Hari ini, 26 Maret ’08, satu tahun yang lalu, sebuah janji terucap
Satu bulan kemudian janji teringkari karena situasi
Tapi satu kisah itu tetap berlanjut
Sampai satu kehidupan selesai dan terlampaui
Bicara soal cinta, saya bukanlah orang yang piawai memainkannya, termasuk menuliskannya, saya orang yang gagal dalam sebuah kisah percintaan, jika standarnya adalah dapat memiliki orang yang saya cintai sepenuh hati. Tapi hidup adalah hidup, dan semuanya harus tetap berjalan walau seakan mati rasa. Ada yang mengatakan mata tak pernah bohong, hati tak pernah dusta, hanya pengingkaran yang menjadikannya bohong dan dusta, yakni pengingkaran atas nurani, bagian hati yang terdalam.
Saya dapat melihat mata itu masih mengharapkan cinta, hati itu masih memancarkan cinta, jauh di relung hati itu masih menyala lilin kecil keinginan akan cinta sejati, namun sebagaimana pepatah bahwa ketika seorang laki-laki sangat mencintai seorang wanita, maka ia takkan berani tuk menyakitinya. Maka ketika ia mengatakan “tidak”, ya…saya takkan berani memaksa yang artinya menyakitinya. Ia tidak salah, saya paham sepenuhnya situasilah yang menjadikan ia berkata “tidak”, walaupun begitu saya tidak akan merasa lebih tahu akan hal itu dibandingkan ia sendiri.
Di sinilah saya belajar tentang keikhlasan untuk melepas sesuatu yang begitu kita inginkan, begitu kita cintai, sayangi, kagumi. Memang tidak semua yang kita inginkan akan dapat kita miliki, namun saya cukup mengutip sahabat saya yang seorang aktivis jender, “Jika dua insan saling mencinta, mestinya dapat bersatu, berpadu, alangkah naif jika tidak harus memiliki…”.
Saya katakan kepada sahabat saya itu, lebih tepatnya mbak saya, karena ia telah berkeluarga, punya suami, dan satu anak 15 bulan. “Tidakkah kita mestinya membuang ego untuk memiliki sesuatu yang begitu teramat sangat kita cintai, mungkin sakit, teramat sakit, karena mungkin kita tidak pantas mendapatkannya, mungkin kita terlalu jelek tuk mendapatkannya, mungkin jika kita memilikinya justru kita akan merusaknya, tapi di sinilah hati kita diuji, cinta kita diuji oleh Sang Maha Penguji, mungkin hanya keikhlasanlah jawaban atas itu semua”.
Saya merasa kalau memang saya mencintainya, maka ketika ia berkata “tidak”, dan memilih jalan pahit itu,……….. saya benar-benar buntu dan tak dapat menjawabnya… Yang jelas, seseorang ketika benar-benar mencitai seseorang, maka harus belajar untuk ikhlas melepasnya untuk kebaikannya, karena mungkin saja kita tidak lebih baik dari pilihannya. Mestinya kita menyadari bahwa mungkin saja kita memang rendah, tak layak dicintai, apalagi mencintai; jika memang dinilai seperti itu, maka mencintai menjadi menyakiti, dan ini tidak boleh terjadi.
Saya memang belajar ikhlas dalam hal ini, tetapi juga belajar untuk siap menerima segala kemungkinan, segala ketidakterdugaan dari Yang Maha Kuasa atas saya, mungkin ia akan kembali menoleh pada saya dengan senyum yang sampai sekarang tak mungkin bisa terhapus dari ingatan, karena ia telah terkunci di hati dan akal ini. Namun bisa juga ia tetap melenggang dengan pilihan hidupnya, semua terserah dia, semuanya tergantung kepada Dzat yang memberikan perasaan di hati ini, yang menjalankan hidup dan kehidupanku, yang memerintahkan udara untuk sudi kuhirup, darah untuk sudi mengalir, dan jantung untuk tetap berdetak ini.
Karena saya tak pernah merasa merencanakan pertemuan saya dengan dia, tiba-tiba ia ada di samping jok bus yang saya tumpangi, dan terjadilah perbincangan itu, mengalirlah getaran-getaran itu. Maka sekarang saya pun tak berpretensi untuk mencari, jika memang takdir membawaku menemui cinta, maka ia pasti akan menemukanku di sini, aku bukan yang merancang, mencari, merekayasa cinta, semuanya atas kehendak-Nya saja.
Jika pun kehendak-Nya dapat menyatukan saya dengan entah siapa, si dia atau yang lain, ya itulah takdir. Saya tak akan pernah merasa lelah mendengar omelannya, keluhannya, kemarahannya, karena semuanya sudah terlampaui oleh adanya cinta, ya cukup cinta, tak ada yang lain.
Hidup terus bejalan, waktu terus bergulir, melindas hari-hari kita. Satu hari dengan hari lain tiada beda, walaupun sekadar nama, sampai kita bertemu di mana kita tak ingin hari itu berlalu dari kehidupan kita, yakni di saat kedua cinta berpadu dan menjadi satu. Sahabat…mari semangat menghadapi hidup yang indah ini, bergembiralah dengan anugerah dunia yang indah ini. Bersama anak-anak kecil saya merasa dekat dengan Allah, apalagi dengan kakek-nenek yang sudah renta, rasanya saya melihat surga dari wajah dan tatapan mata yang lugu mereka.
Sampai akhir nafas ini, saya takkan dapat melupakannya….. sayup-sayup mengalun merdu lagu “Sempurna” versi akustik dibawakan Gita Gutawa…
Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujamu
Di setiap langkahku ku kan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu ….
Sempurna
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayang ku kau begitu …. sempurna
Kau adalah hidupku lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu
Sayangku kau begitu….
Sempurna…..
Mungkin seumur hidupku adalah harapan akan keajaiban itu, tak apalah asal ada harapan, karena orang sudah cukup dapat sekadar bertahan hidup dengan harapan. Karena bukankah banyak orang yang dapat bertahan hidup walau dibohongi sekalipun, karena ia tidak tahu, dan justru kalau tahu mungkin ia tak dapat bertahan hidup. Oh hidup, oh cinta…
Jika saya sudah berniat untuk menuliskan soal cinta, maka saya menjadi tiba-tiba bodoh, dan tak dapat menulis dengan alur logika yang jelas, termasuk tulisan ini, karena semuanya dari hati, bukan akal budi. Karena cinta tak bisa dilogika, cinta hanya dapat dirasakan, dinikmati, dan diperjuangkan…. Semoga hidup ini pernuh dengan harapan akan adanya mujizat cinta itu.
Semoga yang terbaik yang akan terjadi….