Silabus Pengantar Ilmu Pendidikan

Posted on Maret 5, 2012

3


Wajah Pendidikan

Selasa           Pukul 07.00-08.30 WIB    (C3-218)
Pengampu     Drs. Nurussa’adah & Edi Subkhan

Tujuan perkuliahan
Perkuliahan ini diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan kemampuan awal dalam ilmu pendidikan. Oleh karena itu pada level substansi (content) materi, mahasiswa diharapkan: (1) memahami hakikat pendidikan sebagai sebuah konsep teoretis dan praksis transformatif; (2) memahami hakikat filosofis-ideologis subjek/objek pendidikan (manusia); (3) memahami dan menguasai konsep dasar dari fondasi historis, sosiologi, psikologi dan filosofi-ideologi pendidikan; dan (4) memahami dan menguasai konsep dasar kurikulum, manajemen pendidikan dan kebijakan dan politik pendidikan.

Pada ranah/dimensi kemampuan yang diolah, diharapkan mahasiswa dapat mempertajam daya kritisnya dalam melihat gagasan dan praksis pendidikan di Indonesia kemudian, juga menjadi kritis dalam memahami bagaimana gagasan dan praksis pendidikan sekarang banyak dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan politik praktis dan pasar bebas, kemudian terasah sensitivitas sosial, empati dan nalar keberpihakannya pada kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan dalam praksis pendidikan di Indonesia.

Substansi perkuliahan
Substansi atau content pengetahuan yang dibahas dalam perkuliahan ini terdiri dari beberapa bagian yang mengacu pada tujuan perkuliahan sebagaimana dikemukakan di depan. Secara singkat dapat dilihat pada jadwal per pertemuan kuliah dan lebih lengkapnya berupa ringkasan materi dapat dilihat pada lampiran 1.

Jadwal perkuliahan
Jadwal perkuliahan ini disusun untuk dilaksanakan maksimal sebanyak 16 (enam belas) kali pertemuan perkuliahan, dengan acuan sebagai berikut.

