(ongoing project)
Dari masa ke masa model penilaian terhadap perkuliahan tidak banyak berubah. Padahal perkembangan perspektif paradigmatik dalam melihat pendidikan dan pembelajaran telah berkembang ke arah yang lebih “memanusiakan manusia” (humanis), juga ke arah yang lebih demokratis, kontekstual, menyenangkan, tapi juga tidak kehilangan dimensi kritisnya.
Pada diktat-diktat penilaian pembelajaran dikenal beberapa jenis evaluasi dan tes, mulai dari (1) mode multiple choice; (2) soal essei pendek; (3) membuat karangan essei; (4) portofolio; (5) tes lisan; dan lainnya. Karakteristik dan tujuan masing-masing jenis evaluasi dan test tersebut tentu berbeda, termasuk juga “keunggulan” dan “kekurangannya”.
Multiple choice tentu mudah diukur, standarnya jelas dan tentu satu standar untuk semua, namun jelas tidak banyak mengasah nalar kreativitas dan daya kritis. Essei pendek juga relatif sama karena jawaban dari soal yang diberikan harus ditulis secara “singkat dan jelas”. Membuat karangan essei tidak ada satu standar tunggal namun dapat lebih memberi ruang kreativitas dan analisis kritis dalam membuatnya. Dokumen portofolio banyak yang menyatakan mudah dimanipulasi, tapi di sisi lain ia memuat “catatan historis” perkembangan kemampuan tertentu. Sementara itu tes lisan lebih memberi ruang untuk beradu argumentasi hingga daya kritis terlatih lebih baik.
Bagi mahasiswa dalam perkuliahan ilmu-ilmu sosio-humaniora tentu soal-soal multiple choice amat sangat tidak dianjurkan, soal essei pendek juga demikian, yang harus dihadirkan adalah model penilaian yang dapat membangun nalar kritis, kreativitas, sensitivitas sosial dan sejenisnya. Di sinilah membuat karangan essei, diskusi kritis, dan sejenisnya adalah prioritas utama. Kalau tetap berkutat pada model tes dan evaluasi menggunakan soal-soal essei pendek, maka kemampuan ‘argumentasi’ dan ‘bahasa’ mahasiswa akan tetap stagnan, tidak berkembang.
Ironisnya hampir sebagian besar mahasiswa lebih suka diberi model evaluasi yang gampang dan mudah. Kita bisa memperkirakan hal itu disebabkan oleh orientasi untuk mendapat nilai yang bagus, dan argumentasi sejenis. Terlepas dari diskursus yang lebih mendalam soal budaya instan mahasiswa, tidak suka tantangan, “tidak suka berkembang”, lebih suka yang fun-fun saja, tujuan yang masih absurd, pegangan ideologis yang rapuh dan lainnya, di sisi lain evaluasi sejatinya bukanlah untuk memvonis seseorang itu cerdas atau bodoh, melainkan sebagai metode dalam melihat sejauh mana level perkembangan penguasaan dari pengetahuan, nilai-nilai, budaya dan ideologi yang telah dipelajari. Dari situ mahasiswa dapat bercermin lebih lanjut tentang kemampuan dirinya sendiri.
Dengan pemahaman tersebut, maka sejatinya evaluasi tetap perlu dilakukan, yang perlu dikaji dan kembangkan sekarang adalah soal formulasi dari evaluasi tersebut.
Di sini, dalam perkuliahan yang saya ampu—untuk mahasiswa semester 1 (satu) matakuliah Kawasan Teknologi Pendidikan (KTP) dan Sistem Pendidikan Nasional (SPN) pada program studi Teknologi Pendidikan (TP), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Semarang (Unnes)—saya berupaya untuk mengembangkan formula evaluasi yang lebih demokratis, otentik, kritis dan bermakna. Disebut:
- demokratis karena memberikan kebebasan pada mahasiswa untuk memilih jenis penilaian atau evaluasi yang akan mereka ambil atau kerjakan, termasuk bebas memilih tema, asalkan tidak keluar dari pengetahuan yang dipelajari di perkuliahan, juga terbuka kesempatan untuk beradu argumen dalam penilaian tersebut;
- otentik karena pemilihan jenis penilaian tersebut disesuaikan dengan potensi serta kemampuan utama mahasiswa, tiap mahasiswa berbeda potensinya dalam mengungkapkan gagasan, ada yang jago tulis, ada yang lisan dan lainnya, semuanya diakomodasi;
- kritis karena diajak untuk melihat realitas sosio-kultural secara kritis berkaitan dengan isu keadilan, kesetaraan, kemanusiaan, kerakyatan, diskriminasi, eksploitasi, neo-kolonialisme dan sejenisnya;
- bermakna karena diharapkan proses dan hasil penilaian tersebut betul-betul bermanfaat, berguna dalam mengembangkan kemampuan intelektual, sosial, emosional mahasiswa, termasuk juga bagi konteks riil masyarakat, jadi bukan evaluasi “tekstual” yang hasilnya tidak signifikan dalam membangun pengetahuan diri pribadi dan juga tidak berguna bagi konteks riil masyarakat. Di sinilah proses dan hasil evaluasi tersebut betul-betul bermakna bagi diri pribadi mahasiswa dan juga konteks sosial riil masyarakat. Semoga!
