wordpress.com/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Juli menyimpan cerita tersendiri bagi Ki Hadjar Dewantara. Pertama karena Perguruan Tamansiswa lahir pada 3 Juli 1924, dan sebelumnya, Juli 1913 ia berani memprotes keras pemerintah kolonial Hindia Belanda atas rencana perayaan besar-besaran 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis di masa Napoleon. Rencananya perayaan itu tidak hanya melibatkan para pembesar saja, melainkan rakyat golongan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=358&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Juli menyimpan cerita tersendiri bagi Ki Hadjar Dewantara. Pertama karena Perguruan Tamansiswa lahir pada 3 Juli 1924, dan sebelumnya, Juli 1913 ia berani memprotes keras pemerintah kolonial Hindia Belanda atas rencana perayaan besar-besaran 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis di masa Napoleon. Rencananya perayaan itu tidak hanya melibatkan para pembesar saja, melainkan rakyat golongan pribumi juga akan dilibatkan, hanya saja pelibatannya adalah dalam bentuk memberi “derma” yang dipungut secara paksa.</p>
<p>Waktu itu Ki Hadjar Dewantara masih menggunakan nama Soewardi Soerjaningrat. Tulisan protesnya yang setajam pisau berjudul <em>Als i keens Nederlander was</em> atau “Andaikata aku seorang Belanda” dimuat di surat kabar <em>De Expres</em>, Bandung, dengan oplah 5000 eksemplar. Pada akhir tulisan, Soewardi menyatakan:</p>
<blockquote><p>… Andaikata akoe seorang Belanda, akoe tidak akan merajakan perajaan itoe di dalam negeri jang sedang kami djadjah. Pertama, kami harus memberikan kemerdekaan kepada rakjat jang kami djadjah, kemoedian baroe memperingati kemerdekaan kami sendiri…[1]</p></blockquote>
<p>Sebelumnya, atas prakarsa Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, pada bulan Juli 1913 itu pula didirikan suatu <em>Indlandsche Comite tot Hardenking van Nederlands Honderdjarige Vrijheid</em>, atau suatu “Panitia Peringatan 100 tahun Kemerdekaan negeri Belanda” di Bandung. Penitia ini disebut dan memang kemudian lebih familiar disebut juga sebagai <em>Comite Boemi Poetra</em> yang diketuai oleh Drp. Tjipto Mangoenkoesoemo, sedangkan jabatan sebagai sekretaris atau penulis dan bendahara diserahkan pada Seowardi.</p>
<p>Pada bulan April, ketika Soewardi pergi ke Buitenzorg atau Bogor sekarang, ia melihat dengan mata kepala sendiri bagiamana Asisten Residen dengan bantuan pegawai pribumi menerima derma untuk acara perayaan kemerdekaan Belanda tersebut. Saat itu juga Soewardi protes keras yang menyatakan tidak setuju dengan adanya pungutan terhadap golongan pribumi, hal inilah yang menjadikan pemerintah kolonial Belanda melabeli<em>Comite Boemi Poetra</em> sebagai gerakan pengacau.</p>
<p>Aksi itu adalah aksi-aksi awal dari tiga sekawan, Tjipto Mangoenkoesoemo, Soewardi Surjaningrat dan Douwes Dekker dalam <em>Comite Boemi Poetra</em>. Namun Douwes Dekker tidak ikut serta karena ia sedang ke negeri Belanda untuk kepentingan Indische Partij. Waktu itu mereka mengirim surat permohonan pada pemerintah kolonial agar Indische Partij dapat diakui sebagai Badan Hukum, namun dengan keputusan pemerintah kolonial tertanggal 4 Maret 1913 permohonan mereka ditolak, alasannya adalah: perkumpulan tersebut berbau politik dan dianggap dapat mengganggu keamanan umum. Saat itu juga, tepatnya pada 5 Maret 1913, anggaran dasarnya Indische Partij diubah, yakni menyatakan sebagai organisasi yang ditekankan pada bergerak dalam bidang sosial, namun pemerintah kolonial tetap menolaknya. Itulah alasannya Douwes Dekker berangkat ke Belanda, ia berniat mengajukan kasus tersebut ke sidang Parlemen di sana.[2]</p>
<p>Siapa Douwes Dekker? Ia adalah yang mendirikan Indische Partij pada 6 September 1912. Nama lengkapnya adalah Ernes François Eugene Douwes Dekker, seorang Indo yang berjiwa nasionalis tinggi. Bapaknya lahir di Amsterdam dengan darah campuran Fries, Perancis dan mungkin juga</p>
<div id="attachment_359" class="wp-caption alignleft" style="width: 233px"><a href="http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/07/05/ki-hadjar-juli-1913-dan-pendidikan-anti-kolonialisme/kihajar/" rel="attachment wp-att-359"><img class="size-medium wp-image-359" title="Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, dan Soewardi Soerjaningrat" src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/07/kihajar.png?w=223&#038;h=300" alt="Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, dan Soewardi Soerjaningrat" width="223" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, dan Soewardi Soerjaningrat</p></div>
<p>Portugis, sedangkan Ibunya lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, dengan darah campuran Jerman, Polandia dan Jawa. Agaknya darah Jawa dan lintasan kehidupannya di Jawa itulah yang lebih kuat memengaruhinya dalam menyokong dan menggerakkan perjuangan kemerdekaan golongan pribumi.</p>
<p>Keberpihakannya pada kaum tertindas sudah terlihat sejak muda. Pada 1901 misalnya, ia pernah ke Afrika Selatan membantu gerakan petani Transvaal pimpinan Paul Krüger yang menyatakan perang kemerdekaan terhadap Inggris yang menjajahnya. Waktu itu Douwes Dekker berumur 20-an tahun, karena keterlibataannya itu ia dicopot kewarganegaraannya sebagai warga negara Belanda, tentu hal itu justru membuat ia bangga, ia sendiri bahkan merasa bahwa dirinya bukan Belanda, ia mengaku sebagai orang Hindia. Karena jasanya dalam membantu perjuangan kaum petani di Afrika Selatan maka ketika Paul Krüger menjabat sebagai Presiden Republik Transvaal Afrika Selatan, Duwes Dekker dianugerahi gelar dan bintang <em>The Boer’s fighting man</em>.[3]</p>
<p>Kembali pada peristiwa Juli 1913, Douwes Dekker adalah yang juga melontarkan penentangannya terhadap rencana pesta perayaan kemerdekaan tersebut selain Soewardi. Ia menulis artikel berjudul <em>Wij zullen niet mee</em> yang artinya “Kami tidak akan turut”. Ujarnya:</p>
<blockquote><p>… Mengapa kamoe tidak merajakan pesta itoe di dalam kamar bolah dengan pantes-pantes, di tempat sendirian, di mana kamoe dapat menoem-minoem soepaja moedah akan berminoem atas kehormatan tanah ajermoe? Tentoe kamoe ta’ akan mendengar setjara bentjih daripada kami dalam perajaan itoe, kerna kami tida haroes toeroet pesta, tentoe kamoe tida akan mendengar setjara salah seorang dari medan kami, jang soeka berpidato, seperti kehendak saja akan nantang pada kamoe orang, yang memboeat pesta sematjam itoe. Kalau ada begitoe tiadalah begitoe. Sjoekoerlah sekarang soedah banjak orang, jang djadi besar di dalam sekolah saja, ja’ni sekolah kemerdekaan. Ja, Toewan-toewan commisie, mengapakah kamoe tidak bersoeka-soeka di medan kamoe empoenya kaoem sendiri?[4]</p></blockquote>
<p>Sebuah nasionalisme yang mungkin di masa sekarang dapat ditemukan pada diri orang Indo seperti Frans Magnis Suseno dan lainnya—yang kita tidak tahu banyak orang-orang semacam itu sekarang. Lalu apa yang terjadi pada Soewardi setelah tulisannya yang keras menampar muka para pembesar Belanda waktu itu? <em>Comite Boemi Poetra</em> segera dipanggil menghadap Mr. Monsanto yang menjabat sebagai Hakim Pendadilan atau <em>Officier van Justitie</em>. Ia didatangkan khusus dari Batavia ke Bandung untuk memeriksa kasus Soewardi. Akhirnya dengan Soewardi secara terus terang mengaku sebagai penulis artikel itu, ia dinyatakan bersalah melanggar undang-undang percetakan pasal 26 yang menyatakan “… Mengadu domba antar golongan yang ada di dalam negeri…” Soewardi terang menyangkal, ia bertanya apa maksud dari mengadu domba, menghasut dan lainnya yang dituduhkan padanya. Ia menyatakan bahwa apa yang ia tulis justru tiada lain adalah sebagaimana yang dirasakan oleh golongan pribumi pada umumnya.[5]</p>
<p>Pengadilan itu juga menyeret Tjipto Mangoenkoesoemo, dikiranya bahwa dialah yang menulis atau setidaknya “menekan” atau mempengaruhi Soewardi dalam menulis artikelnya itu. Namun Soewardi tegas menyangkal itu. Tjipto Mangoenkoesoemo memang sudah dicurigai sejak awal, karena ia telah dikenal sebagai seorang organisatoris tangguh yang waktu itu masih langka berasal dari kalangan cendekiawan pribumi. Oleh karena itu, Soewardi tidak tinggal diam, pada 28 Juli 1913 masih di harian <em>De Expres</em>, ia menulis <em>Een voor allen, maar ook allen voor een</em> atau “Satu untuk semua, semua untuk satu.” Pada akhir tulisan ia mengajak golongan pribumi untuk siap sedia dalam menghadapi segala kemungkinan.</p>
<blockquote><p>Kita haroes mempoenjai kekoeatan dan kepribadian dalam menghadapi perdjoeangan nasional ini. Djika tidak, maka selamanja saudara-saudara akan tetap  menjadi boedak! Lepaskan diri dari perboedakan ini![6]</p></blockquote>
