Sulitnya Menjadikan Siswa dari Desa Lebih Kritis

April 22, 2007

Oleh Edi Subkhan

Siswa itu menjadi kian nakal sejadi-jadinya sejak seorang guru baru
di sekolah dasar desa terpencil di Jawa Tengah tersebut mencoba
menerapkan pembelajaran yang student centered, berpusat pada siswa.
Orangtua tak mau ambil pusing dan sebagaimana biasanya, akhirnya
menyalahkan guru hingga dikatakan sebagai guru tak mampu mendidik.
Dan guru pun bingung, “Apa salah saya?”

Ilustrasi tersebut hanya satu penggalan kisah betapa telah terjadi
gap yang luar biasa besarnya antara konsep pembelajaran yang
dianjurkan oleh pemerintah dengan kenyataan yang ada. Benar bahwa
paradigma pembelajaran yang sekarang diacu adalah berpusat pada
siswa, artinya guru “hanya” sebagai motivator-sekadar catatan, ini
adalah bias dari ideologi liberalisme pendidikan yang menjadi ruh
sistem pendidikan kita (Mansour Fakih, 2002; Darmaningtyas, 2005),
terbukti dengan diambilnya pragmatisme sebagai landasan filsafat KBK
( Kurikulum Berbasis Kompetensi ). Akan tetapi, guru bukan dewa yang
tak pernah salah, bukan pula jenius yang serba bisa.

Oleh karena itu, guru baru yang begitu menggebu tetapi minim
pengalaman dan pembacaan ideologisnya sangat semangat sekali
menerapkan student centered ini. Tanpa terlebih dahulu melakukan
analisis sosial-budaya masyarakat setempat-karena memang biasanya di
perguruan tinggi tempat ia menimba ilmu kependidikan tak diberikan
mata kuliah analisis sosial-budaya, apalagi analisis filsafat dan
ideologi pendidikan-ia akhirnya menerapkan konsep student centered
apa adanya.

Ia lupa bahwa masyarakat desa di Indonesia, terlebih di Jawa,
bukanlah masyarakat yang berkarakter dan berbudaya liberal
sebagaimana dimaksudkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey
(1859-1852) sebagai pencetus liberalisme-pragmatisme pendidikan.

Di Amerika, sebagai biangnya liberalisme, masyarakatnya dapat menjadi
liberal secara bertanggung jawab. Liberalisme pendidikan yang menjadi
ruh pendidikan Amerika memang bertujuan agar dapat menggali potensi
siswa, ini artinya siswa harus kritis, aktif, kreatif, dan berani. Di
negeri maju yang telah mencapai kemajuan teknologi informasi
tersebut, wajar bila anak-anak di sana kritis, kompetitif, dan
mempunyai need for achievement tinggi.

Berbeda dengan anak-anak desa kita. Karakter dan budaya desa sekarang
sama sekali tidak mendukung siswa untuk menjadi. Padahal, student
centered adalah mekanisme agar siswa dapat menggali potensi dirinya
sendiri dan guru adalah sebagai pemandu (O’neill, 2002). Ketika siswa
tidak kritis, maka konsep student centered tak mungkin bisa berjalan.

Di daerah pedesaan, terlebih di Jawa yang dikenal kukuh memegang
tradisi budaya Jawanya, tak ada kata “kritis”, apalagi “liberal”
dalam primbonnya.

Sulit memang mengharapkan siswa berpikir kritis atas pelajaran yang
diberikan karena mereka tak berani bertanya, apalagi menyangkal.

Karena dogma yang mereka warisi dari para “generasi tua” adalah guru
serba bisa dan yang paling pintar di sekolah.

Maka, bertanya seolah menjadi-meminjam istilahnya Neil Postman (1979)-
aktivitas subversif yang tabu dilakukan. Dan bagaimana siswa dapat
menyangkal, tak hanya karena dogma tentang posisi terhormat guru
dalam paradigma konservatif yang seakan selalu benar, tetapi minimnya
akses informasi terkini mengenai perkembangan ilmu pengetahuan
menjadikan mereka buta informasi dan selamanya tak akan dapat lebih
tahu dari guru.

Satu fenomena yang justru berlawanan dengan konsep “ketundukan
dogmatis” adalah semakin anak”di desa”diberi kebebasan yang maksudnya
dalam konsep student centered agar dapat mengaktualisasikan potensi
dirinya, maka semakin ia jadi nakal. Ini terjadi pada siswa yang
memang cenderung nakal. Dan jika dilihat secara psikologis, ia
sebenarnya hanya sedang cari perhatian saja dari orangtua, guru, dan
masyarakat. Ironisnya, sering kali lingkungan masyarakat desa dan
keluarga sendiri bersikap acuh tak acuh pada anak ini.

Hal ini lagi-lagi karena masyarakat sudah mempunyai anggapan bahwa
anak nakal ya harus dihukum agar kapok. Dan hukuman ini ternyata tak
menyelesaikan masalah, tetapi justru menjadikan dendam.

Kali ini sekolah harus introspeksi diri, mengapa siswa menganggap
sekolah dunia terpisah dari kehidupan kesehariannya yang
lebih “real”, apakah sekolah yang tak bisa melebur dalam komunitas
masyarakat setempat, jika ya maka ini harus dibenahi.

Pendidikan kita memang jarang didekati dari perspektif atau disiplin
ilmu lain, termasuk sosial-budaya, filsafat, dan bahkan ideologi,
hingga akhirnya jadi gagap ketika berhadapan dengan realita yang tak
selalu sama dengan konsep acuan.

Akhirnya, liberalisme pendidikan memang tak cocok bagi anak-anak di
desa. Kritisisme mereka tak akan tumbuh dari liberalisme via student
centered yang dipaksakan di depan, kritisisme mereka hanya dapat
tumbuh karena kesadaran-sebagaimana kata Paulo Freire (1921- 19997).

Hal tersebut harus tumbuh dari lokalitas sosial-budaya mereka sendiri
dan ini adalah kerja-kerja kultural yang memerlukan kejelian,
kecerdasan, dan pengorbanan dari guru-guru di desa, mampukah?