Berikut beberapa jenis evaluasi yang ditawarkan pada mahasiswa, selain itu silakan mahasiswa mengusulkan jenis evaluasi lainnya.
Pertama, membuat essei. Karangan essei berupaya untuk mengulas secara kritis topik bahasan tertentu tanpa disertai sistematika yang kaku seperti dalam membuat makalah dan paper ilmiah. Karangan essei ulasannya bersifat deskriptif (menjelaskan) secara kritis dengan memadukan antara gagasan-gagasan atau pandangan konseptual dan realitas yang terjadi. Selain itu ulasannya juga lebih fleksibel. Dilihat dari panjang karangan, maka essei lebih panjang ketimbang artikel untuk media massa, namun tata bahasanya lebih kurang sama, yakni bahasa populer yang menarik dan enak dibaca oleh pembaca awam/umum. Tidak menggunakan bahasa ilmiah akademik yang lebih ditujukan untuk lingkungan pembaca dari kalangan akademisi saja.
Pada perkuliahan Kawasan Teknologi Pendidikan, tema-tema yang dapat diangkat dalam membuat essei antara lain tentang: (1) problem praktik pembelajaran di kelas dengan menggunakan metode dan media tertentu; (2) problem dalam pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia; (3) ulasan kritis pergeseran paradigma pembelajaran dari mengendalikan (controling) menuju memfasilitasi (facilitating); (4) ulasan kritis dimensi etika (ethical practice) dan ketepatan (appropriate) dalam praktik pembelajaran di kelas, sekolah dan masyarakat. Tiga bagian utama karangan essei adalah: (1) pendahuluan; (2) ulasan inti; dan (3) simpulan. Contoh draft essei sebagai berikut.
- Judul: Facebook dalam Praktik Pembelajaran.
- Demam facebook di kalangan anak-anak muda. Menceritakan tentang demam facebook di kalangan anak-anak muda, termasuk usia sekolah dan mahasiswa. Diulas mengenai apa yang dilakukan melalui facebook tersebut, tujuan menggunakan facebook, budaya yang berkembang di kalangan anak muda berkaitan dengan hadirnya facebook.
- Karakteristik facebook. Mengulas karakteristik facebook yang berjejaring, sosial, saling terhubung, selain itu juga muncul kultur berbagi (sharing) informasi dan berkomunitas (coomunity), hal-hal yang bersifat privat bisa menjadi milik publik dan tersebar luas, dan lainnya.
- Masalah yang timbul di sekitar penggunaan facebook. Dalam banyak kasus, facebook justru menjadikan seseorang kecanduan menggunakannya hingga melupakan tugas utama bekerja—bagi karyawan—dan belajar—bagi siswa dan mahasiswa. Banyak pula kasus kejahatan dan tindak kekerasan terjadi dengan diperantarai oleh komunikasi via facebook.
- Potensi facebook sebagai media pembelajaran. Mengulas potensi facebook sebagai media pembelajaran dengan menggunakan metode tertentu, misalnya dengan diskusi online baik synchronous (saat itu juga) melalui chating dan asynchronous (tidak saat itu juga) melalui catatan (notes) dan status di facebook.
Pada perkuliahan matakuliah Sistem Pendidikan Nasional (SPN) juga sama, yang berbeda hanya tema yang diangkat dalam membuat karangan essei saja. Ketika karangan essei sudah selesai dan diserahkan pada dosen, kalau belum bagus betul maka akan mendapat saran dan koreksi, setelah itu mahasiswa kembali memperbaiki essei yang telah ia buat tersebut. Minimal 5 halaman A4 spasi 1 times new roman, sekitar 2.500 kata atau 17.000 karakter tanpa spasi. Silakan Klik di sini untuk mengunduh satu contoh essei pendidikan.
Kedua, membuat cerita pendek. Karangan cerita pendek (cerpen) merupakan jenis tulisan fiksi yang menceritakan tentang peristiwa tertentu. Sebagai sebuah cerita tentu gaya bahasanya adalah gaya bertutur yang mengalir (naratif), imajinatif, penuh nilai, sarat makna. Dengan demikian, karena membuat karangan essei di sini ditujukan untuk menyampaikan pesan pengetahuan, nilai-nilai dan ideologi tertentu, maka gaya (genre) cerita yang dibuat hendaklah yang bersifat realis, bukan yang abstrak, absurd dan terlalu filosofis. Hal tersebut dilakukan agar mudah dipahami oleh pembaca awam dan juga agar dapat dilihat secara jelas tema pendidikan yang diangkat.