<p>Saya tidak mempunyai intrepretasi yang muluk-muluk kecuali menangkap pesan eksplisit bahwa gerak politik Soewardi sejak mula adalah politik perlawanan terhadap kolonialisme. Dan tiada lain dari Tamansiswa yang ia dirikan adalah bentuk dan daya upayanya membangun gerakan pendidikan anti-kolonialisme, anti-perbudakan, anti-penindasan, anti-imperialisme. Semua tentu sepakat bahwa pilihan Soewardi pada dunia pendidikan sudah pasti jelas dasar ideologisnya bahwa pendidikan adalah sarana utama dalam meraih kemerdekaan melalui jalan pencerdasan kehidupan bangsa. Namun hal menarik yang dapat diungkap adalah ketika Soewardi dan istrinya dibuang di negeri Belanda karena tulisannya pada Juli 1913 itu.</p>
<p>Irna H.N. Hadi Soewito mengutip B.S. Dewantara (1979) bahwa ada satu sifat yang menjadikan Soewardi kurang tepat berkecimpuang dalam perjuangan politik, yakni karena ia sering naik darah karena tidak dapat mengendalikan perasaan. Soetartinah, istri Soewardi, kemudian menyarankan agar sang suami mempertimbangkan untuk mencari senjata lain dan merubah taktik perjuangannya.[7] Di pembuangannya itu Soewardi kemudian mengikuti Pendidikan Sekolah Guru yang disebut<em> Lager Onderwijs</em> hingga mendapatkan ijazah, sedangkan istrinya, Soetartinah mengikuti kursus Pendidikan Guru Fröbel dan kemudian mengajar di <em>Fröbel School</em> (sekolah taman kanak-kanak) di Weimar.</p>
<p>Soewardi kemudian mempelajari banyak buku-buku referensi utama pendidikan waktu itu yang menarik baginya. Akhirnya ia berkenalan dengan pemikiran tokoh-tokoh seperti Montessori, seorang pendidik dari Italia yang menyatakan bahwa orangtua dan guru tidak dibenarkan memaksakan kehendaknya pada anak-anak. Anak-anak tersebut memiliki “kodratnya” sendiri dan dapat mendidik diri sendiri sesuai dengan lingkungannya masing-masing. Jadi, tugas pendidik adalah mengarahkannya saja. Soewardi pun tertarik dengan pemikiran Rabindranath Tagore. Ketiga tokoh itulah, Fröbel, Montessori dan Tagore, yang agaknya banyak dirujuk oleh Soewardi, mereka dianggap sebagai pembongkar konsep pendidikan lama dan membangun mazhab baru pendidikan, yakni mazhab yang sesuai dengan kondisi bangsa Hindia (Nusantara) waktu itu.</p>
<p>Oleh Soewardi, semboyannya kemudian adalah <em>Kembali kepada yang bersifat nasional</em>, yang secara simbolik diwujudkan dalam penggunaan bahasa Ibu. Soewardi menguraikan itu dalam kesempatan <em>Koloniaal Onderwijs Congres</em> (Kongres Pengajaran Kolonial) pada Agustus 1916, di Den Haag. Ia merujuk pada penggunaan bahasa Melayu, selain mudah dipelajari (mungkin karena tidak seperti bahasa Jawa yang “bertingkat-tingkat”), bahasa Melayu waktu itu juga sudah menjadi bahasa harian yang dipahami oleh sebagian besar lapisan masyarakat Hindia Belanda. Di sini terlihat bahwa, konsep pendidikan Fröbel, Montessori dan Tagore yang tidak bernuansa anti-kolonial, kemudian diberi warna dan ruh oleh Soewardi menjadi “radikal” dengan ruh anti-kolonial dan tujuannya adalah untuk kemerdekaan—tentu dalam arti luas.[8]</p>
<p>Soewardi dengan demikian adalah yang meracik sendiri konsep pendidikannya dari lintasan hidup dan pengetahuannya sendiri, ia membangun teori pedagogi dan pendidikannya sendiri, mengambil semangat Fröbel, Montessori dan Tagore, kemudian ia kontekstualisasikan, ia benturkan dengan realitas sosial kolonialisme di Hindia Belanda waktu itu, termasuk realitas budaya dan nilai-nilai lokal yang dapat ia ramu dengan apik dalam konsep pendidikannya, Tamansiswa. Jadilah Tamansiswa sebagai situs dan pusat kebudayaan, pusat pergerakan dan perlawanan terhadap kolonialisme. [ ]</p>
<p><strong>NB:</strong> Data dan informasi dari tulisan singkat ini sekadar menulis kembali dari yang ada dalam buku Dra. Irna H.N. Hadi Soewito yang berjudul <em>Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan,</em> terbitan Balai Pustaka tahun 1991. Saya dapatkan di lapak bukunya Bang Jose Rizal (Taman Ismail Marzuqi, TIM), Cikini, semalam (malam minggu, 2 Juli 2011) sebelum pentas Ludruk “Kartolo Mbalelo,” yang kebetulan ditayangkan melalui layar tancap secara <em>live</em> juga di halaman Teater Kecil, karena tiket sudah habis. Sialnya, saya juga nggak kebagian Lontong Balap dan Pecel Madiun, ludes diserbu arek2…!!! Parah..!! Qiqiqiqi… ^_^</p>
<p><strong>End Notes:</strong></p>
<p>[1] Lihat Irna H.N. Hadi Soewito, <em>Soewardi Soerjaningrat: Dalam Pengasingan</em>. Jakarta: Balai Pustaka, 1991, p. 28-29, dikutip dari E.F.E. Douwes Dekker, et al., <em>Mijmeringen van Indiėŕs over Hollands Feesttervierderij in de Kolonie</em>, 1913, p. 32.</p>
<p>[2] Ibid., pp. 26-27.</p>
<p>[3] Ibid., p. 21.</p>
<p>[4] Ibid., p. 24. Istilah “kamar bolah” merujuk pada sebuah gedung tempat orang-orang Belanda bersantai menghabiskan waktu senggangnya. Kebanyakan dari mereka bermain <em>biljart</em> (bilyar) atau bola sodok, ada pula yang sekadar ngobrol sambil minum-minum saja. Di tempat itu pula mereka sering berdansa dari petang hari sampai subuh. “Kamar bolah” ini juga disebut sebagai <em>Sociëteit</em> atau sekarang familiar disebut sebagai Bar atau klab malam (<em>night club</em>). Lihat paragraph terakhir dan catatan kaki pada p. 23.</p>
<p>[5] Ibid., p. 30.</p>
<p>[6] Ibid., pp. 33-34.</p>
<p>[7] Ibid., p. 97, merujuk pada B.S. Dewantara,  <em>Nyi Hajar Dewantara dalam Kisah dan Data</em>, 1979, pp. 102-103.</p>
<p>[8] Irna H.N. Hadi Soewito, Ibid., pp. 98-101.</p>
<br />Filed under: <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/ulasan-tokoh/'>Ulasan Tokoh</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendidikankritis.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendidikankritis.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendidikankritis.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendidikankritis.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendidikankritis.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendidikankritis.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendidikankritis.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendidikankritis.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendidikankritis.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendidikankritis.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendidikankritis.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendidikankritis.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendidikankritis.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendidikankritis.wordpress.com/358/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=358&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/07/05/ki-hadjar-juli-1913-dan-pendidikan-anti-kolonialisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/07/kihajar.png?w=111" />
		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/07/kihajar.png?w=111" medium="image">
			<media:title type="html">Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, dan Soewardi Soerjaningrat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c604c22050f0a0ec64e1a9801580bb86?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisubkhan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/07/kihajar.png?w=223" medium="image">
			<media:title type="html">Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, dan Soewardi Soerjaningrat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna Ujian Nasional bagi Kehidupan Siswa</title>
		<link>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/05/25/makna-ujian-nasional-bagi-kehidupan-siswa/</link>
		<comments>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/05/25/makna-ujian-nasional-bagi-kehidupan-siswa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 04:14:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edi subkhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pedagogi Kritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikankritis.wordpress.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[Pada berita-berita di media minggu ini dinyatakan bahwa angka kelulusan Ujian Nasional (UN) naik signifikan, bahkan di Mimika dan Jayapura angka kelulusannya luar biasa. Jayapura sampai 99,99 persen anak-anak SMA yang lulus. Artinya, kalau pakai logika pemerintah, maka kualitas pendidikan di Jayapura mengalahkan Jakarta yang angka kelulusannya hanya 99,52 persen. Dan inilah yang diklaim pemerintah: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=355&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Pada berita-berita di media minggu ini dinyatakan bahwa angka kelulusan Ujian Nasional (UN) naik signifikan, bahkan di Mimika dan Jayapura angka kelulusannya luar biasa. Jayapura sampai 99,99 persen anak-anak SMA yang lulus. Artinya, kalau pakai logika pemerintah, maka kualitas pendidikan di Jayapura mengalahkan Jakarta yang angka kelulusannya hanya 99,52 persen. Dan inilah yang diklaim pemerintah: bahwa naiknya UN adalah keberhasilan pendidikan dan bahkan dinyatakan juga di beberapa daerah sebagai naiknya tingkat kejujuran dalam mengerjakan UN. Entah parameternya apa, apakah dari aduan siswa atau guru, fakta dari tim pengawas, atau apa? Tapi apapun itu baik dari siswa, guru maupun tim pengawas UN, maka yang diawasi hanyalah proses UN saja, padahal amat sangat mungkin dengan formula 60:40 bagi UN dan nilai sekolah, maka proses ketidakjujuran dan kecurangan dilakukan di sekolah (dalam nilai sekolah).</p>
