Pilihan Strategi Perjuangan Idealisme

Maret 27, 2008

Semoga tulisan ini dibaca oleh temen-temen di komunitas embun pagi, terutama tuk Mas Fahmi.

Mas Fahmi, tiap orang memiliki idealisme sendiri-sendiri, yang ia pegang atau ia telantarkan dan memilih oportunisme, tapi saya yakin Mas Fahmi adalah termasuk yang memegang idealisme itu.

Memegang idealisme di kampus dan luar kampus pada dasarnya meniscayakan strategi implementasi, misalnya ketika berhadapan dengan birokrasi otoriter bisa dengan (1) secara radikal-frontal berhadap-hadapan, (2) menjadi minder, takut, dan kemudian menanggalkan idealismenya dan larut dalam rayuan manis birokrat kampus (iming-iming karier, kemudahan studi, dan lainnya asal tidak kritis pada birokrat), dan (3) strategi negoisasi dengan memanfaatkan bargaining position diri aktivis di depan birokrat (jika seorang aktivis sudah diperhitungkan bahwa dirinya “berbahaya” karena tulisan dan aktivitasnya oleh birokrat biasanya akan didekati untuk dirayu dan “dibungkam”), jadi tidak larut dalam air tapi berada di atasnya, bernegoisasi tanpa meninggalkan idealisme.

Strategi pertama, sangat berisiko DO klo tidak ada backing bantuan hukum dan jaringan yang kuat di luar. Strategi kedua, itu bukan strategi tapi kematian aktivis kampus, dan strategi ketiga bagi saya lebih relevan, tidak riskan, tapi tengah-tengah, tapi cukup sulit untuk dapat merumuskan strategi ini dan menjalankannya, karena aktivis bersangkutan mesti punya bargaining position di mata birokrat. Mencapai posisi dengan harga tawar tinggi di mata birokrat bukan dengan cara menjilat apalagi oportunis, mencari jalan aman untuk dirinya di kampus, tapi tetap mesti mengedepankan idealisme. Di tahap ini, klo jadi, Mas Fahmi akan di datangi birokrat, ditawari ini-itu, disuruh bungkam, dan lainnya, hingga mungkin goyah, menerima tawaran, atau justru meradang dan kian radikal, atau klo mau cerdik ya ambil strategi ketiga tadi.

Dari sinilah, dengan melampaui bahasan strategi perjuangan idealisme tersebut, mengkritik bisa mulai dari yang sangat absurd, dengan metafora, analogi-analogi, aforisma cinta, lewat puisi, sastra, cerpen, essay dan feature yang humanis dan menyentil, yang ilmiah penuh dengan data-fakta dan kekuatan referensi dan yuridis hukum yang kuat, sampai pada bentuk artikel yang provokatif. Itu adalah pilihan dengan konsekuensi masing-masing.

Pada akhirnya saya tidak menyuruh waton kritik, itu namanya bunuh diri Mas Fahmi, terlebih dengan tiadanya backing hukum dan jaringan yang kuat dengan elemen gerakan sosoal baru di luar sana. Saya sedikit banyak mulai belajar karakter Mas Taufik, Mas Luluk, Mas Hariez, Mas Yoghas, Mas Fahmi, dan lainnya, klo saya sich ndak ada apa-apanya sama semua yan telah saya sebutkan itu, hanya mungkin yang tepat dan sesuai karakter Mas Fahmi adalah yang soft aja, lebih estetis, mencayu-dayu, agak melankolis mungkin. Ada jenis tulisan yang namanya essay dan feature, saya berharap banyak Mas Fahmi bisa membuat tulisan yang lebih ringan, renyah, enak dinikmati, namun cukup memberi arti dan pemahaman bagi pembaca.

Feature juga bisa dari sudut pandang refleksi diri sebagaimana yang digunakan Mas Fahmi selama ini, karena feature lebih humanis dan menampilkan sisi-sisi riil kehidupan manusia seutuhnya, lebih “fenomenologik” dalam perspektif paradigma penelitian kontemporernya. Layak juga belajar dari gaya tulisan-tulisan Cak Nun, saya di Jakarta berburu buku-buku lawas Cak Nun seperti Kiai Sudrun Gugat, Slilit Sang Kiai, Markesot Berutur dan lainnya, itu potret intelektual Cak Nun dari muda sampai sekitar tahun 1990-an. Ada perkembangan tulisan dari yang ringan, menyentil, dengan imajinasi luar biasa dan guyonan-guyonan ala Cak Nun, dari yang etis-estetis, filosofis, ndagel, kompromistis dengan sutuasi kala itu, smapai yang berkecenderungan politik.

