
Masih ingatkah kasus anak muda yang hampir mati bunuh diri di Oxford Inggris, karena informasi dari temannya di Maryland Amerika via jaringan facebook akhirnya ia tertolong. Beberapa waktu lalu, sebuah account facebook “Say No to Megawati” mampu memobilisasi politik para penentang Megawati hingga sempat heboh di beberapa media massa, bahkan setelah account tersebut ditutup, dalam waktu tidak begitu lama muncul lagi. Awal Februari kemarin, selama seminggu penuh digelar perhelatan dalam mengenang Pramoedya di Blora oleh sekelompok anak-anak muda yang mulanya bertemu dalam jejaring pertemanan facebook.
Mungkin banyak orang akan menganggap jejaring pertemanan semacam friendster, facebook, dan twitter sekadar tempat untuk mengisi waktu senggang, iseng-iseng, paling banter adalah media mencari teman baru, syukur-syukur berjodoh. Namun agaknya kita mesti berpikir ulang dengan melihat fenomena yang ada, bahwa facebook misalnya, memiliki potensi sebagai sebuah gerakan sosial, yang tentu jelas berbeda dari bentuk gerakan sosial baru (new social movement) yang ada selama ini. Lebih dari itu, bahkan mau tidak mau kita memang mesti menggali lebih dalam semua potensi dunia maya, termasuk jejaring pertemanan semacam facebook ini, sebagai upaya untuk menjajagi kemungkinan formulasi baru gerakan sosial di tengah “kebuntuan” gerakan sosial baru pada rutinitasnya selama ini.
Hal ini karena, mesti diakui bahwa internet dengan dunia maya yang dibentuknya telah menjadi satu sisi kehidupan sosial dari warga masyarakat dunia sekarang ini. Dunia maya (cyberworld) yang terbentuk tersebut kemudian melahirkan komunitas-komunitas kecil yang analog dengan negara atau komunitas pada dunia sosial riil, yang di dalamnya terdapat warga negara (baca: warga komunitas), namun dengan aturan hukum, norma, nilai budaya, dan interaksi sosial yang berbeda. Di sinilah timbul berbagai bentuk penyakit sosial baru yang dalam banyak hal direplikasi pada dunia sosial riil, yang dengan demikian semakin menambah penyakit sosial (baca: kejahatan, teror, diskriminasi, dan lainnya) di dunia sosial riil. Bahkan dunia maya pun menjadi media bertumbuhnya kejahatan, ketidakadilan, diskriminasi.
Gerakan sosial baru yang lahir pada periode sebelum munculnya dunia maya ini, tentu belum banyak memiliki formulasi yang memadai dalam bentuk perjuangan pembelaan dan perlawanan menghadapi itu semua. Sementara itu laju perkembangan bentuk-bentuk budaya virtual dunia maya, serta penyakit sosial yang menyertainya tak dapat dibendung lagi, karena semua orang semakin memiliki akses terhadap internet dan menjadi bagian dari warga dunia yang tenggelam di dalamnya. Semuanya seakan lahir kembali dalam kehidupan kedua (ingat second life, nama sebuah permainan simulasi di internet) dunia maya, dengan identitas yang bisa dibuat seenaknya, dengan kemudahan, budaya kecepatan, keasyikan, sebagai sesuatu yang baru kemudian menjadikan warga dunia maya merasa asyik, menikmati, kecanduan, dan mengganggap dunia maya lebih menarik dari dunia sosial riil. Fenomena psiko-sosial ini begitu kental terdapat dalam jejaring pertemanan semacam facebook.
Memang, sebelumnya dengan fasilitas memiliki account email saja, seseorang telah menjadi warga dunia maya. Mereka kemudian dapat saling berkomunikasi dengan sesama warga dunia maya, bertransaksi. Terbentuknya forum-forum diskusi seperti milist yang difasilitasi yahoo misalnya, telah juga turut melahirkan sebuah bentuk baru komunitas dengan cara berdiskusi, berdialog, berbagi informasi yang berbeda dari komunitas diskusi konvensional.