<p>Mengapa hal ini terjadi, apakah guru sudah tidak punya nurani, jawabannya bisa iya dan bisa sebaliknya, yakni: justru karena prihatin dan empati dengan siswa maka segala upaya dilakukan agar siswa nilainya tinggi karena sebagai syarat UN, jadi dasarnya adalah empati dan rasa sayang. Motif lain tentu adalah prestise sekolah, guru, kepala sekolah, kepala dinas dan lainnya. Selain itu di media pemerintah juga bilang bahwa UN sudah kredibel dan oleh karenanya derajat kemungkinannya untuk jadi pertimbangan masuk kampus makin besar. Apa ukuran kredibel tersebut juga tidak dibagi formula dan metodologinya pada publik, hmm….</p>
<div id="attachment_356" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="Perayaan%20Lulus%20UN%20"><img class="size-medium wp-image-356" title="Perayaan Lulus UN " src="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/05/un.jpg?w=300&#038;h=192" alt="Perayaan Lulus UN " width="300" height="192" /></a><p class="wp-caption-text">Perayaan Lulus UN (http://nardakismono.wordpress.com/tag/un-100/)</p></div>
<p>Terlepas dari hiruk-pikuk kelulusan UN: corat-coret sebagai penanda kelulusan, histeria bagi yang lulus maupun tidak lulus, penyelenggaraan istighasah akbar menyambut UN, bahkan di Jawa Timur sampai datang minta air ke Ponari, minta pensilnya yang akan digunakan untuk mengerjakan UN dikasih mantra dan rajah, praktik <em>drill &amp; practice</em> menjelang UN, semuanya terjadi sebagai satu paket fenomena psiko-sosio-kultural UN. Ada yang menganggap semua itu wajar, ada pula yang menyatakannya berlebihan, ada pula yang bilang kontradiktif dengan tujuan pendidikan. Nah, saya kira kebiasaan kita menerima semua konsep tanpa kritik agaknya harus diakhir dengan mengawali serangkaian pertanyaan, minimal seperti yang saya ajukan berikut ini.</p>
<p>Namun saya tidak akan berbicara soal data kecurangan, kebocoran, pengaduan, dan lainnya dari berbagai informasi yang bersliweran di media tersebut. Kalau ingin melihat data-data tersebut lihat saja sumber aslinya, yang akan saya lakukan adalah memaparkan—dalam arti analisis kritis—apa yang sebenarnya terjadi di balik praktik UN dan masalah-masalah yang ditimbulkannya, dasar logika dan ideologi apa yang mendasari praktik tersebut, pola dan mekanisme apakah yang terjadi dalam UN, untung rugi apa yang timbul dari adanya UN secara ideologis, kultural, dan nilai (<em>values</em>). Jadi ini adalah interpretasi yang lebih kontemplatif, lebih pada aras kritik ideologi dan refleksi kritis.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Beberapa Renungan Kritis </strong></p>
<p>-          <em>Apa Makna Peningkatan dan Penurunan Nilai UN</em>?</p>
<p>Kalau acuannya UN adalah pemahaman bahwa soal-soal yang diujikan melalui UN dan desain UN itu sendiri adalah merepresentasikan kualitas pendidikan dalam arti mengembangkan bakat, minat, optimalisasi potensi dan sejenisnya, maka peningkatan angka kelulusan UN adalah penting. Namun kalau soal-soal yang diujikan dalam UN dan desain UN itu sendiri tidak merepresentasikan kualitas tersebut, maka kenaikan atau penurunan nilai UN (secara nasional pun) tidak ada artinya. Sekarang mari kita lihat sekilas metode yang ada dalam UN: (1) jenis pertanyaan adalah <em>multiple choie</em>, (2) yang tidak lulus tidak dapat studi lanjut.</p>
<p>Apakah tepat menilai bahwa pertanyaan yang dijawab ala <em>multiple choice</em> itu menggambarkan kualitas hasil belajar seorang siswa secara keseluruhan dan maksimal? Kalau dilihat dari ranah yang diolah dalam pembelajaran: kira-kira soal-soal jenis <em>multiple choice</em> itu dapat menampung pertanyaan atau soal-soal kognitif, afektif, psikomotorik semuanya, atau dua di antaranya, atau hanya satu jenis saja? Kalau satu jenis saja, misalnya adalah kognitif, pertanyaannya adalah: bagaimana bisa alat test yang hanya menguji satu ranah pembelajaran dijadikan sebagai acuan untuk menilai kualitas pendidikan secara umum baik pada diri individu siswa maupun pendidikan secara umum?</p>
<p>Kalau dugaan saya benar—berdasarkan pengalaman mengikuti Ebtanas semasa SMA dulu dan sampai sekarang tidak beranjak dari jenis soal <em>multiple choice</em>—bahwa soal-soal yang diujikan hanyalah jenis soal untuk mengetahui kemampuan kognitif tingkat rendah (kalau tingkat tinggi adalah nalar kritis, kreativitas, inovasi dan lainnya yang cara mengetahui kualitasnya adalah dengan adu argumentasi, dialog, diskusi, menulis essei pendek, panjang, dan seterusnya), jelas tidak tepat UN dijadikan acuan mutlak menentukan kualitas capaian pendidikan seorang siswa. Jadi, nilai-nilai (tepatnya skor, <em>score</em>) yang didapat melalui UN hanyalah untuk mengetahui kualitas capaian pembelajaran siswa pada ranah kognitif tingkat rendah saja. Jadi, angka-angka UN yang begitu tinggi sekarang ini tiada lain adalah gambaran kualitas kognitif tingkat rendah dari anak-anak SMA pada umumnya. Bukan gambaran kualitas capaian pendidikan secara komprehensif dan substansial.</p>
<p>Nah, kalaupun UN dalam desainnya yang ada sekarang dijadikan sebagai peta pendidikan (<em>mapping purposed</em>), maka peta yang didapat adalah peta kualitas kognitif tingkat rendah siswa seluruh Indonesia saja, belum peta afektif dan psikomotorik. Tingginya nilai UN sekarang sejatinya menunjukkan bahwa pada kemampuan dan kualitas kognitif tingkat rendah siswa-siswa SMA di Indonesia sudah bagus. Nah, kalau soal angka kelulusan yang begitu tinggi itu lain soal lagi, karena memang rumusan kelulusan oleh pemerintah tahun 2011 adalah gabungan dari nilai UN dan nilai sekolah (nilai sekolah rumusnya adalah nilai rata-rata ujian sekolah dan nilai rapor siswa dari semester 3 sampai 5). Ketika ujian sekolah modelnya tetap soal-soal jenis <em>multiple choice</em>, maka tidak ada artinya dan tidak ada bedanya dengan UN yang sama-sama sekadar mengukur kemampuan kognitif tingkat rendah saja.</p>
<p>Akan agak berbeda kalau nilai dari sekolah yang dipertimbangkan untuk “lulus sekolah” (sikap saya pribadi tidak ada istilah tidak lulus di sekolah, semua lulus, namun di sini sekadar untuk menunjukkan betapa jenis ujian model UN tidak tepat dalam membangun praksis pendidikan yang substansial dan komprehensif) adalah hasil rapor sebagai <em>track record</em> siswa dari ia masuk SMA sampai keluar. Dengan catatan bawah sistem penilaian rapor siswa betul-betul menunjukkan kualitas penguasaan materi pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, maka dapat diterima sebagai pertimbangan kelulusan, namun sekali lagi karena pendapat saya tidak ada istilah tidak lulus (alias semuanya lulus), maka penilaian rapor siswa tersebut harus dijadikan sebagai alat evaluasi siswa (bahkan guru, sekolah, dan daerah) tanpa adanya UN. Dengan kata lain bukan model persentase 60:40 kelulusan, melainkan 100 persen kualitas (bukan kelulusan) siswa dilihat melalui model rapor <em>track record</em> siswa tersebut…</p>
<p>Kembali pada realitas <em>policy</em> pendidikan pemerintah sekarang: Namun ketika melihat rumusan bahwa persentase UN adalah 60 sedangkan nilai dari sekolah adalah 40, maka jelas simpulannya: angka kelulusan UN sekarang juga setidaknya 60 persen menunjukkan kemampuan atau kualitas kognitif tingkat rendah via soal-soal <em>multiple choice</em>. Itu belum kalau kita telusuri lagi: apakah kemampuan bagus siswa dalam ranah kognitif tingkat rendah tersebut didapat melalui praktik dan proses pembelajaran yang substansial atau sekadar melalui <em>drill &amp; practice</em> saja? Kalau lebih banyak kontribusi <em>drill &amp; practice</em>-nya kira-kira kita dapat memahami kedalaman dan kedangkalan pengetahuan yang dipelajari, dapat juga dipahami apakah sekolah-sekolah kita dan termasuk pemerintah lebih mengutamakan proses pembelajaran atau hasil dalam bentuk UN? Akhirnya, sekali lagi, kenaikan angka kelulusan UN tahun 2011 tidak menunjukkan kualitas pendidikan secara substansial, melainkan lebih menunjukkan kenaikan angka kualitas kognitif tingkat rendah saja.</p>
<p>Apakah itu cukup untuk tujuan “mencerdaskan kehidupan bangsa”? Kira-kira problem utama bangsa ini adalah kemampuan kognitif atau afektif (moralitas, etika, estetika, toleransi, sensitivitas sosial, pemahaman kebudayaan, dst)? Kalau kita lihat capaian-capaian Olimpiade internasional dalam bidang yang mengandalkan otak (ranah kognitif) dan kemudian kita bandingkan dengan problem-problem moralitas, korupsi, terorisme dan lainnya, maka problemnya bukanlah ranah kognitif, melainkan afektif. Ironisnya, justru ranah afektif itulah yang tidak diutamakan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah.</p>
<p>-          <em>Posisi UN: T</em><em>ujuan Pendidikan itu UN atau Optimalisasi Potensi dan Bakat Siswa</em>?</p>
