Silabus Landasan Sosiologi Teknologi Pendidikan

Posted on Maret 6, 2012

0


Candu komputer


Rabu                Pukul 07.00-08.30 WIB        (A3-202)

                        Pukul 13.00-14.30 WIB        (A3-202)

                        Pukul 15.00-16.30 WIB        (A3-202)

Pengampu       Drs. Budiyono, MS & Edi Subkhan

 

Tujuan perkuliahan

Perkuliahan ini diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar sosiologi teknologi pendidikan. Oleh karena itu pada level substansi (content), materi yang harus dikuasai oleh mahasiswa adalah pengetahuan teoretik mengenai konsep dasar sosiologi teknologi pendidikan, dan dengan pengetahuan tersebut diharapkan mahasiswa dapat menganalisis secara kritis konsep dan praksis teknologi pendidikan dari dimensi sosiologi, terutam dengan menggunakan asumsi dasar teori-teori sosial kritis.

Pada level kemampuan nalar pikir, diharapkan mahasiswa dapat mempertajam daya kritisnya dalam melihat akar ideologis, sosiologis, budaya, politik dan ekonomi di balik gagasan dan praksis teknologi pendidikan. Melalui daya kritis tersebut, maka diharapkan mahasiswa dapat terbangun kesadaran kritisnya untuk kemudian mengarahkan pada pemahaman bahwa sudah seharusnya gagasan konseptual dan praksis teknologi pendidikan mengacu pada tujuan perubahan sosial ke arah tatanan sosial yang lebih baik dan adil (social transformation).

Substansi perkuliahan

Substansi atau content pengetahuan yang dibahas dalam perkuliahan ini terdiri dari beberapa bagian yang mengacu pada tujuan perkuliahan sebagaimana dikemukakan di depan. Ringkasan substansi perkuliahan terdapat pada lampiran 1.

Jadwal perkuliahan

Jadwal perkuliahan ini disusun untuk dilaksanakan maksimal sebanyak 16 (enam belas) kali pertemuan perkuliahan, dengan acuan sebagai berikut.