  1. Membahas sekilas tujuan perkuliahan dan materi yang akan dipelajari bersama, melakukan negosiasi materi, metode perkuliahan dan penilaian antara dosen dan mahasiswa (kontrak belajar), dan memberikan referensi dasar yang akan digunakan dalam perkuliahan. Selain itu juga membahas perlunya mahasiswa menguasai dasar teoretis dan praksis ilmu pendidikan.
  2. Hakikat pendidikan dan mendidik. Hakikat pendidikan adalah praktik mengolah potensi manusia untuk menjadi manusia seutuhnya agar dapat berkehidupan yang layak dan membangun peradaban yang humanis. Untuk mewujudkan hal tersebut seseorang diberi bekal (a) pengetahuan dan (b) penguasaan keterampilan teknis. Keduanya dipelajari melalui praksis pendidikan, oleh karena itu diperlukan (a) cara/metode mendidik yang tepat dan (b) media/sumber penunjang praktik mendidik. Bahan diskusi: mendidik dengan reward & punishment, keteladanan, mengajak berpikir kritis, berbuat hal yang riil, magang dan lainnya.
  3. Hakikat filosofis dan ideologis manusia. Membahas manusia sebagai subjek yang dididik dalam praksis pendidikan. Lebih jauh perlu dianalisis ideal manusia menurut beberapa perspektif, budaya (misalnya Jawa, Minang), agama (misalnya Islam, Nasrani, Budha), ideologi (liberalisme: individu bebas; sosialisme: individu dalam kolektivitas). Tidak cukup membahas filosofi manusia ideal tanpa meletakkannya dalam konteks sosio-kultural riil, jadi “ideal type” manusia tersebut diarahkan pada tatanan sosial masyarakat ideal apa yang dicita-citakan berdasarkan perspektif budaya, agama, ideologi tertentu. Bahan diskusi: masyarakat kapitalis, sosialis dan Islam.
  4. Dasar historis ilmu pendidikan. Membahas jejak historis gagasan dan praksis pendidikan: universitas, Sekolah Rakyat, Taman Siswa, INS Kayutanam, pondok pesantren, sekolah negeri, sekolah swasta, sekolah alternatif. Diidentifikasi visi/tujuan, ideologi, model (manajemen), kurikulum, dan praksis pendidikannya.
  5. Dasar sosiologi ilmu pendidikan. Membahas konteks sosial, kultural, politik, ekonomi, geografi dari gagasan dan praksis pendidikan. Terdapat multi konteks lingkup pendidikan: mulai dari konteks keluarga, sekolah, dan masyarakat; konteks sosial: perubahan sosial, revolusi teknologi, industrialisasi, urbanisasi; juga multikultural berdasar etnis, agama, kota, desa; juga kuasa politik rezim pemerintah; juga mekanisme ekonomi kapitalisme global, potensi ekonomi rakyat (keduanya didasarkan pada cita-cita ideologis tertentu); juga multikonteks geografi Jawa, Luar Jawa, pedalaman, pesisir, perbatasan, “Pusat”.
  6. Dasar psikologi ilmu pendidikan. Membahas tiga aliran utama psikologi pembelajaran/pendidikan behavioristik, kognitif dan konstruktivis dan model-model pembelajaran dan pendidikan serta kebijakan (policy) pendidikan yang didasari oleh ketiga aliran psikologi tersebut. Bahan diskusi: Ujian Nasional, pendidikan militer dan militeristik (misal: STPDN), Qaryah Thayibah Salatiga.
  7. Dasar filosofi dan ideologi ilmu pendidikan. Membahas dasar ontologi, epistemologi, dan aksiologi pendidikan, selain itu juga membahas ideologi-ideologi pendidikan dari perspektif kritis, yaitu: konservatif, liberal dan kritis. Bahan diskusi: kasus anak putus sekolah, sekolah alternatif, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).
  8. Mid semester. Membahas hasil laporan kritis mahasiswa mengenai praktik pendidikan yang ada di masyarakat Indonesia kontemporer dilihat dari dasar historis, sosiologi, psikologi, dan filosofi-ideologinya dalam bentuk essei (tugas kolektif/kelompok).
  9. Mereviu hasil laporan kelompok mahasiswa di kelas.
  10. Konsep dasar dan praksis kurikulum. Membahas teori dan praksis kurikulum, dasar ideologis kurikulum: (a) academic rationalism; (b) social and economic efficiency; (c) learner-centeredness; (d) social reconstructionism; (e) cultural pluralism (Richards, 2001: 113-120). Dalam mengembangkan kurikulum minimal harus ada: (a) tujuan; (b) konten; (c) pengorganisasian; dan (d) evaluasi (konsep dasar pengembangan kurikulum dari Ralph Tyler dan beberapa konsep revisinya).
  11. Konsep dasar dan praksis manajemen pendidikan. Membahas (a) konsep dasar manajemen pendidikan makro (nasional), meso (regional, sekolah) dan mikro (ruang kelas) dalam sistem pendidikan nasional; (b) manajemen dan kaitannya dengan kurikulum dan kebijakan pendidikan; (c) konsep dasar manajemen sekolah: (1) visi, (2) anggota; (3) proses; (4) evaluasi. Bahan diskusi: manajemen program studi, manajemen sekolah, manajemen pesantren, manajemen perusahaan.
  12. Kebijakan dan politik pendidikan. Membahas relasi politik penguasa dan produk kebijakan (policy) pendidikan. Bahan diskusi: Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan lainnya. Di akhir pertemuan, mahasiswa diberi penugasan untuk membuat ulasan kritis dari tiga tema yang telah dibahas, yaitu masalah yang muncul dalam konsep dan praksis kurikulum, manajemen pendidikan dan kebijakan dan politik pendidikan (tugas kelompok).
  13. Presentasi kelompok dan sekaligus penilaian (kelompok dan individu).
  14. Presentasi kelompok dan sekaligus penilaian (kelompok dan individu).
  15. Presentasi kelompok dan sekaligus penilaian (kelompok dan individu).
  16. Evaluasi Akhir Semester.