<p>Pertanyaan ini penting untuk dijawab dan akhirnya akan menentukan derajat penting tidaknya UN dalam desain pendidikan nasional. Posisi dan peran-fungsional UN dalam pendidikan kita apakah diposisikan sebagai alat evaluasi, alat test atau tujuan pendidikan itu sendiri? Kalau sebagai alat test atau alat ukur misalnya, mengapa dalam praktik pendidikan kita faktanya justru mengutamakan UN, semua energi sekolah, guru, Kepala Dinas, dan pemerintah sendiri difokuskan pada peningkatan nilai UN. Kalau dipahami UN sebagai alat ukur capaian praktik pendidikan, maka artinya UN bukan tujuan pendidikan, oleh karenanya bukankah amat mubazir ketika fokus energi pendidikan kita—bahkan dalam skala nasional—adalah pada peningkatan nilai UN. Mestinya fokus pendidikan adalah pada proses pembelajaran yang memadai untuk mencapai target visioner pendidikan, sementara alat test, alat evaluasi dan sejenisnya berada pada posisi sebagai alat ukur saja, tidak lebih.</p>
<p>UN ibarat mistar untuk mengukur tinggi seorang anak, maka UN hanya mengukur kualitas kognitif tingkat rendah saja. Mistar sebagai alat ukur tidak dapat meninggikan tubuh anak, UN pun demikian, penaikan standar UN juga tidak dapat meningkatkan kualitas pendidikan, penaikan standar UN hanya ibarat memperpanjang mistar saja, bukan tubuh siswa. Lalu dengan apa bisa meninggikan tubuh anak, jawabnya adalah dengan asupan gizi yang cukup, olahraga cukup dan sejenisnya, pendidikan juga sama: pendidikan di Indonesia akan meningkat kualitasnya dengan cara memberikan fasilitas pendidikan memadai, guru berkualitas, akses informasi dan pengetahuan luas, kesejahteraan guru, sekolah dan lainnya, bukan dengan menaikkan standar kelulusan via UN. Itu semua adalah “gizi” untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara substansial.</p>
<p>Justru dengan mempertinggi standar kelulusan, maka akan makin membuat tekanan besar bagi siswa, guru dan sekolah untuk mencapai UN (karena ia sebagai syarat kelulusan sekolah, padahal tidak lulus dianggap sebagai “akhir kehidupan” dan “matinya masa depan” siswa, ini semua karena hegemoni rezim ijazah dan paradigma lulus tidak lulus dalam sekolah) secara “terpaksa”. Tiadanya “gizi” yang memadai akhirnya membuat segala cara dilakukan, dan karena UN hanya alat ukur kualitas kognitif tingkat rendah, maka pihak sekolah pun akan memenuhi kelangkaan “gizi” tersebut dengan makanan-makanan instan, siap saji, yang jelas masuk dalam jenis <em>junkfood</em>, juga jelas tidak sehat, seperti model <em>driil &amp; practice</em>, <em>try out</em> berkali-kali dan lainnya. Seandainya “mistar” itu sebagai keseluruhan proses pembelajaran, bukan hasil akhir berupa testing seperti UN, maka untuk meningkatkan kualitas pendidikan akan dipenuhi dengan makan-makanan bergizi tinggi berupa praktik pendidikan kritis, kreatif, inovatif, fokus pada optimalisasi potensi, bakat dan minat siswa dan sejenisnya.</p>
<p>Bagi dunia pendidikan, praktik-praktik pemberian makanan instan dan siap saji tersebut jelas juga tidak sehat, <em>pertama</em>, hal tersebut menunjukkan peran sekolah digeser oleh lembaga bimbingan belajar (Bimbel). Dan hal itu tepat dalam arti: kalau tujuan pendidikan hanya untuk lulus UN, ya tidak perlu sekolah yang melakukannya, cukup Bimbel saja yang berperan. Kalau UN adalah tujuan pendidikan, maka jadikanlah semua sekolah sebagai Bimbel, dan jadikan Bimbel sebagai sekolah. Faktanya dalam UN di Indonesia peran Bimbel atau model belajar ala Bimbel besar sekali. <em>Kedua</em>, nilai-nilai instant dan siap saji, yang dibawa Bimbel dan model belajar Bimbel seperti pemberian tips-tips, rumus-rumus tanpa dasar historis dan epistemologis pembentukannya dan seterusnya, maka di sinilah adanya UN telah menghadirkan praktik pembelajaran nilai-nilai instant, pragmatisme, yang penting hasil akhir, nilai-nilai kedangkalan, dan sejenisnya.</p>
<p>Bukankah mestinya pendidikan mementingkan proses serius dalam pembelajaran untuk betul-betul membangkitkan kesadaran kritis siswa, agar paham betul konteks pengetahuan yang ia pelajari, apa gunanya pengetahuan tersebut, formulasi pembentuknya, metodologi pembentukan pengetahuan tersebut dan seterusnya. Kalau yang dipentingkan adalah hasil akhir—yang dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk UN—maka saya misalnya sebagai siswa bisa saja curang dengan cara: tidak usah serius belajar dalam proses sehari-hari, karena yang dinilai dan dianggap penting adalah UN, maka cukup satu semester menjelang UN saya ikut proses <em>drill &amp; practice</em>, berkali-kali ikut <em>try out</em> agar hasil akhir UN bisa bagus. Inilah cara pandang yang mementingkan hasil, dalam bentuk yang paling ekstrem segala cara (kecurangan, ketidakjujuran) dapat dilakukan, karena yang penting hasil akhir bagus nilainya.</p>
<p>Cara pandang ini juga tidak melihat keuletan anak-anak yang memang bekal intelektualnya rendah, para guru dengan cara pandang mementingkan hasil tidak akan memperhatikan detail-detail praktik pembelajaran. Upaya keras dan serius yang dilakukan anak-anak berkemampuan intelektual rendah tidak dihargai oleh guru, yang dihargai adalah yang nilai hasil akhirnya tinggi. Susah payahnya belajar siswa yang intelektualitasnya rendah tidak dianggap penting (karena jelas tidak dinilai). Walaupun begitu saya yakin masih banyak guru yang memiliki cara pandang mementingkan proses ketimbang hasil di negeri ini, keyakinan ini penting mengingat cita-cita membangun kualitas batu fondasi kokohnya pendidikan dan bangsa Indonesia adalah proses-proses yang tepat, akurat dan proporsional, agar juga ingat bahwa dalam lingkup yang lebih luas pemerintah selalu bangga dengan capaian angka-angka statistik GDP, HDI, PISA, Webometric, THE, QS, dan lain-lainnya, semuanya itu dianggap sebagai tujuan akhir dan semuanya itu merupakan hasil akhir, padahal itu hanya ilusi, karena kualitas kehidupan masyarakat dalam ekonomi, pendidikan dan budaya tidak dapat diwakili oleh angka-angka GDP, HDI, PISA dan lain-lainnya itu.</p>
<p>Itu belum lagi kalau kita kaji serius nilai-nilai ketidakjujuran, kebohongan, dan lainnya yang dibelajarkan melalui UN pada siswa, guru, sekolah, kepala sekolah, kepala dinas dan lainnya. Belum juga kalau kita coba hitung berapa biaya yang dikeluarkan menyambut UN, mulai dari les privat per individu, <em>try out</em> berkali-kali, istighasah akbar, cetak kertas UN, biaya distribusi UN, biaya pengamanan (Polisi, TNI, Densus 88), honor tim pengawas, dan lain-lainnya.</p>
<p>-          <em>Posisi Matapelajaran yang Diujikan dalam UN</em><em> dan UN dalam Konteks Kehidupan. </em></p>
<p>Rumor yang berkembang di media akhir 2010 kemarin pemerintah akan menambah matapelajaran yang dimasukkan dalam UN. Pertanyaan saya: posisi dan derajat matapelajaran yang diujian melalui UN dapat dipahami sebagai naik derajatnya, prestisnya, atau justru turun? Apakah matapelajaran yang diujikan melalui UN memang dianggap lebih penting bagi masa depan siswa-siswa tersebut? Apakah juga nilai-nilai UN itu punya peran penting bagi kehidupan siswa-siswa setelah lulus? Kalau dibandingkan misalnya: lebih berperan mana antara penguasaan atas kemampuan membaca peluang usaha dan dunia kerja oleh seorang siswa SMA jurusan IPS yang didapat dari praksis pembelajaran berkualitas dibandingkan dengan skor bagus pelajaran ekonomi seorang siswa SMA yang juga jurusan IPS dari UN?</p>
<p>Penilaian kualitasnya jelas: kemampuan membaca peluang usaha dan dunia kerja tidak diujikan melalui UN, melainkan melalui bacaan yang luas atas situasi sosial, ekonomi, kultural, politik dan lainnya, dan kemampuan membaca ini secara substansial penilaiannya adalah dengan melihat siswa itu sendiri membaca, menganalisis, mengambil kesimpulan, dan merumuskan tindakan-tindakan konkrit. Keseluruhan proses ini jelas tidak dapat ditampung oleh UN. Artinya, kalau dengan kemampuan yang tidak diuji melalui UN tersebut siswa justru mampu memperluas kesempatannya dalam membuka lapangan usaha atau masuk dalam dunia kerja secara tepat, sedangkan bagi yang nilai UN pelajaran ekonominya bagus tapi tidak punya kemampuan baca yang bagus (karena tidak diujikan di UN), skor UN yang ia dapatkan tidak cukup menolongnya dalam mengambil keputusan kehidupan. Angka-angka itu tak dapat membantu kehidupan, karena memang hanya berupa angka penunjuk kualitas kognitif tingkat rendah belaka, kemampuan riil lah yang dapat membantu kehidupan secara langsung…</p>