Beberapa tema yang secara lebih spesifik dapat diangkat antara lain untuk matakuliah Sistem Pendidikan Nasional (SPN) adalah: (1) problem pendidikan yang menimpa rakyat kecil; (2) mahalnya biaya pendidikan; (3) cerita mengenai pendidikan alternatif dan non-formal dan lainnya. Sebenarnya banyak sekali cerpen yang mengandung nilai-nilai dan pengetahuan tentang pendidikan walaupun cerpen tersebut tidak secara langsung berkisah tentang pendidikan dan dapat diacu sebagai contoh cerpen yang baik. Minimal 2 halaman A4 spasi 1 times new roman, sekitar 1000 kata atau 7000 karakter tanpa spasi (Silakan Klik di sini untuk mengunduh contoh cerpen bertema pendidikan, Ikan Kaleng, Eko Triono, 15 Mei 2011).
Ketiga, membuat analisis buku. Analisis buku dibuat dengan terlebih dulu membaca tuntas minimal 3 (tiga) buah buku dan kemudian mengulasnya secara kritis. Formatnya hampir sama dengan membuat karya essei dan resensi buku, hanya saja kalau resensi hanya untuk satu buku, tapi kalau analisis buku di sini minimal tiga buku. Minimal 5 halaman A4 spasi 1 times new roman, sekitar 2.500 kata atau 17.000 karakter tanpa spasi.
Substansi yang diulas dalam analisis buku antara lain adalah: (1) isi buku tentang apa; (2) kelebihan dan kekurangan buku; (3) gaya penulisan dan bahasanya; (4) relevansi buku dengan kehidupan dan praktik sosial riil; (5) tentang penulis dan jejak intelektualnya.
Keempat, mendesain proses pembelajaran dengan metode dan media. Tugas ini berupa mendesain proses pembelajaran dengan menggunakan metode dan media tertentu. Logika dasar yang dapat digunakan dalam desain tersebut dapat dari ADDIE atau yang lainnya. Konteks proses pembelajarannya harus jelas, yakni: (1) untuk matapelajaran apa, kelas berapa, semester berapa; (2) kira-kira di sekolah daerah mana (kota, desa atau lainnya); dan (3) latar psiko-sosial siswa.
Kalau mengikuti logika dasar ADDIE, maka prosesnya dimulai dari:
- analysis (analisis tujuan pembelajaran, target pembelajaran (kognitif, afektif, psikomotorik, konatif), keunikan siswa, level intelektual siswa, konteks dan sumber belajar yang tersedia);
- design (menerjemahkan tujuan pembelajaran dalam unit-unit materi yang akan dipelajari [silabus], menentukan waktu pembelajaran sesuai dengan materi yang akan dipelajari, membagi proses pembelajaran dalam tahap-tahap tertentu, merumuskan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan, mendesain konsep evaluasi yang akan dilakukan;
- development (mengembangkan metode pembelajaran dan memproduksi media pembelajaran sesuai dengan hasil ‘analisis’ dan ‘desain’ sebelumnya serta melengkapinya dengan sarana pendukung tertentu), kalau metode dan media tersebut ditujukan untuk lingkup yang lebih luas, maka pada proses ‘development’ ini termasuk melakukan try out yang nantinya akan direvisi, diperbaiki dan diproduksi dalam jumlah dan lingkup yang lebih luas);
- implementation (mengimplementasikan dalam praksis pembelajaran); dan
- evaluation (mengevaluasi media, metode dan implementasinya).
Kalau menggunakan logika yang terbalik dari ADDIE dalam mendesain metode dan media, dan juga berkebalikan dari logika dasar ASSURE (Analyze learners, State objectives, Select media and materials, Utilize media and materials, Require learner participation dan Evaluate and revise) dalam menentukan/memilih dan menggunakan media yang sudah ada (by utilization), yakni yang dimulai dari media yang sudah ada, maka dapat dimulai dengan:
1) Membawa media. Membawa sebuah media, bisa berupa (a) berita di koran; (b) cerita pendek; (c) novel; (d) klip lagu; (e) film; (f) gambar dan/atau foto; (g) puisi/sajak dan lainnya.
2) Menganalisis dan menentukan. Dianalisis media tersebut tepat digunakan untuk praktik pembelajaran apa, caranya adalah dengan melihat (a) nilai-nilai; (b) budaya; (c) pengetahuan yang secara eksplisit dan implisit terkandung dalam media tersebut. Setelah diketahui kandungan nilai-nilai, budaya dan pengetahuannya, kemudian dikontekstualisasikan dengan kurikulum yang dibelajarkan di sekolah-sekolah, sehingga akan dapat diketahui media tersebut tepat untuk siswa kelas berapa, matapelajaran apa dan seterusnya.
