emboh

Januari 26, 2008

Waktu,,,,,,

demi waktu yang merenggut umurku, huruf demi huruf, bait demi bait,

dan demi malam yang dingin berubah jubah,

diantara lampu-lampu neon yang merampas keheningan itu,

maka kemana lagi kan kau tambatkan sepi ini Duh istriku,

jika aku tidak lagi seperti yang dulu dimana cinta memuja kita,

yaitu saat air melumuri seluruh tubuh ini tanpa kepentingan, tanpa selimut yang menutup ketelanjangan hati kita, hingga hatiku dan hatimu tertidur bersama ilalang yang tumbuh dibawah gedung-gedung megah itu,sampai sore mesra menjemput umurmu,

Ahh,, bagaimana kau akan mengenangnya istriku…

Dan Kembali,

Aku ingin kembali dimana wadal ini pernah digambar luka sejarah desa,

Bersama ribuan kotoran yang tercecer dalam setiap jengkal tanah ,

hingga kehidupan berjalan apa adanya,

tidak ada sekat yang menutup persetubuhan hati ini,

selain ketulusan dan ketulusan dan ketulusan untuk hidup bersama,

untuk hidup sebagaimana awalnya kehidupan ini telah menghidupkan kita,

Aku ingin kembali hidup apa adanya, apa adanya, laiknya syair yang aku tulis dari cintaku pada siapa saja,,,,

Bagaimana kau akan mengenangnya Duh istriku,

Jika langit sudah terbungkus bau anyir darah,

Bumi tergeletak dikotak sampah,,

Agama, kapitalisme, sosialisme, modernisme, dan lain-lain penyakit itu telah

Mewujud sebagai kreasi penghancur keadilan, kemanusiaan, pun ketulusan itu??

Ah,,Bagaimana kau akan mengenangnya…

Jika raut muka ini layaknya sesaji, bau menyan yang menghadirkan mimpi-mimpi, sementara orang-orang terpaku dalam kebodohannya, hingga kejujuran tinggallah harapan kosong, kemanusiaan tertambat di ujung langit, kelaparran menjadi anekdot perwakilan rakyat dan ketuhanan sekedar basa-basi kebijaksanaan.

Lihatlah anak-anakmu istriku,,,

hutan menangis dalam galau kemanusiaan, naluri tinggal disepertiga malam yang terkutuk, air mata tercecer disudut-sudut kota, sementara diatas sana hujan kata menindih kepala, orang-orang terbangun menjadi mayit karena desa tidak lain hanyalah selilit, selilit, selilit, dan selilit……..

bencana tidak ubahnya kebudayaan negeri para pendosa, yang dibingkai dalam kardus-kardus dongeng dan carut marut kepentingan……..istriku,,,

dengan apa kau akan mengenang sejarah ini,

jika kertas dan tinta saja kau tidak akan mampu membeli??

Ohh….Duh Gusti, Sang Hyang Manon,,punjering bumi…….

aku sekedar bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, bertanya, bertanya dan bertanya……

Tirta rahayu bumi ing ati, bumi yang tertindas dalam makam kebiadaban dan kutukan yang terkutuk…

Maaf, Embun pagi muncul disekujur tubuhku maka perkenankan aku segera menuntaskan rokokku…..

Duh , Sarjana Muda

Cahaya yang terbit di ufuk timur,

Bermain dengan embun pukul enam, menggigil, ngantuk dan laen-laeen

Bersimpuh dibangku penyeragaman pikiran-pikiran

Tergopoh-gopoh dirimu, menjinjing segenggam senyum orang tuamu

Didalam apeknya tas yang tak pernah kau cuci,apalagi baru……

Pula Deretan keinginan yang terbit sebelum fajar menunjukkanmu pada dunia,

Pada kemanusiaan, pada keadilan,pada tanggung jawab, pada kebermaknaan dan pada pada-Nya