Metode perkuliahan
Perkuliahan ini dicoba untuk menggunakan pendekatan pedagogi kritis (critical pedagogy) yang menjadikan ruang kelas dan praktik perkuliahan menjadi lebih demokratis, humanis, membangun kesadaran kritis dan diarahkan untuk tujuan transformasi sosial. Upaya tersebut dilakukan (1) dengan membangun dialog yang kritis dan konstruktif antara dosen dan mahasiswa dan juga antara mahasiswa dan mahasiswa sendiri; (2) melakukan negosiasi pengetahuan yang akan dipelajari, metode perkuliahan dan penilaian (kesepakatan dalam kontrak kuliah di awal pertemuan);  (3) pada tiap bahasan diarahkan untuk mengasah nalar kritis mahasiswa dalam melihat realitas sosio-kultural, terutama melalui perspektif bahwa pendidikan musti diarahkan untuk pemberdayaan (empowerment) dan perubahan sosial dengan mendasarkan nilai-nilai keadilan sosial; (4) pada tiap perkuliahan terdapat dialog dan diskusi interaktif, termasuk pada paruh akhir perkuliahan dilaksanakan presentasi kelompok; dan (5) melakukan review terhadap hasil pekerjaan mahasiswa untuk memberikan kesempatan klarifikasi bagi mahasiswa dan penguasaan bahasan yang lebih mendalam.

Indikator ketercapaian
Ketercapaian tujuan perkuliahan dapat dilihat dari: (1) mahasiswa mampu mengidentifikasi bentuk praktik-praktik pendidikan; (2) mahasiswa mampu mengidentifikasi ideal type manusia yang ingin dituju oleh praksis pendidikan tertentu dan dasar paradigmanya; (3) mahasiswa mampu menganalisis kritis masalah pendidikan dilihat dari dasar historis, sosiologi, psikologi dan filosofi-ideologi; (4) mahasiswa mampu menganalisis kritis masalah pendidikan dalam bidang kurikulum, manajemen pendidikan, dan kebijakan dan politik pendidikan.

Penilaian perkuliahan
Penilaian terhadap capaian perkuliahan dilihat dari kualitas mereka dalam menyelesaikan beberapa penugasan yang diberikan, yaitu: (1) analisis (review) hasil laporan kritis mahasiswa mengenai praktik pendidikan yang ada di masyarakat Indonesia kontemporer dilihat dari dasar historis, sosiologi, psikologi, dan filosofi-ideologinya dalam bentuk essei (tugas kolektif/kelompok, mid semester); (2) ulasan kritis dari tiga tema yang telah dibahas, yaitu masalah yang muncul dalam konsep dan praksis kurikulum, manajemen pendidikan dan kebijakan dan politik pendidikan (tugas kelompok, dinilai secara kolektif dan individual melalui tanya jawab dengan dosen dan mahasiswa ketika presentasi, “Ujian Akhir Semester”).

Referensi sementara

  1. Darmaningtyas & Subkhan, Edi. (2012). Manipulasi Kebijakan Pendidikan. Yogyakarta: Resist Book.
  2. McKernan, James. (2008). Curriculum and Imagination: Process Theory, Pedagogy, and Action Research. London & New York: Routlegde.
  3. Richards, Jack C. (2001). Curriculum Development in Language Teaching. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
  4. Surakhmad, Winarno. (2009). Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi. Jakarta: Kompas.
  5. Tilaar, H.A.R. (2009). Kekuasaan dan Pendidikan: Manajemen Pendidikan Nasional dalam Pusaran Kekuasaan. Jakarta: Rineka Cipta.
  6. Topatimasang, Roem., Rahardjo, Toto & Fakih, Mansour. (2010). Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta: Insist Press.
  7. Trowler, Paul. (2003). Education Policy. 2nd edition. London dan New York: Routledge.
About these ads