3) Merumuskan konsep dan praksis pembelajarannya. Di sini dirumuskan konsep dan rencana praksis pembelajaran nya, yakni mulai dari (misal contohnya adalah media klip lagu sebagai berikut):
- Membawa klip lagu ke dalam kelas, kemudian memutarnya. Setelah itu siswa diminta untuk bersama-sama menyanyikan lagu terebut, dan memberi kesempatan pada siswa yang paling bagus suaranya atau kemampuannya menyanyi untuk menyanyikan lagu tersebut di depan kelas.
- Guru bertanya pada siswa: bagaimana pendapatmu tentang lagu tersebut? Bagus tidak lagu tersebut? Bagian mana yang paling berkesan menurutmu? Apa alasannya?
- Guru mengajak siswa untuk memahami teks dan konteks lagu tersebut dengan bertanya: Apa pesan dari lagu tersebut menurutmu? Kemudian dianalisis syair lagunya, siapa penciptanya, penyanyinya, dan menafsirkan kira-kira maksud dan tujuannya apa? Siswa diajak untuk memahami apakah kondisi sekarang masih mencerminkan seperti yang terdapat dalam lagu tersebut? Apa alasannya? Lalu apa yang dapat dan harus dilakukan?
- Guru meminta siswa menceritakan pengalaman personalnya berkaitan dengan nilai-nilai dan pengetahuan yang disampaikan lewat lagu tersebut? Lalu refleksi apa kira-kira yang dapat dilakukan.
- Guru memberi tugas bagi siswa untuk mencari lagu serupa yang memuat nilai-nilai tertentu tadi, kemudian lagu tersebut dianalisis singkat dalam bentuk essei pendek dan dinyanyikan di depan kelas. Tugas dilaksanakan secara berkelompok.
4) Mengimplementasikannya. Implementasi di kelas.
5) Mengevaluasinya. Evaluasi mengenai ketepatan media tersebut digunakan dalam pembelajaran dilihat dari ketertarikan siswa, keterlibatan dan partisipasi ssiwa dalam praktik pembelajaran, juga dilihat dari keberanian mengungkapkan pendapat dan analisis terhadap lagu yang ditugaskan pada mereka dalam bentuk essei pendek.
Kelima, membuat lagu. Dalam membuat lagu silakan untuk menciptakan lirik dan syair tentang pendidikan yang bagus dan enak untuk dinikmati bersama. Pilihan membuat lagu ini hanya untuk matakuliah Sistem Pendidikan Nasional (SPN), sedangkan untuk Kawasan Teknologi Pendidikan tidak, karena memang relatif agak susah untuk berkreasi lagu dengan tema tentang TP. Lebih lanjut tema-tema yang bisa diangkat dalam mengarang sebuah lagu dapat mengambil tema sebagaimana pada karangan essei dan cerpen, sedangkan contoh-contoh lagu yang bertemakan pendidikan dapat disimak pada lagu-lagunya Iwan Fals misalnya. Karena tema yang diambil adalah pendidikan, maka selayaknya yang diangkat adalah tentang permasalahan pendidikan yang terjadi di masyarakat. Durasi lagu lebih kurang 5 (lima) menit.
Penilaiannya dilakukan dalam bentuk perkembangan yang berkelanjutan. Jadi mahasiswa yang memilih untuk mencipta lagu akan menyanyikan lagu ciptaannya di depan kelas, tentu dengan diiringi oleh musik yang ia bawakan sendiri. Kemudian semua mahasiswa memberikan apresiasi dan penilaian serta saran-saran lebih lanjut.
Keenam, evaluasi lisan (verbal). Mahasiswa silakan mendaftar bagi yang ingin ujian lisan. Pada tanggal yang telah ditentukan oleh panitian UAS nanti akan dipanggil secara bergiliran tiga-tiga ke dalam ruangan. Kemudian seorang mahasiswa mempresentasikan sebuah materi sesuai dengan yang telah dipelajari selama kuliah kira-kira 5 (lima) menit, kemudian dosen akan memberi pertanyaan berdasarkan pada apa yang telah disampaikan tadi. Begitu juga dengan mahasiswa lain selanjutnya. Penilaiannya dinegosiasikan antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa ditanya: kira-kira dengan kemampuan menjawab pertanyaan dan kualitas presentasi tersebut ia layak diberi nilai berapa? Dosen dengan pertimbangan kualitas jawaban dan presentasi juga memberikan nilai tersendiri. Kalau mahasiswa merasa berhak mendapat nilai lebih, maka ia harus berargumen apa alasannya, kalau merasa jawabannya tepat maka ia harus berargumen lebih lanjut, kalau alasan tidak tepat, maka ia tidak berhak mendapat nilai lebih.