Cahaya yang terbit diufuk timur,

Masyuk Berceloteh dengan suara burung

Yang mengajarkanmu tentang keindahan cinta, sebentuk hidup itu,,

Tentang kearifan dari segala kearifan, tentang kesombongan para bijaksana,

bahkan tentang kematian kesadaran,

Tentang kebohongan, tentang keculasan, tentang kegilaan orang-orang waras

Tentang segala-galanya, sampai dirimu tak mengerti apa-apa

Sampai dirimu memahami bahwa siang yang panas itu berhak untuk menjadi dingin

Sampai dirimu menyadari kehadiranmu, existensimu, kepergianmu adalah fatamorgana

Ingatlah bahwa Kita tidak sedang hidup, melainkan hanya memainkan scenario drama

Kita hanya diperkenankan melakukan improvisasi dari peran-peran kita…………………

O, cahaya yang terbit dari ufuk timur

Lihatlah waktu harus menyelesaikan waktumu

Dan kau harus bergegas pergi, pergi, pergi dan pergi,,

Kemana aku sendiri tidak tahu

Sampai mana aku sendiri tidak tahu

Dengan siapa aku sendiri tidak tahu

Untuk siapa aku juga tidak tahu

Dengan apa aku juga apalagi tidak tahu

Yang aku tahu, aku harus menghadapi kegelapan dari segala kegelapan

Serangkaian Tipuan lampu-lampu malam,,,,,, itu saja

Cahaya yang terbit di ufuk timur,

Aku tidak mengerti apa-apa, tidak memahami apa-apa, tidak menyadari apa-apa

Aku hanya seonggok daging yang diberi batas gelar, dan sanjungan akademis

Tidak lebih dari itu, tidak lebih dari itu

Orang-orang didalam gedung itu hanya menyulapku menjadi sore,

Sedangkan aku sendiri tidak pernah mengerti tentang waktu,

Mereka hanya menyulapku, menyulapku, menyulapku dan menyulapku……..

Semoga Tuhan mengampuni semuanya

Semoga Tuhan menyadarkan semuanya

Semoga Tuhan memahamkan semuanya

Dan semoga ini memang benar-benar kehendak-Nya

Bahwa saya sekarang adalah sarjana muda……


"Hijrah" dan "Dian" dan Jakarta

Januari 25, 2008

Hari-hari ini (awal januari) kita sebagai muslim memeringati tahun baru Islam, yakni tahun baru hijriyah. Tahun baru itu tak dimulai dari fathul makkah sebagai simbol kemenangan, tapi dimulai dari hijrah nabi ke Yatsrib, sebagai simbol perubahan ke arah yang lebih baik, perpindahan “min al-dhulumat ila al-nuur”, dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, semoga!

Dan entah saya ternyata baru sadar ketika tadi saya mengikuti sholat Jumat di masjid al-rahmah Rawajati barat, pancoran, Jakarta, yang menyinggung soal itu…ya Allah, saya hari ini telah “hijrah” walau mungkin baru sebatas dan sekadar dalam ruang dan waktu ke Jakarta.Sobat semuanya, Bapak Agus Wahyudin, Pak Ali Formen, Mas Hariez Psy FIP, Kang Yoghas FBS, Kang Azil yang sudah lulus sama2 saya kemarin, dan semuanya, saya “hijrah” -yang masih saya tempatkan di antara dua tanda petik untuk tetap mempertanyakan “hijrah” saya ke jakarta ini betul-betul Hijrah (dengan “H” besar) atau sekadar “hijrah” (itu pun dengan “h” kecil.

Tak tahulah saya, tapi hati nurani tetap berupaya meniatkan hidup saya bukanlah sekadar untuk saya, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama, kata al-hadits. Maka, apapun yang saya lakukan mesti untuk itu, dan tentu mengharap kerelaan Dzat yang menciptakan aku dan kehidupan ini….Bukannya apa-apa, apalagi biar dikatakan sok, atau apalah…tapi biar ketika ada beberapa teman di milis ini yang ingin diskusi via tatap muka, ya mesti tak kecewa karena sudah saya kasih tahu dulu saya di Jakarta gitu.

Saya di sini, sebenarnya sama-sama Mas Taufiqurrahman (mantan ketua BEM FBS) juga ke jakarta, tapi tempatnya berbeda, dia di Ciledug kayaknya. Klo mas taufiq begitu menggebu pengen ke jakarta setelah baca novel Andrea Hirata, Laskar pelangi, sang pemimpi, dan Edensor…. Dan setelah baca itu lalu SMS saya, “Mas swear, saya serius mau ke jakarta!!!” (tanda serunya sampai tiga loh…). Dan saya pun mengiyakan adik saya itu dengan penuh harapan kesuksesan tentunya…

Beberapa hari sebelum acara pelepasan dengan “perjamuan terakhir” di kost saya sma temen-temen aktivis dan mantn aktivis Unnes, saya sempetkan sama temen-temen mengenang Semarang, keliling Simpang lima, di kucingan, cari wedang ronde, dan saling mengejek….ada yang ngomong, “neng jakarta arep adol kacang po….”… ya itulah guyonan khas “kawan bergelut”, Giyanto, mahasiswa Geografi semester tua, yang enjoy jadi Entrepreneurship sekarang.