Pola komunikasi dalam komunitas tersebut lebih merupakan bentuk eklektik dari pola komunikasi lisan dan tulisan komunitas diskusi konvensional. Terciptalah sebuah formula bahasa lisan yang ditulis, yang tidak menekankan formalitas, namun tetap menampung argumentasi intelektual yang bernas dan ilmiah. Dengan kecenderungan budaya dunia maya yang cair, maka tulisan yang “membatasi” bentuk komunikasi dalam forum-forum milist itu pun menjadi cair. Bahkan lambat laun pengertian “ilmiah” dan “tidak ilmiah” yang menyandarkan pada bentuk baku tulisan dan referensi sebagai penghargaan intelektual pun memudar.
Agaknya kecenderungan budaya komunikasi dan interaksi dalam dunia maya memang lebih bertujuan pada pragmatisme, kesenangan, keasyikan, kecairan, pemahaman, ketidakterikatan, keakraban, bahkan pada permukaan; bukan kedalaman, bukan filosofis, ideologis, ataupun politis, melainkan pragmatisme. Walaupun filosofi, ideologi dan proses politik dapat berjalin kelindan dan merasuk dalam komunitas atau institusi sosial dunia maya, namun akan terkendala oleh arus deras cairnya budaya dunia maya yang minim keterikatan sosial.
Melihat “realitas sosial” tersebut, lalu apa yang bias diharapkan dari jejaring pertemanan dan forum-forum diskusi dunia maya dalam gerakan sosial baru? Agaknya potensi dari jejaring pertemanan dan forum-forum diskusi dunia maya adalah sebentuk varian baru dari gerakan sosial baru. Bahkan ia dapat disebut sebagai post-gerakan sosial ketika mendasarkan pada realitas virtual dunia maya yang cenderung “asosial”, atau setidaknya ia tidak seperti gerakan sosial baru yang ada selama ini. Ia dapat disebut sebagai gerakan sosial virtual yang dilawankan dengan gerakan politik virtual sebagai metamorfosis dari gerakan politik praktis. Sebagai varian baru dari gerakan sosial baru, maka gerakan sosial virtual ini melawan ketidakadilan, diskriminasi, dan neoliberalisme dengan media dan cara baru yang disediakan oleh dunia maya. Jejaring pertemanan dan forum-forum diskusi adalah beberapa di antara bentuk gerakan sosial virtual tersebut. Ia melawan apa yang dilawan oleh gerakan sosial baru baik di dunia maya maupun di dunia sosial riil.
Gerakan sosial virtual dengan demikian mesti “mereplikasi” diri dalam dunia sosial riil. Jejaring pertemanan dan forum-forum di dunia maya menjadi sarana perang wacana dan mobilisasi dari gerakan sosial baru di dunia sosial riil. Dan selanjutnya adalah “replikasi” atau bertransformasi dalam gerakan sosial riil. Terlepas dari kekurangan fantasmagoria budaya virtual terhadap gerakan sosial virtual, maka mestinya di sisi lain ia dapat memanfaatkan potensi replikasi, kecepatan, bentuk jejaring, dan fluidity dari budaya virtual. Satu syarat yang mesti dipegang dalam hal ini adalah tetap berada dalam kesadaran kritis antara dunia maya dan dunia sosial riil, hal ini adalah satu cara mengatasi split personality dan/atau multiidentitas dalam dunia maya dan dunia sosial riil.
Edi Subkhan, penulis…
Oktober 12, 2009 pukul 8:28 am
duch lucu nha,,,,,,ank kcil ja dah bsa bca kran palg dah gde dah bsa bca pkran orng kli y?????he,,,he,,,,,,,,
Oktober 27, 2009 pukul 1:51 pm
Saya menganggap terjadi kesalahan pemahaman, bahwa aktivitas lewat dunia digital itu dianggap sebagai tidak real. Padahal perlu diingat bahwa internet dan lain sebagainya (tv, koran, dan radio) hanyalah sebagai alat transmisi. Dengan adanya alat transmisi itu, ada tidak ada ruang privat,karena miliki individu sudah dibagikan bersama (shared togethers).
Saya kira, tidak ada reflikasi antara apa yang terjadi di ruang maya dengan non-maya (kenyataan bahasa face to face), karena keduanya seringkali saling pengaruh mempengaruhi.