  1. Membahas sekilas tujuan perkuliahan dan materi yang akan dipelajari bersama, melakukan negosiasi materi, metode perkuliahan dan penilaian antara dosen dan mahasiswa (kontrak belajar), dan memberikan referensi dasar yang akan digunakan dalam perkuliahan. Selain itu juga membahas materi awal tentang dimensi dan dasar sosiologis teknologi pendidikan.
  2. Teori-teori sosial kritis dari tradisi Marxian dan Nietzschean. Membahas beberapa teori sosial kritis dalam tradisi Marxian dan Nietzschean serta relevansinya dalam memahami secara kritis praksis teknologi pendidikan, antara lain adalah Teori Kritis (mazhab Frankfurt) seperti Adorno, Marcuse, Habermas, juga pemikir lain seperti Louis Althusser, Antonio Gramsci, Pierre Bourdieu, serta pemikir dalam tradisi Nietzschean seperti Lyotard, Foucault, Baudrilard.
  3. Teknologisasi: technocultur & technopoly. Membahas praktik teknologisasi segala bidang kehidupan, termasuk pengetahuan (knowledge, episteme), pada fenomena technoculture, masyarakat menjadi tak dapat dipisahkan dari teknologi, menjadi cyberog dalam istilahnya Donna Haraway, technopoly dari Neil Postman “tujuan utama masyarakat dan pemikiran adalah efisiensi”, masyarakat juga menjadi makin teknis, keterampilan teknis yang dikejar untuk dikuasai dalam upaya mencari penghasilan (profit, akumulasi modal).    
  4. Isu kapitalisme global dalam teknologi pendidikan. Imbas kapitalisme global pada dunia pendidikan dan teknologi pendidikan, yaitu korporatisasi dan kultur serta logika kapitalisme. Isu yang muncul dan dibahas adalah komodifikasi, substansi media dan karakter metode diarahkan untuk menopang gerak-laju kapitalisme. Termasuk di antaranya adalah produk-produk media pembelajaran pabrikan yang menjadi komoditas dagang (profit, dijual ke sekolah dan rumah-rumah).  
  5. Isu keadilan sosial dan akses terhadap pengetahuan. Membahas isu ketersediaan media dan akses pengetahuan bagi semua orang, dikaitkan dengan policy dan metode pembelajaran berbasis teknologi, kalau saluran pengetahuan hanya satu, yaitu via hi-tech, maka terjadi diskriminasi bagi yang tak punya akses terhadap hi-tech. Dalam upaya mendatkan akses terhadap pengetahuan yang banyak didominasi oleh elite, maka kelompok-kelompok pelawan (resistance) membuat gerakan, seperti open source, Linux, gigapedia, library.nu, dan lainnya. 
  6. Isu gender dan perspektif feminis dalam teknologi pendidikan. Membahas persoalan bias gender yang terjadi dalam akses terhadap metode pembelajaran, media pembelajaran, dan pengetahuan. Metode dan media pembelajaran yang ramah bagi laki-laki dan perempuan, isu-isu keadilan sosial dan anti-diskriminasi. Media dalam perspektif: fleksibel, berkarakter mengasuh, humanis,
  7. Isu etika dan SARA (etnis, agama, ras) dalam teknologi pendidikan. Membahas isu-isu tentang sentimen etnis, agama dan ras yang muncul dalam teknologi pendidikan. Contoh bahasan adalah (a) kasus konten media yang provokatif menghina agama, etnis dan ras tertentu, misal juga (b) konten buku dan aktivitas metode pembelajaran yang dasarnya atau diarahkan pada keyakinan agama tertentu, (c) dominasi dan hegemoni kultur etnis tertentu dalam buku atau media pembelajaran dan lainnya. Melalui pendekatan pembelajaran problem-posing, isu-isu yang muncul dalam media tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran yang kritis dan menarik.  
  8. Mid semester. Mahasiswa membuat paper, essei, ulasan jurnal atau buku berkaitan dengan tema yang telah dibahas pada pertemuan perkuliahan sebelum mid semester. 
  9. Isu politik dan kebijakan pendidikan mengenai teknologi pendidikan. Dalam praktik teknologi pendidikan di sekolah dan masyarakat, tidak dapat dilepaskan dari politik dan policy negara, dan semuanya tersebut didasari oleh argumentasi ideologis ataupun pragmatis tertentu. Bahasan diarahkan pada tarik-menarik kepentingan negara, pasar dan masyarakat melalui mekanisme politik dan policy teknologi pendidikan. Contoh kasus: kewenangan Kominfo dalam sensor, KBK, KTSP dan Ujian Nasional serta efeknya dalam metode pembelajaran.
  10. Isu critical eco-literacy dalam teknologi pendidikan. Membahas isu-isu global warming, pelestarian alam, go green, kembali ke alam (back to nature), dan implikasinya bagi ranah kreasi, penggunaan dan pengelolaan teknologi pendidikan. Contoh bahasan adalah munculnya ebook, epaper, web sebagai lingkungan belajar, paperless policy, munculnya iPad, mainan pabrik, dan lainnya. Fenomena kerusakan lingkungan dikaji secara kritis dikaitkan dengan keberadaan korporasi dan dunia industri kapitalis yang menjadi biang kerusakan ekologis.
  11. Pedagogi kritis dan kritik metode pembelajaran. Membahas beberapa varian metode pembelajaran yang didasarkan pada tiga mazhab psikologi, yaitu behavioristik, kognitif dan konstruktivis. Dua yang pertama—behavioristik & kognitif—tidak banyak dikaitkan dengan dengan dimensi sosiologis, tidak juga diarahkan untuk transformasi sosial, di sinilah metode pembelajaran berparadigma konstruktivis berpotensi menjadi metode pembelajaran yang emansipatoris, humanis, kritis untuk transformasi sosial (menolak banking concept of education).  
  12. Kritik ideologi terhadap media pembelajaran. Membahas akar ideologi dari tiap varian/jenis media pembelajaran dilihat dari substansi pengetahuan, nilai-nilai dan kultur yang dibawa. Dalam upaya mendapatkan gambaran yang jelas, detil dan mendalam, maka upaya untuk mengetahui akar ideologi tersebut tidak hanya dilihat medianya saja dalam kondisi diam/statis, melainkan juga harus dilihat ketika media tersebut digunakan dan dikelola dalam praksis pembelajaran. Dengan menggunakan Critical Discourse Analysis (CDA) misalnya akan dapat dilihat sampai pada konteks produksi media tersebut. Contoh bahasan adalah: Google, wikipedia, iPad, buku teks tertentu, misal pelajaran ekonomi.  
  13. Televisi dan pop culture. Membahas potensi dan risiko televisi sebagai media pembelajaran. Salah satu bentuk kultur yang mewabah melalui televisi dan dikonsumsi oleh jutaan anak-anak muda sekarang adalah pop culture. Dengan kritik ideologi juga dapat diidentifikasi perubahan sosio-kultural hadirnya televisi di ruang-ruang keluarga di desa, pengaruh pemusatan wacana (discourse) oleh berita-berita yang tersentralisasi (terpusat), bias Jakarta, bias gaul anak muda Jakarta dan lainnya yang telah menjadi praksis pembelajaran ideologi dan budaya anak-anak muda.   
  14. New Media dan perspektif posmodern. Membahas perkembangan dari teknologi analog ke teknologi digital atau yang juga disebut sebagai New Media, beberapa karakteristiknya antara lain adalah berjejaring (network), dan beroperasi dalam logika posmodern. Jenis media satu saling berkoneksi dengan media lain, muncul juga kultur visual (visual culture), kultur menonton—daripada membaca, perubahan kuasa/kontrol pada subjek, dan lainnya. Semua itu berpengaruh pada praktik kreasi, penggunaan dan pengelolaan metode dan media pembelajaran. Contoh bahasa: praktik pembelajaran mandiri, paradoks demokratisasi dan sentralisasi sistem digital dalam online learning di Universitas Terbuka dan lainnya.  
  15. Internet dan cyberculture. Membahas dimensi sosio-kultural internet (cyberculture), karena internet telah melahirkan beberapa fenomena kultural yang berbeda dari fenomena kultural pada “dunia sosial aktual”. Beberapa fenomena cyberculture antara lain adalah kultur kecepatan, berjejaring, berkomunitas, kloning, kedangkalan dan lainnya. Cyberculture telah merubah mekanisme/metode pembelajaran, termasuk berimbas positif maupun negatif. Contoh bahasan adalah: plagiat, cut & glue, dan lainnya.
  16. Evaluasi Akhir Semester. Melanjutkan interview pada pertemuan sebelumnya untuk mengetahui tingkat penguasaan mahasiswa terhadap substansi proposal dan sekaligus upaya mereduksi plagiat.