<p>Kembali ke depan, seberapa banyak pun matapelajaran yang dimasukkan dalam UN tapi ketika masuk UN artinya ia hanya diuji target kognitif tingkat rendahnya saja, bukankah artinya hal itu justru merendahkan matapelajaran tersebut? Taruh contoh pelajaran agama dan moral Pancasila (sekarang Pendidikan Kewarganegaraan), ketika ia masuk UN, banyak orang termasuk guru agama dan Pendidikan Kewarganegaraan merasa “sejajar” posisinya sama “prestise” dengan guru bahasa Inggris, matematika, dan lainnya yang masuk UN, tapi ketika dengan demikian praktik pembelajaran pendidikan agama dan moral Pancasila sekadar ditujukan untuk lulus UN, artinya bukankah justru dengan demikian mereduksi tujuan pembelajaran agama dan moral Pancasila yang lebih mengolah ranah afektif (sedangkan UN dominan kognitif)? Dengan begitu pula maka kemungkinan besar (karena dituntut untuk nilai bagus di UN) praktik pembelajaran agama dan moral Pancasila dalam keseharian di sekolah juga akan dilakukan dengan cara di-<em>drill &amp; practice</em> saja, di-<em>try out</em>-kan saja, karena yang penting lulus UN. Sebanyak dan sekeras apapun guru bilang bahwa penguasaan materi secara substansial lebih penting, namun adanya UN jelas membuyarkan kesadaran tersebut.</p>
<p>Bukankah akan lebih tepat pelajaran agama dan moral Pancasila difokuskan pada olah ranah afektif, artinya tidak melalui UN, tidak melalui belajar teori-teori belaka, melainkan melalui praktik berkehidupan yang baik, praktik beragama yang toleran, praktik cinta tanah air (nasionalisme, patriotisme) dan seterusnya. Nah tepatnya pembelajaran afektif tersebut pun tidak diuji dalam arti testing, melainkan dievaluasi saja sebagai bahan perbaikan, dan evaluasi ini dapat dilakukan pada jadwal pembelajaran tertentu sesuai kurikulum, bukan di akhir kurikulum (semester 6, kelas XII) yang akan menjadikannya cenderung dianggap sebagai testing (ujian). Memang agak kabur di mata awam antara evaluasi dan ujian, secara singkat bisa dikatakan bahwa sistem penilaian dibagi dua: yakni evaluasi dan testing, evaluasi adalah untuk menilai proses dan hasilnya untuk perbaikan proses selanjutnya, sedangkan testing untuk menjustifikasi capaian akhir. Testing (ujian) ditujukan pada dua hal, yang utama adalah untuk mengetahui tingkat capaian belajar (seperti UN), yang kedua untuk memprediksi kemampuan belajar (seperti tes masuk kampus). Kalau dasar filosofi pendidikan mementingkan proses, maka yang digunakan adalah evaluasi, sedang testing akhir menurut saya tidak usah digunakan, sementara itu test prediksi agaknya masih bisa digunakan untuk sekadar tahu potensi dan prediksi kemampuan belajar dan sejenisnya.</p>
<p>Mungkin kita perlu juga membuat riset serius dengan pertanyaan penelitian kira-kira: Apakah nilai-nilai UN yang tinggi tersebut betul-betul punya kontribusi riil bagi masa depan siswa-siswa SMA, SMK, dan MA? Kalau dipilah lagi dengan mengacu pada contoh pelajaran ekonomi di atas: Kira-kira bukankah kontribusi penguasaan pelajaran (dalam arti betul-betul menguasai) oleh seorang siswa lebih berperan dalam memberikan bekal dalam kehidupan siswa setelah lulus ketimbang nilai-nilai UN? Bukankah nilai UN hanya jadi penentu lulus tidaknya siswa dari sekolah, dan karena hegemoni “rezim ijazah” dari dunia industri plus dibumbui oleh “teror” dari pemerintah maka UN seakan-akan menjadi penting dalam kehidupan? Mari kita telaah dari tiga kemungkinan peristiwa di bawah ini mengenai korelasi skor UN dan kehidupan yang lebih luas.</p>
<p><em>Pertama</em>, bagi anak-anak yang setelah lulus SMA, SMK atau MA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi atau dunia kerja industri, maka nilai-nilai UN tersebut tidak ada gunanya sama sekali, kecuali sebagai penanda nostalgia semasa SMA saja. Ketika kemudian mereka bekerja di ladang, bertani, melaut, dan lainnya, yang lebih penting adalah penguasaan substansial pelajaran di sekolah, bukan nilai UN yang tinggi. Ketika pendidikan diarahkan untuk lulus UN, maka peluang menguasai pelajaran secara substansial otomatis berkurang, karena semua energi guru dan sekolah adalah untuk sukses lulus UN, padahal anak-anak tersebut butuh menguasai betul-betul pelajaran yang dapat membantu kehidupannya dalam arti sempit (saat itu) maupun luas (di masa depan). Inilah bentuk diskriminasi bagi anak-anak petani, nelayan dan lainnya. Dengan kata lain, desain pendidikan kita ditujukan untuk melayani elite melalui UN sebagai sistem seleksi.</p>
<p><em>Kedua</em>, bagi anak-anak SMA, SMK atau MA yang langsung ingin bekerja di dunia industri, nilai UN lumayan berguna melalui ijazah lulus sekolah. Artinya dunia industri sebenarnya melakukan penilaian secara generalisasi, yang dilihat dalam mempertimbangkan anak lulusan sekolah ketika masuk dalam dunia kerja (terutama dunia industri) adalah ijazah, peringkat pertama tentu yang diprioritaskan adalah sarjana (terlebih lagi S2), setelah itu lulusan SMA dan yang sederajat (seringkali lulusan MA [<em>madrasah ‘aliyah</em>] menjadi terpinggirkan dalam dunia kerja industri, karena dianggap bahwa yang dipelajari adalah urusan akhirat saja dan dianggap juga tujuan masuk MA sekadar untuk jadi da’i, ustadz Kyai dan sejenisnya), setelah itu lulusan SMP, kemudian SD, dan yang terakhir adalah yang “tidak berpendidikan”. Nah, di level SMA saringan seleksinya baru setelah ijazah kemudian dilihat nilai (<em>score</em>) UN-nya, nilai tertinggi biasanya paling mendapat prioritas untuk lolos diterima kerja.</p>
<p>Apa yang terjadi sebenarnya: pada hakikatnya dunia industri sedang terbawa ilusi kualitas yang ditunjukkan oleh ijazah dan nilai UN tersebut. Mengapa? Karena seakan-akan semua lulusan SMA berkualitas (dibandingkan yang tidak lulus, dibandingkan yang lulus SMA melalui ujian kejar paket C, dibandingkan lulusan SMP, SD, pesantren, sekolah-sekolah alternatif dan lainnya), seakan-akan juga nilai UN tinggi adalah penanda kualitas siswa secara otentik, padahal tidak karena sekali lagi UN itu hanya penanda kualitas kognitif tingkat rendah saja. Inilah yang disebut ilusi berupa bias pemahaman nilai (<em>values</em>) di mana dalam ilmu semiotik soal sistem tanda, maka <em>penanda</em> (dalam hal ini adalah UN) tidak merujuk pada <em>petanda</em> atau hal yang dirujuk: yakni kualitas komprehensif siswa, kualitas pendidikan secara keseluruhan. UN merujuk pada dirinya sendiri sebenarnya, namun karena ia dianggap menandakan kualitas, maka yang terjadi adalah ilusi.</p>
<p>Lebih lanjut, jadi, yang diterima bekerja adalah lulusan SMA yang nilai kognitif tingkat rendahnya tinggi. Kalau ditelusuri lagi analisisnya lebih jauh, maka kira-kira sebagian besar tenaga kerja di Indonesia adalah mereka yang tinggi kualitas kognitif tingkat rendahnya, soal mereka juga punya bekal modal sosial dan intelektual bagus itu adalah bonus yang tidak tercakup dalam nilai-nilai UN. Kalau ada yang bilang bahwa UN juga implisit di dalamnya test kejujuran, karenanya kalau UN bagus nilainya tapi tidak jujur maka bisa dianulir kelulusannya, maka pernyataan tersebut perlu diklarifikasi: bagaimana menilai dan mengetahui jujur dan tidak jujurnya siswa? Tidak ada jaminan di sekolah yang dilaporkan tidak ada kebocoran soal bahwa semua jujur, termasuk siswa, guru, dan lainnya.</p>
<p>Terlepas dari itu, lebih lanjut, secara faktual sebenarnya kemudian nilai-nilai UN tersebut tidak terpakai, karena ketika lulusan SMA tersebut masuk dunia kerja, maka ia biasanya juga diseleksi dengan test seleksi yang bermacam-macam jenisnya (TPA, psikotest dll). Artinya, nilai UN hanyalah basa-basi awal untuk menyaring saja, karena yang menentukan betul adalah seleksi selanjutnya. Model tes seleksi jelas masuk beda dengan model testing UN, hal itulah yang menjadikan nilai UN “secara teoretik-konseptual” memang tidak bisa secara langsung digunakan sebagai pertimbangan untuk diterima bekerja atau tidak di dunia industri. Pun setelah itu ia akan dilatih (<em>on job training</em>) macam-macam.</p>
<p><em>Ketiga</em>, bagi anak-anak SMA, SMK atau MA yang ingin studi lanjut di perguruan tinggi, maka nilai UN lumayan berguna, tapi tetap kampus punya sistem seleksi sendiri dengan tujuan dan desain konseptual yang berbeda dari UN. Sebagaimana dunia industri, ijazah dan nilai UN hanya diposisikan sebagai penyaring general dan formalitas saja dengan anggapan bahwa: yang sudah lulus sekolah, nilai UN bagus, maka otomatis ia berkualitas. Hal ini jelas dapat dibantah dari fenomena anak tidak lulus UN tapi lulus ujian masuk kampus. Mengapa hal ini terjadi? UN-nya atau tes masuk kampusnya yang salah? Jawabannya tidak sesimpel itu, ada banyak faktor penyebab, secara substansial tentu karena desain dan arah UN dan seleksi masuk kampus berbeda, UN untuk mengetahui capaian belajar siswa yang bersifat testing (bukan evaluatif), sedangkan test seleksi masuk kampus tujuannya untuk prediksi kemampuan calon mahasiswa. Selain itu juga bisa faktor psikologis, tekanan waktu UN yang lebih berat dan lainnya. Kedua dimensi konseptual desain ujian dan psikologis ini yang ternyata tidak banyak dilihat sebagai faktor pembeda di sekitar UN.</p>