Ketujuh, beberapa mahasiswa usul membuat poster, komik, dan lainnya. Silakan membuat lagu, poster, komik dan sejenisnya. Bentuk komik atau poster lebih ditekankan pada substansi nilai-nilai dan pengetahuan yang dikandung di dalamnya, juga kemenarikan visualnya. Sebagai sebuah penugasan akhir perkuliahan, maka hasil jadi dalam bentuk poster tersebut dibawa ke kelas kemudian dipresentasikan secara singkat, mahasiswa yang lain lain menanggapi dan kemudian mengapresiasinya dengan memberikan nilai yang layak dan tepat. Kalau mahasiswa yang membuat poster atau komik terlalu banyak, maka proses penilaian dilakukan dengan berhadap-hadapan langsung dengan dosen, termasuk presentasi singkat, pertanyaan, dan “negosiasi” penilaian.
Panduan penulisan essei.
Berikut panduan penulisan ilmiah yang digunakan dalam perkuliahan yang saya ampu. Di sini karena penugasannya hanya berupa essei yang berkaitan dengan keterampilan menulis ilmiah, maka panduan ini hanya secara ringkas saja tentang dasar-dasar menulis.
1. Ketika menulis pendapat atau informasi yang berasal dari sumber tertentu (mengutip) maka harus ditulis secara jelas sumbernya tersebut.
a) Kutipan langsung, misal: Yusufhadi Miarso (2007: 34) menyatakan, “Penelitian dalam bidang teknologi pendidikan sudah seharusnya banyak menggunakan paradigma dan pendekatan kualitatif ketimbang kuantitatif”.
b) Kutipan tidak langsung, misal: Penelitian dalam bidang teknologi pendidikan sudah seharusnya banyak menggunakan paradigma dan pendekatan kualitatif ketimbang kuantitatif (Yusufhadi Miarso, 2007: 34).
c) Kutipan dari buku atau jurnal yang ditulis oleh dua orang, misal dalam kutipan langsung: Menanggapi masalah tersebut, Darmaningtyas dan Edi Subkhan (2009: 134) menyatakan, “konsep dan pelaksanaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) tidak adil dan tidak pro-rakyat”.
d) Kutipan dari buku atau jurnal yang ditulis oleh dua orang, misal dalam kutipan tidak langsung: Konsep dan pelaksanaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) tidak adil dan tidak pro-rakyat (Darmaningtyas dan Edi Subkhan, 2009: 134).
e) Kutipan dari buku atau jurnal yang ditulis oleh tiga orang atau lebih, misal dalam kutipan tidak langsung: Pendidikan di Amerika menurut Joe Kinchelo et al. (2009) sampai sekarang tidak hanya masih diskriminatif terhadap kulit berwarna, tetapi juga terhadap pemeluk agama Islam yang mendapat stigma negatif akibat aksi 9/11.
f) Kutipan dari buku atau jurnal yang ditulis oleh tiga orang atau lebih, misal dalam kutipan langsung: “Pendidikan di Amerika sampai sekarang tidak hanya masih diskriminatif terhadap kulit berwarna, tetapi juga terhadap pemeluk agama Islam yang mendapat stigma negatif akibat aksi 9/11” (Joe Kincheloe et al. 2009).
g) Kutipan berita dari koran cukup ditulis nama koran lengkap dengan tanggal, bulan dan tahun terbitnya, nama koran dicetak miring, misal: Sejak reformasi bergulir, kesadaran terhadap sejarah dan budaya yang melandasari keberadaan bangsa ini kian meluntur. Lebih-lebih di kalangan pelajar dna anak muda pada umumnya (Kompas, 14/12/2011).
h) Kutipan dari internet dalam paragraf ditulis alamat website dan tahun diunggahnya informasi yang dikutip tersebut, misal: Berkat kerja keras yang telah dirintis oleh Universitas Terbuka (UT) akhirnya meraih 21 sertifikat ISO 9001:2000 (http://www.tempointeraktif.com/, 2008).