Metode perkuliahan

Perkuliahan ini dicoba untuk menggunakan pendekatan pedagogi kritis (critical pedagogy) yang menjadikan ruang kelas dan praktik perkuliahan menjadi lebih demokratis, humanis, membangun kesadaran kritis dan diarahkan untuk tujuan transformasi sosial. Upaya tersebut dilakukan (1) dengan membangun dialog yang kritis dan konstruktif antara dosen dan mahasiswa dan juga antara mahasiswa dan mahasiswa sendiri; (2) melakukan negosiasi pengetahuan yang akan dipelajari, metode perkuliahan dan penilaian (kesepakatan dalam kontrak kuliah di awal pertemuan);  (3) pada tiap bahasan diarahkan untuk mengasah nalar kritis mahasiswa dalam melihat realitas sosio-kultural, terutama melalui perspektif bahwa gagasan dan praksis teknologi pendidikan harus diarahkan untuk tujuan emansipasi dan transformasi sosial; (4) pada tiap bahasan dikaitkan dengan (a) substansi pengetahuan yang terkandung dalam media, juga (b) karakter metode dan media pembelajaran; (5) pada tiap bahasan dikaitkan dengan ranah kreasi, penggunaan dan pengelolaan (manajemen) teknologi pendidikan; (6) pada tiap perkuliahan terdapat dialog dan diskusi interaktif, termasuk pada paruh akhir perkuliahan dilaksanakan presentasi kelompok; dan (5) melakukan review terhadap hasil pekerjaan mahasiswa untuk memberikan kesempatan klarifikasi bagi mahasiswa dan penguasaan bahasan yang lebih mendalam.