<p>Penilaian di sekolah yang berguna adalah ketika kampus menggunakan sistem seleksi mandiri yang menggunakan <em>track record</em> belajar siswa (via rapor siswa), <em>track record</em> tersebut dianggap dapat memenuhi derajat penilaian untuk memprediksi kemampuan siswa ketika berkuliah nanti, karena dapat dilihat dari grafik naik turunnya nilai tiap semester selama sekolah. Kalau dihubungkan dengan hal apa yang bisa membuat siswa-siswa giat belajar, serius belajar, betul-betul berhasrat untuk menguasai materi pelajaran kalau UN ditiadakan dan semua siswa lulus—dalam gagasan saya, jawabannya: dalam konteks siswa ingin masuk kampus, maka faktor pendorongnya adalah standar masuk kampus, kampus punya standar minimal yang harus dipenuhi siswa, oleh karenanya siswa tidak bisa seenaknya sendiri dengan bilang “nggak usah belajar serius, toh semua lulus…”</p>
<p>Ya, semua lulus, tapi tidak semua bisa diterima di kampus, oleh karenanya kalau mau diterima masuk kampus, syaratnya giat belajar, serius belajar, betul-betul berhasrat untuk menguasai materi pelajaran. Proses itulah yang direkam dalam rapor siswa sebagai <em>track record</em>-nya yang akan dijadikan sebagai pertimbangan dalam prediksi kemampuan calon mahasiswa, di sisi lain hanya dengan betul-betul menguasai pelajaran yang diberikan, maka siswa akan dapat lolos test masuk kampus dengan baik, tidak seperti ide pemerintah yang justru ingin menggunakan UN sebagai alat masuk kampus dengan menafikan proses <em>drill &amp; practice</em> menyambut UN. Bukankah terang dalam literatur pendidikan kontemporer, baik dari perspektif pedagogi kritis, progresif, maupun teori belajar konstruktivis dan humanis bahwa sistem bank (<em>banking system of education</em>) sebagaimana dikatakan Paulo Freire tidak humanis, tidak membangun basis atau fondasi intelektual yang kuat pada diri siswa, dan pasti tidak membangun kesadaran kritis.</p>
<p>Dari ketiga kemungkinan tersebut, posisi dan peran UN tidaklah signifikan, pada yang kedua dan ketiga sedikit kegunaan UN adalah ilusi kualitas, oleh karenanya, kegunaannya jadi hilang karena sekadar ilusi. hal itu masih ditambah lagi dengan problem moralitas, bias tujuan pendidikan, bias kualitas pendidikan dan lainnya, lalu mengapa pemerintah tetap ngotot mempertahankan UN? Semoga bukan karena begitu banyaknya anggaran yang dialokasikan untuk UN, ya semoga bukan karena itu…</p>
<p><strong>Ancangan Solusi </strong></p>
<p>Kiranya dapat dirangkum mengenai akibat dari ngotot dilaksanakannya UN tersebut sebelum kita lanjut pada ancangan solusi yang dapat dikaji lebih dalam. Beberapa hal substansial yang terjadi di balik praktik UN adalah: (1) UN menjadi salah satu sebab dari reduksi pemahaman tujuan pendidikan yang substansial; (2) UN menjadi pendorong praktik pendidikan yang mementingkan hasil, bukan proses dalam optimalisasi bakat dan potensi siswa; (3) UN menjadi praktik kebijakan yang menjadikan guru, siswa, pihak sekolah dan pelaksana teknis kebijakan sebagai korban (<em>blaming the victim</em>); dan (4) mengajarkan nilai-nilai ketidakjujuran, kebohongan, pragmatisme. Banyak argumentasi yang bisa dibangun, namun tentu butuh penelitian yang serius, namun secara logika saja UN sudah tidak tepat ketika dibenturkan dengan berbagai konsepsi pedagogi kritis dan sejenisnya, maka perkiraan saya riset-riset yang ditujukan secara serius melihat UN secara kritis akan kian meneguhkan pendapat bahwa UN tidak tepat.</p>
<p>Namun untuk melakukan riset serius tentu tidak gampang, misalnya: Apakah kita boleh memperoleh dokumen soal-soal UN tahun 2011 ini? (karena konon merupakan “rahasia negara”) Kemudian kita kaji jenis soalnya, ranah pembelajaran apa yang ditunjukkan oleh soal-soal tersebut (kognitif, afektif, psikomotorik, kognitfi tingkat rendah, menengah atau tinggi?). Apa betul visi pendidikan dicakup oleh UN dan ujian sekolah? Perlu juga riset serius mengenai pengaruh nilai UN dan praktik UN terhadap pemahaman nilai siswa terhadap kehidupan (<em>world view</em>), terhadap sikap dan perilaku dalam keseharian di sekolah dan setelah sekolah serta setelah lulus. Di mana anak-anak yang nilai UN-nya tinggi sekarang dan di masa depan? Pekerjaannya apa dan korelasi nilai UN terhadap pekerjaannya ada atau tidak? Riset-riset inilah yang tidak dilakukan oleh pemerintah, agaknya yang dilakukan adalah riset evaluasi <em>policy</em> pendidikan saja, pun misalnya kalau dari kalangan aktivis dan praktisi pendidikan melakukan riset-riset semacam itu kendalanya adalah pada dana.</p>
<p>Bagi saya pribadi dan saya kira kawan-kawan di Koalisi Pendidikan serta gerakan penentang UN lain juga berpendapat serupa, bahwa sikap yang diambil harus jelas: hapuskan UN! Secara garis besar argumen mengenai solusi apa yang digagas kalau tidak ada UN dan tidak ada standar kelulusan—dalam gagasan saya—sudah implisit dalam bahasan di atas, namun karena bahkan dalam diskusi dan beberapa dialog singkat argumentasi penolakan UN dan solusinya belum juga banyak dipahami oleh awam, maka di sini ada baiknya saya tulis lagi secara padat dan jelas dalam bentuk pertanyaan dan jawaban:</p>
<ol>
<li><em>Kalau tidak dengan UN, lalu dengan apa capaian praktik pembelajaran dilihat?</em> <strong>Jawab:</strong> dengan melihat penilaian evaluatif sejak masuk sekolah sampai masa akhir kurikulum yang diambilnya habis, bentuk instrumennya adalah <em>track record</em> dalam rapor siswa sejak awal masuk. Dengan melihat hasil evaluasi tersebut, maka proses pembelajaran selanjutnya dapat diperbaiki, yang nilainya jelek boleh mengulang seperti dalam sistem perkuliahan pada semester lain.</li>
<li><em>Kalau tidak dengan menaikkan standar UN, lalu dengan apa kualitas pendidikan dapat naik?</em> <strong>Jawab:</strong> pendidikan dapat naik kualitasnya dengan memberikan fasilitas pembelajaran yang bagus, membuka akses informasi dan pengetahuan bagi guru dan siswa, membangun manajemen pendidikan yang kuat, demokratis dan dapat merawat iklim intelektual. Menaikkan standar UN atau standar kelulusan hanya membuat beban, teror, bias tujuan pendidikan, dan mendorong praksis pendidikan jadi pragmatis dengan model belajar ala Bimbel, yakni <em>drill &amp; practice</em> serta <em>try out</em> berkali-kali.</li>
<li><em>Kalau tidak ada standar kelulusan melalui standar nilai minimal UN dan standar kelulusan, lalu apa acuan pendidikan?</em> <strong>Jawab:</strong> acuan desain dan praksis pendidikan bukan UN, melainkan visi dan tujuan pendidikan. Acuan visi dan tujuan pendidikan tersebut terdapat dalam kurikulum, jadi ya tinggal mengikuti kurikulum saja. Dengan begitu proses pendidikan tidak mengejar standar lulus UN, melainkan mengejar tujuan visioner pendidikan yang lebih substansial.</li>
<li><em>Kalau pendidikan persekolahan tujuannya bukan untuk lulus UN (lulus sekolah), lalu untuk apa pendidikan persekolahan? </em><strong>Jawab:</strong> tujuan pendidikan persekolahan (<em>schooling</em>) adalah optimalisasi potensi dan bakat siswa agar kualitas berkehidupannya bagus di masyarakat, sedangkan UN sama sekali tidak menunjukkan derajat optimalisasi potensi dan bakat siswa secara komprehensif, melainkan hanya penanda kualitas kognitif tingkat rendah saja. Istilah lulus dan tidak lulus itu digunakan kalau sebuah konsep dan praksis pendidikan menggunakan standar baku dalam arti standar seleksi, tapi kalau tidak, maka tidak ada istilah lulus dan tidak lulus, semuanya lulus, hanya kualitasnya berbeda antara satu dan lainnya.</li>
<li><em>Kalau tidak tidak ada UN dan semua siswa diluluskan, lalu buat apa belajar, toh semuanya lulus?</em> <strong>Jawab:</strong> tidak ada UN dan semua siswa lulus bukan berarti tidak ada visi dan tujuan pendidikan serta “standar” kualitas, sekali lagi visi dan tujuannya dapat dilihat dalam kurkulum, sedangkan “standar” kualitasnya ditentukan oleh realitas kehidupan yang lebih luas, yakni dunia kerja (bagi yang ingin langsung kerja) dan kampus (bagi yang ingin studi lanjut). Justru dengan begitu, kalau siswa sejak awal tidak belajar serius untuk menguasai materi pelajaran, maka ketika materi kurikulumnya habis (sudah semester 5 dan 6) dan siswa lulus, maka ia tidak akan memenuhi “standar” dunia kerja dan kampus. Dengan begitu justru lagi-lagi sejak awal siswa sudah didorong untuk serius belajar menguasai materi pelajaran.(Saya kira kita mesti juga curiga istilah lulus tidak lulus ini akarnya apa, di mana, untuk apa, dasarnya apa dan seterusnya)</li>
<li><em>UN juga mengajarkan ranah afektif, yakni kejujuran dalam mengerjakan UN, tidak hanya kognitif tingkat rendah, jadi UN tetap diperlukan.</em> <strong>Jawab:</strong> ya memang diajarkan, tapi fakta banyak ketidakjujuran dan kebohongan juga diajarkan melalui UN. Lagipula tidak ada metodologi penilaian afektif yang dijalankan dalam praktik UN, tidak adanya laporan kecurangan bukan berarti di sekolah tersebut tidak ada kecurangan, dengan kata lain: tidak tahu terjadi kecurangan dan kebocoran soal bukan berarti tidak terjadi kecurangan dan kebocoran soal.</li>
</ol>