2. Daftar pustaka ditulis lengkap dari nama penulis, tahun, judul, kota terbit dan penerbit.
a) Dari buku, contoh: Miarso, Yusufhadi. (2007). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
b) Dari buku dengan penulis dua orang, contoh: Loveless, Avril & Viv Ellis (eds.). (2000). ICT, Pedagogy and the Curriculum: Subject to Change. London & New York: RoutledgeFalmer.
c) Dari buku dengan penulis tiga orang atau lebih, contoh: Darmaningtyas, et al. (2009). Tirani Kapital dalam Pendidikan: Menolak Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan. Jakarta: Yashiba.
d) Dari jurnal dengan penulis hanya satu orang, contoh: Apple, Michael. “Creating Difference: Neo-Liberalism, Neo-Concervatism and the Politics of Educational Reform” Educational Policy, Vol. 18, No. 1, January-March, 2004, pp. 12-44.
e) Dari artikel di koran, contoh: Joesoef, Daoed. (2011). “Pendidikan di Zaman Edan” Kompas. Jakarta: 18 Agustus.
f) Dari berita di koran, contoh: Kompas. (2011). “Kesadaran Sejarah dan Budaya Meluntur” Kompas. Jakarta: 14 Desember.
g) Tempo Interaktif. (2008). “Universitas Terbuka Raih 21 ISO 9001:2000” diunduh pada 17 Januari 2011 dari (http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/09/26/brk,20080926-137606,id.html).
Selain untuk pemahaman yang mendalam terhadap pengetahuan dan nilai-nilai yang dibelajarkan dalam perkuliahan, tujuan lain yang dituju adalah terasahnya kemampuan berbahasa, berpikir kritis, analitis, logis, sistematis, juga terasah nalar apresiasi seni dan budaya mereka, dan seterusnya.
Dari beberapa jenis tugas tersebut orientasi dan tujuannya dapat diidentifikasi sebagai berikut; (1) pilihan tugas karangan essei adalah untuk mewadahi mahasiswa yang ingin memperdalam dan mempertajam analisis dan pemahaman teorinya melalui tulisan populer; (2) pilihan tugas desain metode dan media dalam matakuliah Kawasan Teknologi Pendidikan untuk mewadahi mahasiswa yang memang cenderung ingin melihat hasil praktis dari pengetahuan teoretik yang telah ia pelajari di kelas; (3) pilihan tugas membuat cerita fiksi untuk mewadahi kreasi mahasiswa yang kuat imajinasinya dan juga membelajarkan tentang kemampuan berbahasa, yakni dalam olah bahasa tulis yang menarik; (4) pilihan tugas membuat analisis buku juga untuk mewadahi mahasiswa yang ingin memperkuat analisis dan daya baca terhadap bacaan ilmiah akademik dengan sekaligus meningkatkan kemampuan menulis kiritis; (5) pilihan tugas membuat lagu untuk mengakomodasi mahasiswa yang memang kuat daya imajinasi dan estetika melalui musik (musical) dan juga berkeinginan untuk mengasah ranah imajinasi dan estetika musikal mereka; (6) pilihan tugas ujian lisan ditujukan untuk mewadahi mahasiswa yang kuat kemampuan berbahasa verbalnya (lisan); dan (7) pilihan tugas membuat poster dan komik untuk mewadahi mahasiswa yang kuat imajinasi kreatifnya dalam seni visual, khusus dalam komik tentu ditambah dengan imajinasi mengarang cerita yang menarik.
Ini adalah bentuk eksperimen awal dalam melakukan evaluasi dan penilaian di kelas agar menjadikan praktik pembelajaran dan pendidikan bermakna, berguna, bermanfaat, tidak sekadar formalitas mengikuti perkuliahan yang ditujukan untuk mendapat selembar ijazah saja. Dengan mahasiswa keseluruhan berjumlah 100 orang lebih, satu kelas 50-an mahasiswa (kelas besar) mari kita lihat bagaimana hasilnya.
Edi Subkhan, …..



edi subkhan
Desember 14, 2011
Terima kasih untuk guru dan kawan2 di Sekolah Tanpa Batas (STB) atas inspirasinya….
jimmy ph paat
Desember 16, 2011
Ed, buat saya ini “model” evaluasi yang menarik. Saya juga mencoba mengajak mahasiswi-a semestr III yang mengikuti mata kuliah yang saya ampu (Linguistik) untuk “membuat evaluasi bersama”. Hampir sebanyak 3 kali pertemuan di awal perkuliahan kita membahas “penilaian” untuk mahasiswi-a peserta kuliah Linguistik II. Minta ampun hampir satu bulan saya tidak memperoleh apa-apa. Singkatnya saya menemukan kesulitan untuk mengajak mahasiswi-a untuk menentukan ‘model” penilaian bagi “diri” mereka. Meskipun saya sudah mengatakan : “Anda yang belajar maka andalah yang paling berhak menentukan jenis penilaiannya”. Karena (harus) ada paparan makalah yang dinilai, dan paparan tersebut saya buat seperti ujian. Artinya untuk memperoleh angka pada mata kuliah Linguistik II mereka harus memaparkan makalah. Untuk itu saya mengatakan kepada para mahasiswi-a peserta kuliah Linguistik II yang saya ampu: JKA anda tidak membuat model peneilian sendiri maka saya yang akan membuat, dan anda tahu sendiri saya akan membuat kriteria “maunya” saya dan bukan maunya anda”. Tampaknya “ditakut-takuti” semacam ini mereka berembug untuk bertemu dengan saya untuk membuat penilaian bersama Jumat depan ( 23 Desember).
ooo iya saya katakan juga kepada mereka :”penilaian terhadap mahasiswi-a tidak bisa hanya ditentukan dosen, tetapi bersama mahasiswi-a. Kita harus berbagi “otoritas” penilaian”.