Saya katakan, “Lha yang udah baca edensor aja kok pesimis, lha saya yang belum baca aja optomis,,,piye tho??”. Pertemuan terakhir dengan Cak Nun di gambang syafa’at di baiturrahman, kebetulan di situ ketemu Pak Saratri FIK, Pak Edi PSy FIP, dan Pak Ilyas PLS FIP, serasa menjadi nasehat yang menyentuh kalbu ini…Cak semoga kita ketemu lagi di Kenduri Cinta, jakarta ya. Di “perjamuan terakhir” di kost saya, betul-betul berharap intelektualisme mahasiswa di tangan para aktivis Unnes dapat kian berkembang, dan saya yang bersama teman-teman lain mulai merintis di luar garis demarkasi intelektual yang “direstui” walau di tempat jauh ini tetap akan berupaya membantu semampu saya.

Ya, Unnes dengan seribu kenangan, pahit manis, baik buruk, semuanya sangat berharga buat perjalanan hidup saya pribadi. Dan akhirnya, “jalan sunyi” itu mesti saya tempuh juga akhirnya, ya jalan intelektual, berani “melepaskan” yang sebagian orang saya dianggap di Semarang sudah mapan dengan banyak Jaringan(???).

Tapi sebenarnya saya tidak melepaskan Semarang, Semarang tetap di hati kok he… Mencoba belajar dari orang-orang besar di negeri ini, semoga saya mendapatkan manfaat dan berkah ilmuanya, dan semoga keberadaan kehidupan saya dan diri saya bermanfaat untuk semuanya kelak…OK!

Saya sempat menimang-nimang Djogja atau jakarta, tuk pengembangan intelektual lebih lanjut saya…rasanya Semarang terlalu -maaf- “kering”, dan klo dipaksakan di Semarang, dan saya ingin mendapatkan lebih maka saya mesti betul-betul kerja keras, keras sekali… Sedikit komunitas intelektual yang dapat memuaskan dahaga ini. Di Djogja memang penerbitanny lebih produktif daripada Jakarta, tapi Jakarta lebih dinamis pergolakan pemikirannya, itu nasehat Pak Isma’il Fachri, M.Ag ketika saya ke rumah beliau kemarin….ya…dan saya percaya betul taqdir Allah menuntun saya ke jakarta.

Karena pada pagi setelah sembahyang Idul Qurban, saya dapat SMS dari salah satu tokoh yang beberapa kali sering saya kutip pernyataan beliau dalam artikel saya, bahwa beliau membutuhkan asisten pribadi…ya, jalan kehidupan itu memang tak dapat di sangka.Saya percaya di sini (Jakarta) Allah telah memersiapkan skenario kehidupan yang luar biasa bagi saya, dan semoga segenap hati, pikiran,dan tingkah saya tetap berada pada jalan yang diridloi oleh Allah semata. Saya datang di Jakarta disambut hujan, dingin sekali, tapat jam 04.00 malam di Senen, sendirian, tanpa teman….kesan pertama (walau pernah beberapa kali ke jakarta sebelumnya) adalah “Kota yang hilang….dan iya..iya..iya…”.

Don’t worry, saya tetap akan jadi pengikut setia milis Unnes, blog embun pagi, dan semuanya, apa sih yang tidak buat Unnes? Kapanpun membutuhkan bantuan saya (bukannya sok bisa dan sok dibutuhkan ne…) insya Allah kalau saya mampu, saya akan bantu. Unnes adalah alamamater saya kan…Tuk Pak Ali, agenda yang dulu pernah jenengan omongkan soal penerbitan dan lainnya tidak berarti terputus tanpa saya di Semarang kan?

Saya tetap bisa ulang-alik Jakarta-Semarang (dn Djogja klo perlu)….saya masih memimpikan itu Pak. Dan sepertinya saya pun takkan menetap di jakarta, banjir pak, polusinya itu loh….. Oh, iya kemarin saya sempat buat kisi-kisi jurnal ilmiah populer (selain jurnal Edukasi FIP Unnes), saya diminti tolong Pak Amin tuk konsep jurnal pendidikan ilmiah populer, bukan yang ilmiah akademik orientsi akreditasi itu loh.. yang saya buat kisi-kisinya akan profit, dan “profesional” kayaknya. Semoga ya, Bapak ditunggu di keredaksiannya….

Edi Subkhan, penulis di Jakarta.