Itu klo Mas Fahmi mengandalkan wacana via tulisan di media publik, selain itu masih banyak lagi, dan saya tidak berpretensi untuk merasa lebih tahu akan karakter Mas Fahmi lebih dari yang Mas Fahmi sendiri ketahui. Orang “diam” itu lebih sukar ditebak dan ketahui kedalaman capaian intelektualnya daripada yang “ramai” suka berbicara, iya khan? Semua strategi intelektual adalah pilihan dengan konsekuensinya masing-masing, dan jalan intelektual sebagaimana dikatakan oleh dosen dan temen akrab saya Pak Nugroho (TP FIP Unnes) adalah jalan sunyi, bukan ingar bingar glamorisme yang dicari, tapi pengabdian pada kemanusiaan dan keilmuan bahkan ketuhanan. Saya sempet SMS-an sama beliau dulu semasa semester tengah-tengahan, beliau bertanya “Apa benar kamu akan berani hidup di jalan sunyi?”, saya jawab, “Kenapa tidak? Toh selama ini saya dalam arah menuju ke situ…rasa terkucilkan, terasingkan, tanpa teman, itu sudah hal biasa….dan pasti kita akan mendapatkan balasan dari semua yang kita perbuatan, kalau jalan sunyi itu adalah kebaikan, mesti sebagiamana sunnatullah maka Allah akan membalas kebaikan kita itu, bukankan dalam al-Quran dinyatakan bahwa sayap-sayap malaikat pembawa rahmat selalu memayungi orang-orang yang berada di jalan intelektual (thalabu al-’ilmi)”.

Bukankah Rumi pernah berkata, “Seandainya aku diberi tinta keilahian, maka kan kupatahkan pedang dengan kata-kata”, begitu tajamnya pena melebihi pedang, begitu awetnya tradisi teks sepanjang massa, bahan kita dapat membaca Republic karya Plato dan Codex Hammurabi di jaman serba metateks ini.

Eit…tapi jangan lupa masih ada seribu satu strategi perjuangan untuk menegakkan idealisme, dengan membangun dan menggerakkan komunitas kita ini misalnya, juga strategi, publish di media juga strategi, kaderisasi nonformal adik-adik kita juga strategi, semuanya adalah strategi, kita bisa ambil contoh The Art of War dari Tsun Zu itu klo ada yang punya (punyaku di pinjem gak balik hehe…).

Ali Syari’ati menyatakan, “Seseorang bisa belajar dan mempersiapkan revolusi dengan membuat revolusi, bukan dengan mendiskusikan revolusi” dan Antonio Gramsci menyatakan, “Semua manusia adalah intelektual, namun tidak semua manusia menjalankan fungsi intelektualnya dalam masyarakat”.

Selamat berjuang, klo gak awal april ya pertengahan ato akhir saya ke Semarang, ntar tak SMS aja…sudah kangen pengen diskusi hehehe….sampai pagi ya, jangan lupa Kan Mul bawa kopinya, sudah kangen sama kopi seduhan Kang Mul yang tiada duanya, bikin gak bisa tidur, Kang Gik jangan pernah tidak tertawa secara tidak ritmis yang merusak pakem tawa kebanyakan, karena itu keunikanmu hehehehe….

Salam, Edi Subkhan, peserta extension course of philosophy, STF Driyarkara, Jakarta


Hakikat Dakwah Sebenarnya

Maret 26, 2008

Dulu ketika saya di pesantren dulu mendapatkan cerita tentang kewalian Gus Miek (K.H Hamim Tohari Jazuli) Lirboyo (1940-1993), seorang yang diakui kewaliannya oleh Mbah Arwani, Kudus; KH. Dalhar, Watucongol; Mbah Hamid, Pasuruan; KH. Hamid, Kajoran, Magelang; Mbah Mangli, Magelang; Mbah Muslih, Mranggen; KH. Mansyur, Popongan, Klaten; dan banyak Kyai lainnya mengakui, semuanya menaruh hormat dan mengakui kewalian Gus Miek.