Ed memang tidak mudah mengajak mahasiswi-a untuk bersama pengajarnya menentukan “model” penilaian. Tapi TIDAK BERARTI TIDAK BISA KITA AJAK ke arah itu. KITA HARUS TERUS MENCOBA.
Ed, seadnainya eksperimennya belum “berhasil”, jangan berhenti bereksperimen. Selamat sudah mencoba bentuk evaluasi yang menarik, dan terimakasih juga sudah mengabarkan kepada saya.
Bravo !
Salam,
jp
edi subkhan
Desember 16, 2011
Iya Pak, salah satu inspirasinya saya membuat model penilaian “demokratis” ini juga dari Pak Jimmy tentang “mengajak mahasiswa menilai bersama” kemampuan mereka dalam menguasai materi pembelajaran.
Harapannya sebenarnya adalah dosen dan mahasiswa bisa menentukan materi atau pengetahuan yang akan dipelajari bersama, tentu dengan tetap mengacu pada matakuliah yang dipelajari, tapi itu luar biasa sulitnya. Salah satunya ketika saya sampaikan materi apa yang akan dipelajari selama satu semester dan saya bilang jelas pada mahasiswa bahwa mereka harus mempelajari itu sendiri (karena buku referensi sudah saya kasih dan memberi kesempatan luas untuk mencari sendiri dari perpustakaan atau internet). Pada pertemuan kuliah kemudian langsung saya kasih pertanyaan ke mahasiswa untuk menjelaskan apa yang mereka ketahui dari materi tersebut, ternyata gak ada yang berpendapat, semua diam. Termasuk ketika saya kasih pertanyaan berbentuk pilihan, tidak ada yang berani memilih A atau B, semua abstain hehe…
Kalau model begitu saja sulit, apalagi kalau meminta mahasiswa merumuskan materi yang akan dipelajari sama2 dengan dosen, tentu lebih sulit lagi, padahal yang sekarang daftar materi yang akan dipelajari jelas sudah diberikan, jadi untuk sekadar membaca referensi yang sudah diberikan saja gak mau.
Dari pengamatan sementara mahasiswa semester 1 sebagian besar memang belum dapat menerima dan enjoy praktik pembelajaran yang “mengharuskan” mereka mencari informasi dan pengetahuan sendiri, memahami sendiri, mereka lebih nyaman dengan praktik pembelajaran yang memberi mereka pengetahuan praktis tanpa harus ada usaha mereka untuk mencari lebih dulu. Padahal cara membangun pengetahuan paling baik adalah dengan mengajak mahasiswa membangun pengetahuan mereka sendiri melalui mencari dan memahami sendiri, di sini posisi dosen adalah sebagai pelontar masalah dalam bentuk pertanyaan di depan kelas atau akting membuat problem di kelas misalnya.
Dengan lontaran pertanyaan diharapkan mahasiswa mencari jawabannya, di situlah ia membangun pengetahuannya. Posisi dosen dengan lontaran pertanyaan adalah untuk mengarahkan agar mahasiswa dapat membangun pengetahuan mereka sendiri melalui menjawab pertanyaan tadi.
Kalau jawaban tersebut tidak tepat atau berbeda dari pengetahuan dosen, tidak masalah, karena pendapat boleh berbeda, dengan demikian terdapat pendapat mahasiswa dan dosen. Dengan kembali ke realitas dan teks (teori, konsep) diskusi akan menarik ke arah kebenaran dalam memahami subjek pengetahuan yang dipelajari melalui lontaran pertanyaan dosen. Namun hal ini bisa gagal total kalau mahasiswa tidak mau mencari, maunya hanya menerima ikan, bukan kail. Tampaknya sebagian besar mahasiswa kita memang lebih suka dikasih ikan dan makanan (baca: pengetahuan) siap saji dan yang empuk2 untuk mudah dikunyah, mereka tidak suka “menanam” dan “memanen” pengetahuan mereka sendiri kemudian “memasaknya” dan “menyajikannya” lalu “memakannya”.