<p>Kalau UN dihapuskan—menurut pendapat saya personal—memang kemudian tidak usah ada istilah lulus dan tidak lulus, dengan kata lain semua lulus. Tapi bukan berarti siswa-siswa yang lulus tanpa ijazah, sertifikat atau apapun itu namanya. Mereka tetap mendapat ijazah dalam bentuk dokumen <em>track record</em> dan capaian kemampuan mereka dalam menguasai matapelajaran selama sekolah. Jadi ya dideskripsikan saja kemampuan mereka di situ, termasuk penilaian dengan angka tidak masalah asal tepat dalam merepresentasikan kualitas yang dimaksud, termasuk naik turunnya nilai penguasaan materi pelajaran. Dokumen <em>track record</em> itulah yang merepresentasikan kualitas siswa lebih tepat. Dua pertanyaan yang muncul kemudian adalah: (1) bagaimana desain pendidikannya ketika misalnya nilai <em>track record</em> siswa jelek di akhir masa studi; dan (2) bagaimana dunia industri dan kampus yang sudah terbiasa dengan konsep UN menghadapi konsep baru ini.</p>
<p><em>Pertama</em>, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengadopsi konsep perkuliahan yang lebih fleksibel jadwal dan kurikulumnya, di sinilah sebenarnya gagasan “otonomi sekolah” dipraktikkan (bukan “otonomi keuangan sekolah”). Jadi ketika seorang siswa telah selesai masa studinya, yakni habis jadwal kurikulum yang harus ia ambil pada semester 6 atau kelas XII, namun ternyata nilainya masih jelek (dilihat dari dokumen <em>track record</em>-nya dia). Di sinilah siswa tersebut dapat memperbaiki nilainya dengan cara mengikuti kembali praktik pembelajaran, ikut masuk di kelas di mana ia mendapat nilai yang tidak bagus. Mengenai waktu lamanya ia mengikuti praktik pembelajaran ulang dan dinilai kembali tergantung pada kurikulum yang didesain oleh sekolah tersebut. Waktu wajarnya tentu satu semester. Desain sekolah ini tentu saja baru, dan basis filosofinya adalah sekolah yang didesain berdasarkan pada realitas empiris, konteks sosio-kultural, dan masalah yang terjadi (termasuk siswa-siswa yang ingin memperbaiki nilainya), selalu dinamis, tidak membangun &#8220;kemapanan&#8221; rezim, tepatnya adalah filosofi dan ideologi pedagogi kritis.</p>
<p><em>Kedua</em>, dunia industri dan kampus harus diberi pemahaman mengenai konsep baru ini tentunya. Bagi dunia kampus agaknya dapat cepat menerimanya, karena selama ini kampus dalam model penerimaan calon mahasiswa mandiri melalui prestasi telah menggunakan <em>track record</em> siswa dalam bentuk nilai rapor siswa selama sekolah. <em>Track record</em> tersebut secara konseptual dapat dikatakan memiliki derajat sebagai instrument untuk memperkirakan secara prediktif kemampuan calon mahasiswa untuk berkuliah. Pihak yang harus diperhatikan serius adalah dunia industri: dengan mengacu pada dokumen <em>track record</em> tersebut, justru dunia industri tidak ditipu oleh ilusi ijazah dan nilai UN, karena dokumen <em>track record</em> tersebut tidak hanya menilai kualitas kognitif tingkat rendah (seperti UN), melainkan merekam jejak kualitas praktik pembelajaran siswa secara komprehensif pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.</p>
<p>Analoginya adalah sistem TOEFL, dalam TOEFL tidak ada istilah lulus atau tidak, semuanya lulus, tapi <em>score</em> capaiannya beda-beda. Bagi yang mau belajar kuliah ke luar negeri minimal misal TOEFL 550, kalau tidak mencapai itu ya tidak bisa diterima, maka si anak tersebut dapat berlatih lagi dan ujian lagi sampai mencapai <em>score</em> 550 tadi. Dalam konteks UN sekarang, hal itu tidak bisa, karena nilai UN adalah nilai akhir, yang tidak bisa diperbaiki, tidak seperti TOEFL.</p>
<p>Apa untungnya model TOEFL? Ada beberapa contoh kemungkinan, misalnya: kalau mau masuk kampus Universitas Indonesia (UI) standar nilai DPK (saya sebut saja DPK, yakni Dokumen Penilaian Komprehensif) minimal adalah 550 (misal pakai penilaian ala TOEFL), maka kalau anak sampai pada kelas XII nilai DPK-nya tidak sampai 550 otomatis ia tidak bisa daftar di UI. Nah di sini ketakutan bahwa tanpa UN anak tidak akan serius belajar akan terbantahkan, karena dengan model DPK ini anak sejak awal harus serius belajar untuk meningkatkan nilai DPK-nya tersebut menjadi minimal 550 ketika ia ingin masuk UI. Jadi pembelajaran tidak dilakukan ala <em>drill &amp; practice</em> lagi hanya untuk lulus UN, melainkan berfokus pada proses yang lebih substansial mengolah bakat dan potensi siswa.</p>
<p>Di akhir kelas XII kalau <em>score</em>-nya tidak cukup untuk masuk UI, maka untuk mendapatkan nilai 550 ia harus belajar giat lagi dan ikut masuk kelas di mana ia mendapat nilai jelak sebagaimana dicatat dalam DPK. Demikian juga untuk masuk di dunia kerja, untuk masuk perusahaan besar dan sedang standar minimal DPK-nya berbeda, misal yang perusahaan sedang standar DPK-nya minimal 500 sedangkan perusahaan besar standar DPK-nya minimal 550. Nah, siswa-siswa yang nilai DPK-nya 500 bisa daftar langsung di perusahaan sedang, dan bagi yang DPK-nya 550 bisa mendaftar di perusahaan besar. Tentu di sini harus ada kesepemahaman antara dunia pendidikan dan dunia industri. Nah, hal ini tidak ada dalam UN, justru adanya UN telah membuahkan dua standar yang akhirnya tidak match antara dunia pendidikan dan dunia kerja, yakni standar capaian pendidikan (UN) yang statis dan standar dunia kerja sendiri dan juga kampus yang dinamis. Di sinilah desain pendidikan tepat didasarkan pada filosofi bahwa pendidikan adalah untuk kehidupan, dan realitas kehidupan ada di luar sekolah, yakni dunia kerja, kampus, masyarakt dan lainnya, bukan filosofi pendidikan untuk pendidikan yang tidak melihat relevansinya dalam kehidupan siswa dan masyarakat luas.</p>
<p>Bagi yang tidak ke dunia industri dan studi lanjut, tapi membuka usaha sendiri, atau mengolah lahan pertanian, perkebunan, perikanan dan lainnya, maka DPK yang diperoleh dapat dijadikan prediksi kira-kira bagaimana prediksi sukses dan tidaknya siswa tersebut di dunia kerja. Karena posisi DPK adalah sebagai dokumentasi evaluasi, maka praktik pembelajaran ditujukan untuk betul-betul menguasai pelajaran, siswa tidak bisa melakukan model <em>drill &amp; practice</em> agar nilai DPK bagus, karena begitu model pembalajaran dilakukan ala <em>drill &amp; practice</em>, maka DPK akan mencatatnya sebagai praktik pembelajaran yang tidak konstruktif dan kritis. Dapat juga dibuat DPK sekolah, berbeda dari DPK siswa, DPK sekolah untuk mencatat menilai <em>track record</em> kualitas sekolah secara berkelanjutan. Jadi, begitu model pembelajarannya ala <em>drill &amp; practice</em>, maka nilai di <em>track record</em>-nya jelek. Jadi, dengan DPK sekolah dapat memperbaiki kualitas pembelajarannya, kurikulumnya dan lainnya secara lebih tepat. Pun kalau siswa mau sekadar mendapatkan nilai DPK tinggi, maka mau tidak mau ia harus melakukan praksis pembelajaran yang substansial, bukan ala Bimbel.</p>
<p>Untuk lebih detail misal pada pelajaran bahasa dan sastra Indonesia: ketika tujuan pelajaran bahasa Indonesia tujuannya adalah agar siswa dapat menyimak bacaan, mengapresiasi, menulis, menganalisis bacaan secara kritis dan lainnya, maka cara evaluasinya adalah dengan memberi tugas bagi siswa untuk membaca novel, menganalisisnya, mengapresiasinya dalam bentuk essei, dan bahkan berkarya puisi atau prosa dan sejenisnya. Semuanya itu dicatat dalam <em>track record</em> pribadi siswa (DPK). Jadi tidak dinilai melalui <em>multiple choice</em>. Kalau penilaian substansial dan komprehensif ini dilakukan, kalau peta pendidikan dibuat berdasarkan data akumulatif dari penilaian jenis ini, maka peta pendidikan tersebut tidak hanya menunjukkan peta kemampuan kognitif tingkat rendah seperti UN, melainkan peta kualitas pendidikan yang lebih lengkap dan substansial.</p>
<p>Terakhir, praktik pendidikan mestinya melampaui bentuk-bentuk formalitas—seperti UN—yang kontraproduktif dengan tujuan substansial pendidikan. Pengutamaan UN pada hakikatnya telah terjebak untuk sekadar fokus pada dimensi instrumental, teknis, dan metodologis dari pendidikan saja. Asumsi yang dibangun adalah: menyediakan instrumen pendidikan dan memenuhinya. Dengan memenuhi standar-standar yang terdapat dalam instrumen pendidikan (kurikulum, silabus, alat test) maka diasumsikan tujuan pendidikan sudah tercapai, padahal sebenarnya mereka hanya memenuhi standar-standar instrumental pendidikan belaka. Benar bahwa instrumen tersebut dibuat untuk mencapai visi pendidikan, namun salah jika menganggap memenuhi instrumen pendidikan diartikan sebagai telah memenuhi visi pendidikan. Paling ironis adalah ketika instrumen yang dibuat tersebut—dalam hal ini adalah UN—ternyata salah kaprah, maka memfokuskan dan mengutamakan instrumen adalah kesalahan fatal.  [ ]</p>