Indikator ketercapaian

Ketercapaian tujuan perkuliahan dapat dilihat dari: (1) mahasiswa dapat menguasai konsep-konsep dasar teori-teori sosial kritis sebagai pisau analisis dalam melihat realitas praksis teknologi pendidikan; (2) mahasiswa mampu menganalisis dari perspektif kritis gagasan dan praksis teknologi pendidikan, terutama dalam konteks Indonesia; (3) mahasiswa mampu membuat pertimbangan dan identifikasi bahwa praktik kreasi, penggunaan dan pengelolaan metode dan media pembelajaran harus mengacu pada dasar-dasar sosiologi teknologi pendidikan, misalnya pertimbangan akses terhadap pengetahuan, bias gender, etika komunikasi, dan lainnya.

Penilaian perkuliahan

Penilaian terhadap capaian perkuliahan dilihat dari kualitas mereka dalam menyelesaikan beberapa penugasan yang diberikan, yaitu: (1) analisis (review) salah satu tulisan hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam bentuk jurnal dengan tema kurikulum dan teknologi pendidikan (individual); (2) proposal penelitian kualitatif yang dikerjakan secara kolektif (berkelompok); dan (3) interview (individual) yang dilakukan kepada mahasiswa untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap proposal yang mereka buat dan pengetahuan metodologi kualitatif secara umum. Penugasan pertama masuk dalam penugasan mid semester, sedangkan penugasan kedua dan ketiga dalam Ujian Akhir Semester (UAS).

Referensi sementara

  1. Apple, Michael W., Ball, Stephen J., & Gandin, Luis Armando (eds.). The Routledge International Handbook of the Sociology of Education. London & New York: Routledge.
  2. Ball, Stephen J (ed.). (2004). The RoutledgeFalmer Reader in Sociology of Education. London & New York: RoutledgeFalmer.
  3. Giroux, Henry. (1983). Theory and Resistance in Education: A Pedagogy for the Opposition. New York: Bergin and Garvey.
  4. Bell, David. (2001). An Introduction to Cybercultures. London & New York: Routledge.
  5. Hardiman, F. Budi. (2009). Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.
  6. Harker, Richard. (2005). “Bourdieu—Pendidikan dan Reproduksi” dalam Richard Harker, Cheelen Mahar & Chris Wilkes (eds.). (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Jalasutra, pp. 109-138.
  7. Holmes, Bryn Holmes & Gardner, John. (2006). E-Learning: Concept and Practice. London, Thousand Oaks, New Delhi: Sage Publication, 2006.
  8. Januszewski, Alan & Molenda, Michael (eds.). (2008). Educational Tehnology: A Definition with Commentary. New York & London: Lawrence Erlbaum Associates.
  9. Kerr, Stephen T. (1996). “Toward A Sociology of Educational Technology” dalam David H. Jonassen (ed.). Handbook of Research for Educational Communications and Technology. New York: Simon & Schuster Macmillan, pp. 143-169.
  10. Leary, Timothy. (1994). Chaos & Cyberculture. Berkeley, California: Ronin Publishing.
  11. Lister, Martin, et al. (2009). New Media: A Critical Introduction. 2nd Edition. London & New York: Routledge.
  12. Mangunwijaya, Y.B. (1993). Teknologi dan Dampak Kebudayaannya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  13. McLaren, Peter & Leonard, Peter (1993). Paulo Freire Readers: A Critical Encounter. London & New York: Routledge.
  14. Topatimasang, Roem., Rahardjo, Toto & Fakih, Mansour. (2010). Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta: Insist Press.
  15. Weiss, Joel, et al. (2006). The International Handbook of Virtual Learning Environments. Vol. 1. Dordrecht, The Netherlands: Springer, 2006.
About these ads