Saya pikir sudah saat kita membangun tradisi untuk “memproduksi” pengetahuan, bukan “mengkonsumsi” pengetahuan jadi dari Barat sana atau dari para teoritisi dan profesor, toh mereka dapat membangun pengetahuan itu juga dari konteks dan realitas yang jelas. Jadi, dengan cara yang sama sebenarnya tiap diri kita (dosen dan mahasiswa) bisa membangun/memproduksi pengetahuan sendiri. Kalau hal ini tidak dibiasakan atau minimal dikenalkan pada mahasiswa kita, ya jangan harap akan muncul generasi pembaharu, generasi penemu, generasi pioner transformasi sosial dll. Yang ada hanya generasi konsumer, konsumtivisme, hedonisme, dll. Yang muncul hanya guru “tukang ngajar”, bukan guru intelektual transformatif, bukan guru kritis dan kreatif dalam mengkreasi metode dan media pembelajaran.
Namun agaknya dari eksperimen yang saya lakukan di kelas, yakni mulai dari akting membiarkan kelas terbengkelai, akting diam tidak memberi materi yang jelas, yang ternyata tidak ada mahasiswa yang menggugat hal itu kecuali hanya satu dua di luar kelas (dan saya apresiasi dan suka dengan itu), sampai membawakan media berupa potongan2 film, agaknya memang kita mesti membawa mahasiswa ke sesuatu yang mereka senangi dulu. Tidak bisa mahasiswa langsung dibawa untuk diskusi hal-hal yang kritis, terlebih ketika mereka tidak tahu apa tujuan mereka belajar, kuliah dst.
Jadi, “teori” yang bisa dibangun dari pengalaman saya agaknya adalah: bagi mahasiswa pemula, tahap awal harus disentuh dengan sesuatu yang mereka senangi dulu, buat suasana nyaman, aman, menyenangkan, baru kemudian diarahkan pada konteks sosial riil dan diskusi kritis.
Hal-hal yang membuat mahasiswa zaman sekarang tertarik tiada lain adalah pop culture, ya film, musik, dunia hiburan, para selebritis, dll. Bagi pemula seperti saya tentu tidak bisa berbicara di depan kelas dengan cukup “memukau”, atau belum bisa membuat kelas “menyimak” tanpa mereka terpaksa “menyimak” karena saya mondar-mandir dari depan ke belakang, dari kanan ke kiri hehe… Di sini agaknya media berguna, tentu harus disertai metode penggunaan media tersebut, entah film, gambar, potongan film, lagu dst. Pekerjaan rumah lain tentunya adalah mengkreasi metode-metode “baru”, dan memang betul bahwa: jangan menyerah bereksperimen metode dan media pembelajaran…
Dengan model penilaian “demokratis” ini terlepas dari apakah mahasiswa hanya sekadar memburu nilai, minimal mereka diberi kebebasan untuk memilih dinilai dengan pilihan mereka sendiri, sesuai dengan potensi terbaik mereka dalam mengungkapkan pengetahuan dan kemampuan mereka, baik tulisan, lisan, musikal, visual dll. Minimal juga dengan begitu mereka dapat meningkatkan kemampuan bahasa (lisan dan tulisan), juga kesadaran dan kemampuan seni dan budayanya. Semoga mereka mulai paham bahwa orang-orang hebat bukanlah orang yang suka disuapi pengetahuan. Level disuapi itu adalah level bayi. Kalau ingin mandiri dan berdikari berdaulat dalam pengetahuan dan kebudayaan, maka harus belajar untuk mulai “menanam” pengetahuan, merawatnya, dan “memanen” pengetahuan mereka sendiri, kemudian “memasaknya” dengan bumbu dan rempah terbaik dengan beragam menu, lalu “menyajikannya” secara tepat dan menarik….
Ki Hajar Dewantara
Desember 21, 2011
saya sangat bangga dan terharu dengan adanja anak-anak muda jang sangat memperhatikan dunia pendidikan, dimana pada hari dewasa ini, pendidikan nasional selalu berorientasi pada hasil bukan pada proses, tetapi ketika saja membaca tulisan ini saja merasa bahwa akan muntjul suatu binih-binih perubahan dan tumbuhnya suatu kesadaran bagi para pendidik kritis.
terima kasih, anak muda
semoga Tuhan Jang Maha Esa memberi jalan
Amin.
Mayor sus Anang Hadi Sunarto, M.Pd.
Januari 11, 2012
Model spt ini jg aku coba dg menerapkn di mk yg aku ampu (pengantar riset) di sekolah lanjutan perwira TNI AU…. mmg yg tidak siap kocar-kacir karena ini perubahan mendasar aku lakukan untuk melakukan evaluasi… tp nilai positif trhadap lulusan yg coba aku data…. ternyata lebih mengena baik itu yg gak siap maupun yg siap dg model spt ini…. artinya koteks proses pendidikan yg akan memberikan pembelajaran pd siswa lbh tepat sasaran dg model ini…. Lanjutkan Om Edi…
Salam,
Anhas