<p><strong>Catatan akhir:</strong> Tulisan ini adalah revisi dari catatan yang saya sampaikan pada diskusi “Menelaah Ujian Nasional” di Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Jum’at, 20 Mei 2011, di Ruang Pers lt. 1 DPD RI, Kompleks Parlemen, Jl. Jend. Gatot Soebroto, No. 6, Senayan, Jakarta. Saya ditelpon oleh mbak Intan dari DPD karena Pak Lody Paat tidak bisa datang, jadi saya datang sebagai wakilnya Pak Lody. Berhubung Pak Lody adalah Koordinator Koalisi Pendidikan, maka saya bilang ke panitia, ya sudah saya ditulis sebagai anggota Koalisi Pendidikan saja, pernyataan saya dalam catatan ini adalah pendapat pribadi saya, walau begitu setidaknya relatif sama dengan pemikiran mayoritas kawan-kawan di Koalisi Pendidikan yang bersikap menolak UN.</p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/pedagogi-kritis/'>Pedagogi Kritis</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendidikankritis.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendidikankritis.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendidikankritis.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendidikankritis.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendidikankritis.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendidikankritis.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendidikankritis.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendidikankritis.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendidikankritis.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendidikankritis.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendidikankritis.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendidikankritis.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendidikankritis.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendidikankritis.wordpress.com/355/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=355&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/05/25/makna-ujian-nasional-bagi-kehidupan-siswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/05/un.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/05/un.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Perayaan Lulus UN</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c604c22050f0a0ec64e1a9801580bb86?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisubkhan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/05/un.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Perayaan Lulus UN </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Coba Perhatikan Logika Pendidikan Kita&#8230;</title>
		<link>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/05/04/coba-perhatikan-logika-pendidikan-kita/</link>
		<comments>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/05/04/coba-perhatikan-logika-pendidikan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 May 2011 12:34:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edi subkhan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pedagogi Kritis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pendidikankritis.wordpress.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Anda belajar di sekolah untuk betul2 paham &#38; menguasai pengetahuan serta mengoptimalkan potensi diri, atau belajar untuk lulus test (UN)? Apakah setelah lulus UN nilai-nilai UN itu betul2 ada gunanya ketika digunakan bwt masuk dunia kerja atau kuliah? Bukankah kalau Anda melamar kerja &#38; ikut test masuk kampus Anda akan ditest lagi? Anda bisa gagal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=274&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda belajar di sekolah untuk betul2 paham &amp; menguasai pengetahuan serta mengoptimalkan potensi diri, atau belajar untuk lulus test (UN)? Apakah setelah lulus UN nilai-nilai UN itu betul2 ada gunanya ketika digunakan bwt masuk dunia kerja atau kuliah? Bukankah kalau Anda melamar kerja &amp; ikut test masuk kampus Anda akan ditest lagi? Anda bisa gagal ato berhasil tidak ada hubungannya dengan nilai UN Anda, tp berdasarkan kemampuan Anda yang diinginkan kampus atau dunia kerja itu sendiri&#8230; Lalu untuk apa UN selain sebagai alat ukur yang sekadar mengukur ranah kognitif dan akhirnya tidak betul-betul digunakan untuk aktivitas mereka dalam kehidupan sehari-hari baik setelah lulus maupun belum.</p>
<p>Bagi saya tidak usah ada istilah lulus atau tidak dalam sekolah, tapi sekadar deskripsi anak tersebut sudah menguasai apa saja dan biarkan dunia industri yang menentukan &#8220;lulus&#8221; atau tidaknya mereka untuk masuk dalam dunia kerja. Bagi mereka yang tidak berminat masuk dunia industri dengan tiadanya konsep lulus dan tidak di sekolah ini jelas akan makin membuka potensi diri mereka, belajar betul-betul untuk kehidupan, bukan untuk lulus UN yang akhirnya mubazir gak dipakai dalam kehidupan. Bagi anak-anak di desa yang pengen jadi petani niai-nilai UN dan lulus sekolah itu gak ada maknanya, bagi yang ingin jadi wirausahawan sekolah dan kuliah juga tidak terlalu berpengaruh, kalau ada orang mau investasi yang dilihat bukan lulus UN atau tidak, lulus sekolah atau tidak, gelar akademiknya apa, tapi bukti keberhasilan usaha dan prospek usaha. Ini soal riil tapi para akademisi di istana menara gading kampus dan pemerintah tetap menganggap UN penting, saya gak habis pikir ko segitu ngototnya ya, hmm&#8230;</p>
<p>Kalau diskursus pendidikan kita yang sudah semestinya bergerak menuju pada soal-soal kebermaknaan (<em>meaningful</em>) pendidikan, maka tidak seharusnya justru pendidikan sekarang masih berpegang pada argumen konservatif yang menganggap bahwa instrumen test-test seperti UN adalah penting. Penting itu apa dan menurut siapa? Pemenuhan target instrument seperti UN dan sejenisnya secara faktual jelas tidak memberikan nilai kebermaknaan bagi anak-anak di desa, terlebih dengan logika dan argumen saya di awal notes pendek ini. Ironis, dulu murid mencari guru, sekarang mencari institusi &#8220;bertaraf internasional&#8221;, sekolah bonafide, <em>world class university </em>dan sejenisnya, dulu murid mencari ilmu yang bermanfaat, sekarang mencari ijazah dan sertifikat-sertifikat, dulu guru perannya luas di masyarakat, sekarang dipersempit di sekolah saja, dulu sekolah oleh Ki Hadjar, M. Sjafe&#8217;i, Tan Malaka adalah pusat kebudayaan dan pergerakan rakyat, sekarang sekadar tempat kursus penghasil tenaga kerja dunia industri dan PNS.</p>
<p>Inilah terbolak-baliknya anatomi nilai dan tujuan hidup, ada diskursus yang harus dibangun dengan mempertentangkan antara pendidikan berkualitas dan pendidikan bermakna, antara guru profesional dan guru yang &#8220;berkualitas&#8221; bagus, berkemampuan pedagogik dan metodik bagus. Banyak logika dalam praktik pendidikan kita salah kaprah, salah satunya yang masih sering disinggung dan dijadikan standar ukur berkualitas dan tidaknya pendidikan kita, yaitu: masa tunggu kerja. Masa tunggu kerja itu dibangun di atas logika ekonomi kapitalis, yaitu klo kerja sebatas dimaknai sebagau masuk dunia kerja industri, PNS dan sejenisnya, klo petani ya gak ada masa tunggu kerja, abis lulus sekolah/kuliah dapat langsung disebut kerja sebagai petani, pedagang dst, jadi masa tunggu kerja tdak dapat dijadikan patokan berkualitas ato tidaknya pendidikan&#8230; Begitulah kalau pendidikan dianggap sebagai penyedia tenaga kerja dunia industri belaka, tidak melihat pendidikan sebagai praktik politik kebudayaan dan pusat gerakan sosial untuk transformasi intelektual dan sosial.</p>
<br />Filed under: <a href='http://pendidikankritis.wordpress.com/category/pedagogi-kritis/'>Pedagogi Kritis</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pendidikankritis.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pendidikankritis.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pendidikankritis.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pendidikankritis.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pendidikankritis.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pendidikankritis.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pendidikankritis.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pendidikankritis.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pendidikankritis.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pendidikankritis.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pendidikankritis.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pendidikankritis.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pendidikankritis.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pendidikankritis.wordpress.com/274/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pendidikankritis.wordpress.com&amp;blog=1013910&amp;post=274&amp;subd=pendidikankritis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/05/04/coba-perhatikan-logika-pendidikan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:thumbnail url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/05/job-fair.jpg?w=150" />
		<media:content url="http://pendidikankritis.files.wordpress.com/2011/05/job-fair.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Job Fair di UI</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c604c22050f0a0ec64e1a9801580bb86?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisubkhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