Tapi bagaimana jalan da’wah Gus Miek, beliau menempuh jalan sunyi untuk da’wahnya, beliau berpakaian preman dan masuk ke diskotik-diskotik, menggelandang di terminal-terminal, dan tidur di hotel-hotel, bahkan secara kasat mata ia terlihat minum-minuman keras dan main kartu bersama preman-preman pasar.

Komentar semua Kyai sepuh waktu itu ketika ditanya soal jalan da’wah itu mengatakan bahwa, Gus Miek adalah orang pilihan Allah untuk berda’wah dengan cara yang berat, yang Kyai lain tak mampu merambahnya. Beliau adalah wali sejak dilahirkan penuh dengan karamah untuk menempuh takdir jalan hidup sunyi. Dan semuanya wanti-wanti (memperingatkan) pada santri dan segenap pengikutnya waktu itu bahwa tak ada yang boleh meniru jalan da’wah Gus Miek yang nyeleneh ketika ia belum mencapai tingkat “ditunjuk” langsung oleh Allah dengan maqam keimanan tertentu. Dan Gus Miek sampai sekarang mewariskan jama’ah Dzikrul Ghafilin dan semaan Al-Quran jantiko mantab bagi kita semua.

Jadi levelnya beda, kemampuannya berbeda, yang sudah mencapai titik kemampuan tertentu ia dapat melebur dan bahkan berani mendekat pada sasaran da’wah sesungguhnya. Apa susahnya menjadi Islami di pesantren, apa susahnya berda’wah di masjid dan majlis ta’lim, tapi jelas begitu beratnya berda’wah pada sasaran da’wah sesungguhnya, yakni orang yang belum Islami, begitu beratnya menjadi Islami di alam kebebasan.

Sekali-kali saya ingin menantang mereka yang dengan garang memberi ceramah tentang etika Islami di podium untuk turun “melantai ” di Astro cafe atau ke lokalisasi Sunan Kuning dan berda’wah di sana (dengan catatan tanpa kekerasan loh), kuat gak kira-kira? Karena da’wah seperti itu butuh konsistensi (istiqamah). Lama waktunya, mahal harganya, tinggi derajatnya dibandingkan yang berda’wah di komunitas orang yang sudah saleh, buat apa? (ini sekadar retorik loh). Bukankah yang paling sulit da’wah pada orang yang belum Islami dan hal itu mesti istiqamah?

Hal yang sama pada proses Islamisasi lainnya, lihat isinya, jangan terbuai kulitnya. Kacang yang dimakan isinya, bukan kulitnya. Tapi kacang tanpa kulit tak bisa tumbuh berisi dan enak dinikmati.

Kualitas seseorang itu dapat dilihat dari tempat di mana ia berada, tingkatan keimanan seseorang terlihat tak hanya dari tempat di mana ia berda’wah tapi juga keberanian ia terjun di sasaran da’wah yang mana. Bagi Cak Nun da’wah terbaik adalah dengan perilaku keteladanan, bahkan beliau berani turun selevel dan lebih rendah lagi untuk menyamai derajat mulia rakyat jelata, yang di mata dan senyum tulus mereka terdapat lelehan mata air dan keindahan surgawi. Sebagaimana saya akhir-akhir ini justru mendapatkan kedamaian hati ketika melihat kelucuan tingkah balita dan anak-anak kecil, kesahajaan wajah kakek-nenek yang sudah keriput, kesederhanaan hidup dan keuletan pedagang kaki lima, pada wajah mereka semua seakan saya melihat cahaya surga.

Pemimpin dan penda’wah sejati tidak sok berda’wah, ia tidak berteriak-teriak menghujat sana sini dan membenarkan jalannya sendiri, karena dengan begitu ia ibarat menutup pintu kebenaran yang bisa datang dari mana saja. Ketika ia menutup pintu itu, maka ia berbalik membelakangi cahaya kebenaran Tuhan yang bisa berasal dari mana saja, dari anak-anak yatim, pertaubatan preman kampung, bahkan dari ketulusan pelacur memberi minum seekor anjing sekalipun.

Jadi, sekali lagi levelnya belum pada mukasyafah membuka hijab rahasia segala rahasia sejati, menjawab yang tak terjawab, yang menjadi inspirasi kebaikan dengan teladan, bukan afirmasi yang disertai ancaman neraka dan kafir. Sekarang mari kita renungkan kita ini siapa, di level mana, dan akan kita temukan betapa diri kita tak lebih dari siapapun di dunia ini, kata Cak Nun. Wallahu a’lam bishshawab.